Cak Nun KiaiKanjeng Menemani Nahdliyin Magetan

Apa yang akan Mbah Nun berikan untuk mereka? Mbah Nun hanya ingin mengajak semua warga Nahdliyin ini untuk bercermin melalui sejumlah pertanyaan pada dan tentang diri NU.
Malam ini, 13 April 2017, Cak Nun dan KiaiKanjeng menemani ribuan warga Nahdliyin Magetan yang sedang memeringati Harlah NU ke-94 bertempat Stadion Yosonegoro Magetan.
Malam ini, 13 April 2017, Cak Nun dan KiaiKanjeng menemani ribuan warga Nahdliyin Magetan yang sedang memeringati Harlah NU ke-94 bertempat Stadion Yosonegoro Magetan (Foto: Adin).

Sudah tidak terhitung jumlah Cak Nun dan KiaiKanjeng menemani warga Nahdliyin di berbagai daerah untuk banyak keperluan seperti harlah, acara pondok pesantren, peresmian, peringatan hari besar Islam dan lain-lain. Termasuk malam ini di Magetan. Warga NU di sini tengah memeringati harlah NU ke-94 di Stadion Yosonegoro Magetan.

Ribuan orang dari segenap penjuru Magetan khususnya warga NU telah memenuhi stadion ini. Cak Nun sudah berada di panggung ditemani para pengurus NU, Kiai, pemuka masyarakat dan Bupati Magetan. Suasana ta’dhim dan tawadhu kepada Mbah Nun sangat kental terasa layaknya penghormatan mereka kepada Kiai dan ulama yang merupakan tradisi Nahdliyin.

Berjumpa warga masyarakat Nahdliyin yang merupakan “lapangan bawah” dari struktur sosial politik Indonesia, selalu membuat Mbah Nun menyematkan optimisme akan harapan masa depan. Betapa tidak! Kesetiaan dan kesungguhan, keikhlasan dan kemurnian kehadiran mereka untuk nyengkuyung niat baik “Ruwatan Nusantara di Bumi Magetan” — judul acara malam ini, rasanya tidak mungkin tidak bernilai di mata Allah, yang Mbah Nun mohonkan bisa menjadi alasan bagi Allah untuk menyelamatkan Indonesia.

Apa yang akan Mbah Nun berikan untuk mereka? Mbah Nun hanya ingin mengajak semua warga Nahdliyin ini untuk bercermin melalui sejumlah pertanyaan pada dan tentang diri NU. Tetapi sebelum itu, dalam pancaran “otoritas”, kharisma, dan kedekatan kultural dengan para Nahdliyin, Mbah Nun mbeber hal-hal sederhana yang sudah familiar di lingkungan NU tetapi melalui rute dan cara berpikir yang agak berbeda, tentang cinta segitiga (Allah-Kanjeng Nabi-umat Islam), memahami shalawat, sejarah shalawat Nariyah, dan lain-lain.

Komunikasi sejak awal berlangsung enak dan akrab. Mbah Nun sendiri menyampaikan Magetan itu punya tempat tersendiri dalam pandangan dan pikiran Beliau. Termasuk acara malam ini. Tajuk Ruwatan Nusantara ini menurut Mbah Nun malah ndisiki atau lebih maju dari NU pusat. Demikian Mbah Nun mengapresiasi dan memuji. Mbah Nun juga berharap agar pada momentum di Magetan ini Allah berkenan menentukan takdirnya buat Indonesia.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image