Amar Maiyah

Kun madhluman wa la takun dhaliman

Tidak hanya polarisasi Pilpres dan konfrontasi Pilpres. Soal apa saja dalam bermasyarakat, bernegara, berkebudayaan dan berperadaban—dalam Maiyahan di Purworejo beberapa hari yll disimpulkan bahwa dikotomi pertentangan utama dalam kehidupan manusia adalah antara pihak yang Dhalim dengan yang Madhlum. Yang menganiaya, menipu, menindas dan mencurangi, dengan korbannya.

Pemetaannya sangat ruwet, dengan variasi mapping yang hampir tak terhingga. Ilmu dan pandangan manusia hanya bisa menangkap garis-garis besarnya. Dhalim-madhlum tidak sekadar penguasa dengan rakyat. Tidak hanya kanan dengan kiri, atas dengan bawah, atau pemetaan apapun dan sekecil selembut apapun. Bahkan dalam satu kelompok selalu ada dhalim-madhlumnya. Di satu kantor, di satu lingkaran, di satu keluarga, bahkan pada diri individu setiap manusia, ada dhalim-madhlumnya.

Maiyah sangat melindungi hati dan pikiran manusia dari informasi dan sikap yang bisa menyiksa mereka. Padahal pada saat yang sama Maiyah menganjurkan, mendidikkan dan melatihkan kedaulatan pada setiap pribadi. Membukakan pintu ilmu dan strategi pemahaman yang diperlukan untuk mampu berdaulat. Maka selama menjelang Pilpres, Maiyah sangat menahan diri untuk tidak menyebut “siapa” yang dipilihnya atau disarankan untuk menjadi pilihan masyarakatnya. Dengan maksud agar setiap individu mengambil keputusan dengan kedaulatannya masing-masing.

Akan tetapi ketika peta keadaan menggumpal secara terang-benderang dan ekstrem darurat seperti laut yang terbelah antara Dhalimun dan Madhlumin, maka Maiyah sudah pasti tidak berani melanggar ketentuan Allah untuk tidak meletakkan diri pada Kaum Madhlumin. Meskipun tidak boleh dilupakan bahwa di antara golongan Dhalimun, mayoritas pesertanya adalah juga Madhlumin.

Oleh karena itu Masyarakat Maiyah berhimpun di lingkaran masing-masing, atau sendiri-sendiri, memohon kepada Allah agar menurunkan ketetapan tindakan nyata kepada Kaum Dhalimun dan menyelamatkan para Madhlumin. Siapapun pelaku kedhaliman itu.

Dilakukan minimal sekali sebelum akhir April dan awal Mei 2019, syukur diulang sejumlah kali pada 1-2 minggu berikutnya. Dengan mengalfatihahi Rasulullah Saw dan semua jalur pelaku hikmah, kemudian Shalawat Nabi, berikutnya semua Jamaah Maiyah mewiridkan “La ilaha illallah Muhammadur-Rasulullah” sepanjang pembacaan Doa Tahlukah dan Hizib Nashr oleh seorang atau beberapa bergantian. Diakhiri dengan Ayat Kursi dengan “wala ya`uduhu hifdhuhuma” diulang 9 kali dan doa Ikhtitam.

Mbah Nun
23 April 2019


Doa Tahlukah dan Hizib Nashr bisa diunduh di sini:
Doa Tahlukah: https://bit.ly/2ItRQi0
Hizib Nashr: https://bit.ly/2Va2XTr

Buku Cak Nun