Kompi Bershalawat Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng

Tentara bukan hobi perang. Kalau bisa malah jangan pernah.
Tentara bukan hobi perang. Kalau bisa malah jangan pernah.

Pelataran komplek Perumahan Korem 072 Pamungkas di salah satu kawasan Kotabaru Yogyakarta malam ini dipadati masyarakat. Warga perumahan keluar dari rumah masing-masing untuk menyambut dan berbaur bersama masyarakat luas yang hadir untuk mengikuti Sinau Bareng. Padat, tapi sebenarnya cukup longgar antar orang yang satu dengan orang lainnya seakan masing-masing memberikan keleluasaan satu sama lain. Apalagi ini bukan untuk nonton konser, tapi belajar bersama.

Sinau Bareng dengan tajuk “Kompi Bershalawat” ini diselenggarakan oleh Korem 072 Pamungkas Yogyakarta dalam rangka memeringati HUT Kemerdekaan RI ke-72, sekaligus untuk memeringati HUT Korem 072 Pamungkas ke-56.

Dari tengah-tengah area jamaah, tampak Cak Nun naik ke panggung dan kelihatan selalu segar dan fit dengan senyum khasnya. KiaiKanjeng sudah terlebih dahulu mengambil tempat. Bersamaan dengan itu, pemandu acara mengundang para narasumber untuk naik panggung menemani Cak Nun. Salah satu yang turut diundang dan dituakan adalah Jenderal TNI (Purn.) Tyasno Sudarto mantan KASAD TNI periode 1999-2000.

Merespons pengantar Komandan Komplek Korem 072 Pamungkas Kapten Suwarsi, Cak Nun mengawali acara dengan bercerita tentang kedekatan kulturalnya dengan tentara Indonesia yang sudah sejak dulu terjalin. Cak Nun mengisahkan posisi dan prestasi TNI. Mereka adalah orang-orang yang Cak Nun sebut “Mukhlisin” karena keikhlasan dan kesabarannya. Tiga hal yang harus dilakukan TNI adalah harus siaga 24 jam, harus terampil dan hebat sebagai tentara, dan ikhlas. Ikhlas inilah yang menyebabkan Cak Nun menyebut tentara Indonesia sebagai “pertapa”.

Selain itu, karena mungkin bayangan kita tentara identik dengan perang, Cak Nun mengingatkan bahwa tentara bukan hobi perang. Kalau bisa malah jangan pernah. Nabi Muhammad sendiri adalah panglima perang bahkan pernah mengalami luka sehingga perlu dievakuasi saat Perang Uhud. Perang harus atau perlu dilakukan hanya dengan dasar adanya hak dan perintah untuk membela diri karena diperangi.

Beberapa perspektif sederhana tapi merupakan kunci pemahaman dilontarkan Cak Nun untuk memberikan pijakan Sinau Bareng ini, di antaranya “domba, pathok, dan tali domba”, dan “keperwiraan, kekesatrian, dan keprajuritan”. Sebelum membahas lebih jauh, Cak Nun mengajak semua hadirin khusyuk melalui Nomor Pambuko yang dilantunkan langsung oleh beliau dan Hasbunallah. Dengan ini, Cak Nun berharap agar seluruh tentara di Komplek ini dan di komplek mana saja di seluruh Indonesia mendapatkan pencahayaan dari Allah Swt. Agar Allah menghidupi TNI dan juga menjaga segenap warga masyarakat Indonesia.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image