Liqo`un ‘Adhim di Pesantren Anak Jalanan At-Tamur

Catatan Syukuran 3 Tahun Jamparing Asih

Ketika berjauhan, begitu banyak hal yang ingin diungkapkan. Tetapi ketika bertemu, justru tak bisa berkata-kata. Itulah gambaran suasana yang tampak sore tadi di Pendopo Pesantren Anak Jalanan At-Tamur, Cibiru, Bandung. Teman-teman Jamparing Asih saking bahagianya, sehingga ketika Mbah Nun mempersilakan mereka untuk bertanya atau sekadar mengungkapkan sesuatu, mereka tampak gugup dan bingung hendak berkata apa.

Mbah Nun pun berseloroh, bahwa memang orang yang memiliki kerinduan untuk bertatap muka, begitu sulit berkata-kata ketika benar-benar bertemu secara nyata. Suasana pun menjadi cair. Sehingga kemudian satu per satu jamaah mulai berani bertanya kepada Mbah Nun atau menyampaikan beberapa hal untuk menyapa Mbah Nun.

Dalam 2 tahun terakhir, teman-teman Jamparing Asih menyelenggarakan Maiyahan di Pendopo Pesantren Anak Jalanan At-Tamur ini. Silaturahmi mereka terjalin dengan baik, maka pertemuan sore ini pun sangat membahagiakan bagi semua yang hadir.

Lebih spesial lagi, bulan ini bertepatan dengan 3 tahun perjalanan Jamparing Asih. Pertemuan sore tadi pun menjadi momen “perayaan” untuk mensyukuri 3 tahun Jamparing Asih. Di tengah-tengah berlangsungnya forum, Syeikh Kamba bergabung di forum ini.

Ust. Syamsoedin, pengasuh Pondok Pesantren At Tamur ini sangat bersyukur karena Mbah Nun akhirnya menginjakkan kaki di Pondok Pesantren asuhannya ini. Ia menyambut hadirnya Mbah Nun dengan roman wajah yang sangat bahagia, sebuah momen yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidupnya.

Ada salah satu jamaah yang secara langsung memohon doa restu kepada Mbah Nun yang hendak menikah tahun depan, namun menghadapi kebimbangan. Ia merasa belum pantas untuk menikah, karena menurutnya saat ini saja dia belum beres mengurusi dirinya sendiri, sehingga ada sedikit keraguan untuk menikah, karena otomatis dengan menikah ia akan mengurusi anak orang, belum lagi jika nanti sudah mempunyai anak, persoalan yang dihadapi akan semakin kompleks.

Dalam setiap Sinau Bareng, Mbah Nun selalu memposisikan diri sebagai orang tua. Begitu juga sore ini ketika merespons beberapa pertanyaan dari jamaah, seperti pertanyaan tentang keraguan untuk menikah tadi. Mbah Nun mengingatkan bahwa posisi menikah di dalam Islam itu adalah dalam rangka mewujudkan keseimbangan peradaban. Maka Rasulullah Saw pun menyampaikan bahwa menikah merupakan salah satu sunnah. An-nikaahu sunnatii faman roghiba ‘an sunnatii falaisa minnii.

Mbah Nun menekankan, menikah adalah salah satu ibadah dalam Islam. Dalam kaitannya dengan ibadah, Mbah Nun menerangkan bahwa memang Allah men-set up ritual ibadah itu dalam kadar yang sebenarnya tidak disukai oleh kita. Kita saja yang tidak mau mengakui bahwa kita sebenarnya tidak menyukai ibadah yang diwajibkan oleh Allah.

Namun demikian, ada sikap ikhlas dalam diri kita yang kemudian mampu membuat kita mau melaksanakan sesuatu hal yang tidak kita sukai, namun karena kita ikhlas melakukan hal itu atas dasar kecintaan kita kepada Allah, maka ibadah yang kita lakukan itu bernilai sangat mulia.

Ada jamaah yang mengungkapkan, bahwa dia sangat ragu dengan jargon “NKRI harga mati” yang sering terdengar akhir-akhir ini. Rasa-rasanya kok tidak 100% serius. Mbah Nun dengan arif menjelaskan bahwa kita harus meneliti dengan detail, apakah jargon “NKRI harga mati” yang sering terdengar akhir-akhir ini jangan-jangan memang hanya untuk kepentingan sesaat yang sifatnya politis semata.

Maka Mbah Nun pun mentadabburi salah satu pesan Allah dalam Al Qur’an, faman kaana yarju’ liqoo’a robbihi fal-ya’mal ‘amalan shoolihaan. Dijelaskan oleh Mbah Nun, bahwa hidup kita di dunia ini hanya sementara, ibaratnya dalam sebuah turnamen, hidup kita ini belum sampai babak final, bahkan mungkin masih babak penyisihan. Maka, sesuai ayat yang disebutkan tadi, lebih baik kita fokus berbuat baik kepada sesama makhluk Allah di dunia ini, dan jangan terjebak pada jargon-jargon yang diteriakkan itu.

Selain itu, Mbah Nun mengingatkan lagi bahwa untuk menyampaikan sebuah kebenaran, klausul pertama yang menjadi pijakan kita adalah bil-hikmah, dengan kebijaksanaan. Allah sudah menyiapkan konsep paling arif, ud’u ilaa sabiili robbika bil-hikmah, bukan bil-haq.

Ketika hendak menyampaikan sebuah kebenaran kepada orang yang belum kita kenal sama sekali, maka sampaikanlah dengan kebijaksanaan. Baru kemudian ketika sudah mengenal orang yang hendak kita sampaikan informasi tentang kebenaran itu, bisa kita gunakan klausul wa tawasshou bil-haq dan watawasshou bis-shobri.

Sama halnya ketika berteman dengan orang lain, ketika baru pertama kali kita berkenalan, tentu tidak mungkin kita seenaknya saja berbuat sesuka hati kita, ada unggah-ungguh agar kita berlaku sopan dalam hubungan silaturahmi kita dengan orang itu. Bahkan untuk sekadar meminta rokok saja kepada orang yang belum kita kenal sama sekali saja tidak etis, apalagi untuk menasihatinya.

Pertemuan sore tadi ditutup dengan prosesi potong tumpeng, yang kemudian secara simbolis diserahkan kepada Mbah Nun dan Syeikh Nursamad Kamba. Kebahagiaan Sinau Bareng sore tadi dipungkasi dengan berfoto bersama. Selamat ulang tahun ke-3 buat Jamparing Asih! (Fahmi Agustian)