Sinau Bareng Refleksi Gempa Bantul

“Masih lekat dalam ingatan bagi warga Bantul akan peristiwa gempa 2006 itu. Bukan bikin lemah, tapi menjadi tempaan batin, serta menyadarkan bahwa kita akan lemah jika sendiri-sendiri, dan akan kuat jika mau bergandeng tangan dan bekerja sama,” antar Pak Bupati Suharsono mengawali Sinau Bareng malam ini.
“Masih lekat dalam ingatan bagi warga Bantul akan peristiwa gempa 2006 itu. Bukan bikin lemah, tapi menjadi tempaan batin, serta menyadarkan bahwa kita akan lemah jika sendiri-sendiri, dan akan kuat jika mau bergandeng tangan dan bekerja sama,” antar Pak Bupati Suharsono mengawali Sinau Bareng malam ini.

Lapangan Taman Paseban Bantul. Wajah-wajah Saudara amat banyak. Penuh. Luasan lapangan yang saban hari dihiasi oleh aktivitas pedagang kecil, penjaja-sewa becak hias, dan bertemunya orang-orang, malam ini dipadati warga masyarakat Bantul.

Sebelas tahun silam, 2006. Bumi Bantul dikejutkan oleh gempa cukup dahsyat. Rumah-rumah ambruk. Harta-harta tak sedikit ludes. Jiwa-jiwa dipanggil menghadap-Nya. Seluruh mata dunia lalu mengarahkan pandangan ke Bantul dan sekitar. Gelombang empati mengalir.

Malam ini BNPB Bantul mengajak masyarakat untuk melakukan refleksi bersama mengenang dan menghikmahi peristiwa Gempa Bantul 2006, dengan orientasi kesadaran terus-menerus membangun Bantul yang tangguh bencana. Momen ini sekalian juga dipakai untuk memeringati HUT Bantul ke-188. Pak Bupati, Wabup, Dandim, dan pemuka masyarakat lain semuanya berkumpul di sini. Untuk refleksi ini, BPBD menghadirkan Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Bagi Mbah Nun sendiri, peristiwa gempa Bantul itu menyodorkan potret yang tak terbayangkan sebelumnya. Duka pasti terasa dan tertoreh di hati. Tetapi, sesudah gempa itu, terlihat bahwa masyarakat Bantul begitu tangguh dan cepat bangkit dari situasi berat itu. Proses recovery terbilang sangat cepat. Dalam situasi tak mudah itu, ternyata jalinan sosial masyarakat Bantul amat kuat. Bahu-membahu tampak di sana-sini untuk melakukan pelbagai hal untuk pemulihan kondisi.

Malam ini, seluruh yang hadir di Lapangan Paseban ini diajak memeringati dan menghikmahi peristiwa gempa berangkat dari terminologi ‘syariat-hakikat-thariqat-ma’rifat, serta dihubungkan dengan pemahaman akan sabil, syari’, dan thariq. “Supaya nanti kita mampu melihat peristiwa gempa dengan presisi sistem empat ini.”

Empat terminologi tadi bukanlah tataran sebagaimana sering dipahami, melainkan sistem nilai. Syariat adalah lelaku. Syariat kita butuhkan selama jasad dan ruh kita masih bersatu, dan itu tidak bisa dikerjakan dengan meninggalkan hakikat. Thariqat adalah caranya menjalankan syariat, dan bentuknya bermacam-macam. Adapun ma’rifat adalah pencapaian-pencapaian pengertian secara bertahap. Kemarin tak mengerti, sekarang mengerti. Sekarang tak tahu, besok mengerti. Dengan kata lain, ma’rifat adalah penemuan-penemuan kearifan.

Dalam konteks kehidupan ini, thariqat dengan demikian adalah kemampuan mengendarai kehidupan. Jika kemampuan ini terasah terus, nanti kita pada usia tertentu akan bertemu dengan shiroth yang notebene adalah “jalan kehidupan” yang bersifat presisi, berbeda dengan sabil dan syari’ yang masih bersifat lebar dan umum.

Pak Bupati dan jajaran Forkompinda Bantul menemani Mbah Nun di atas panggung. Mbah Nun memberi kesempatan terlebih dahulu kepada Pak Bupati buat memberikan pengantar. “Masih lekat dalam ingatan bagi warga Bantul akan peristiwa gempa 2006 itu. Bukan bikin lemah, tapi menjadi tempaan batin, serta menyadarkan bahwa kita akan lemah jika sendiri-sendiri, dan akan kuat jika mau bergandeng tangan dan bekerja sama,” antar Pak Bupati Bantul Drs. H. Suharsono mengawali Sinau Bareng malam ini.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image