Dialektika “Ngarep Mburi”: Menemukan Keseimbangan Menatap Masa Depan

Catatan Sinau Bareng CNKK di SMA S Majapahit 1, Sabtu 3 Agustus 2019 (Bagian 1)

Sabtu, 3 Agustus 2019, berlokasi di halaman Pondok Pesantren Segoro Agung Sentonorejo Trowulan Mojokerto, digelar Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka tasyakuran SMA S Majapahit 1.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur`an dan dilanjutkan penampilan tari Bedayan Sekar Kedaton oleh siswi putri SMA S Majapahit 1. Bedayan adalah penari putri istana. Tari Banjar Kemuning menjadi penampilan berikutnya.

Ketika dua penampilan tari digelar, halaman Ponpes Segoro Agung sudah dipadati jamaah. Sejak menjelang maghrib mereka berdatangan ke lokasi Sinau Bareng digelar.

Paduan Suara SMA S Majapahit 1 menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama jamaah. Dilanjutkan lagu Tanah Airku dan Yalal Wathon. Sembari menunggu kehadiran Mbah Nun, shalawat Al-Banjari mengisi acara selanjutnya.

Pukul 20.00 WIB Mbah Nun rawuh memasuki pendopo Ponpes Segoro Agung. KH Bimo Agus Sunarno, pendiri yayasan dan pengasuh Ponpes Segoro Agung dan beberapa tamu undangan menyambut kedatangan Mbah Nun.

Tidak lama berselang, bapak H. Pungkasiadi, SH, Wakil Bupati Mojokerto hadir di pendopo. Berjabat erat dengan Mbah Nun.

Pukul 21.00 WIB Mbah Nun naik ke panggung. Shalawat Nabi mengiringi langkah Mbah Nun dari pendopo menuju panggung. Jamaah cukup padat. Teman-teman panitia menyibak kerumunan jamaah untuk memberi jalan kepada Mbah Nun.

Surat Al-Hasyr ayat 18-20 dibaca Mbah Nun sebagai pintu pembuka. Tiga poin yang ditekankan Mbah Nun adalah kesadaran terhadap masa depan; terminologi fasik; perbedaan penghuni neraka dan surga.

Kesadaran menatap masa depan dijalani dengan dialektika ngarep-mburi. Menatap masa depan sambil melacak masa lalu. Merancang kehidupan yang akan datang sembari memahami kehidupan yang telah lampau.

Menyinggung terminologi fasik, Mbah Nun berpesan jangan melupakan Allah. “Ingat kepada Allah tidak memerlukan syarat apapun,” ujar Mbah Nun. “Pokoke eling ngunu ae dalam keadaan apa saja.”

Kerangka dan bangunan berpikir dibangun pelan-pelan. Untuk melengkapinya, Mbah Nun menawarkan dua paradigma. Pertama, apa watak utama dirimu? Kalau menggunakan unsur dasar alam semesta, kamu itu air, api, tanah ataukah udara? Demikian pertanyaan Mbah Nun kepada jamaah.

Kedua, ayo sinau sinau. Apa maksudnya? Ayo nyinauni sinau. Kalau kita adalah api, apa yang wajib kita pelajari? “Jadi siapa yang menentukan sebaiknya kita belajar dan memelajari apa? Guru, dosen, atau kita sendiri?” tanya Mbah Nun.

Demikian tawaran paradigma dan sudut pandang dalam Sinau Bareng di Ponpes Segoro Ageng. Selanjutnya, kita akan mengikuti workshop sinau-sinau. Tiga kelompok dari tiga level usia sudah siap di panggung.[]

Buku Cak Nun