Sinau Bareng Hikmah Ramadhan Kota Batu Malang

Belajar melihat “yang tak terlihat” agar tidak mempertengkarkan terus barang katon atau kasat mata saja.
Belajar melihat “yang tak terlihat” agar tidak mempertengkarkan terus barang katon atau kasat mata saja.

Sinau Bareng “Hikmah Ramadhan” bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng, Halaman Gedung Among Tani Balaikota Kota Batu Malang, Minggu 11 Juni 2017.

Foto yang terambil dari atas itu menghadirkan potret lembut pemandangan orang-orang yang duduk khidmat di halaman Gedung Among Tani Balaikota Kota Batu Malang. Mereka sedang meluaskan hati dan pikirannya dengan Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. Lighting panggung menebarkan cahaya yang tak kalah lembut. Gelap malam pun makin memperkuat kelembutan itu.

Suasana kelembutan itu sejajar adanya dengan muatan utama pesan-pesan Mbah Nun belakangan ini. Yaitu, kelembutan Islam. Istilah yang rada aneh sebenarnya karena selama ini istilah itu absen dalam kosakata Islam sehari-hari kita. Kamus kita lebih banyak dipenuhi term-term yang padat, menggurui, melihat orang lain lebih rendah, sarwa menuntut, dan bahkan bernada menyalahkan atau menghakimi.

Itulah sebab, selepas mengajak seluruh hadirin meletakkan diri menyapa Allah, bershalawat, dan membaca doa Khotmil Quran, demi memasuki kelembutan Islam itu Mbah Nun menguraikan pijakan.

Hidup mesti tahu cara melihat. Melihat yang bisa dilihat mata dan melihat yang tidak bisa dilihat mata. Ini berangkat dari adagium tasawuf “man ‘arofa nafsahu faqad ‘arofa Robbahu” (Siapa mengerti dirinya, maka dia benar-benar mengerti Rabb-nya).

“Gusti Allah itu kalau bisa dilihat, maka itu bukan Gusti Allah. Gusti Allah itu harus tidak bisa dilihat. Itu yang bikin loading. Jadi urusannya: ndelok (melihat). Dari sini didapat prinsip: ketika melihat sesuatu yang tampak mata, jangan lupa pada yang tak tampak mata. Jangan sampai kita kehilangan Yang Tak Terlihat. Indonesia bertikai karena mempertengkarkan barang ketok atau kasat mata,” Mbah Nun mengantarkan cara melihat.

Sebelum itu, hadirin diminta sejenak menyelami surat al-Hasyr ayat 18. Ayat yang berkaitan dengan perkara ndelok alias melihat. Pada ayat itu, Mbah Nun menemukan rumus yaitu kita harus selalu mengawali melihat masa silam untuk masa depan dengan takwa dan mengakhirinya dengan takwa. Salah satu makna takwa yang dapat diambil adalah waspada. Menoleh ke belakang dan memandang ke depan mesti didasari kewaspadaan.

Sekadar makan pun harus waspada. Dilihat apakah yang dikonsumsi banyak kolesterolnya atau tidak. Menyebabkan asam urat ataukah tidak. Apalagi membangun negara, menjalankan pemerintahan, dan mengelola kehidupan bersama. Pemimpin daerah pun harus waspada. Setiap daerah punya kewaspadaan terhadap apa-apa yang tak sebaiknya masuk ke daerah. Beda daerah pun, beda treatment, dan semuanya harus benar.

Lalu Mbah Nun meneruskan memantik pikiran, “ojo nganti koyo arek-arek lali neng Allah sehingga lupa pada diri mereka sendiri. Prinsip ini iso ta gak diterapno neng Pembangunan? Jangan tidak tahu bahwa Batu ini ciptaan Allah.”

Ihwal ndelok atau melihat ini menjadi pintu masuk kepada kelembutan Islam. Dengan kesadaran ndelok kita berpikir penuh waspada bahwa kita tak mungkin tahu benar-benar keislaman kita atau apalagi keislaman orang lain sebab Allah yang paling tahu. Atau, bagaimana kita bisa benar-benar tahu orang lain puasa atau tidak. Pun dengan kedalaman atau kekhusyukan shalat. Itulah salah satu terapan sikap ndelok dengan kelembutan. Kita mesti punya kemampuan menyadari rentang antara sing ketok dengan yang tidak ketok tetapi sejati sifatnya.

Dari situlah, Mbah Nun menuntun semua hadirin untuk sinau melihat “yang tak terlihat” agar tak hanya berkutat pada ilmu katon saja. Yang namanya melihat Allah itu ketok atau tidak? Sementara Allah mengatakan siapa yang berharap berjumpa dengan-Nya hendaknya ia berbuat saleh. Pertemuan dengan Allah itu bukan pertemuan yang ketok. Itu sirr. Begiti Mbah Nun melontarkan contoh.

Segera saja kita tahu komparasinya. Kita percaya diri sekali dengan menilai seakan-akan tahu bagaikan ndelok dengan mata kepala sendiri apa-apa yang sebenarnya tersembunyi, misal keislaman seseorang, keikhlasan seseorang, dan nasib seseorang di mata Allah. Di wilayah kelembutan ini, kita tidak waspada. Sementara kelembutan Islam mengajarkan kita untuk penuh kasih sayang, khusnudhdhon, saling mendoakan, tidak menuding, dan tidak menyakiti hati siapapun.

Dalam warna-warni kebersamaan tadi malam, core Mbah Nun tampaknya memang adalah kelembutan Islam. Setiap pembahasan dijiwai dan dibahasai oleh kelembutan. Semisal tatkala menggambarkan rukun Islam. Shalat adalah pencahayaan. Puasa adalah peragian. Zakat adalah air susu. Haji adalah madu. Atau ketika membahas milieu kita. Bumi dan alam semesta adalah kakak atau saudara tua manusia yang harus dihormati oleh manusia.

Juga tatkala Mbah Nun menguraikan langit dan bumi dalam diri. Pesan Beliau cukup jelas: ketika melangit tidak kehilangan bumi. Ketika membumi tidak kehilangan langit. Ketika meng-Allah tidak kehilangan manusia. Ketika memanusia tidak kehilangan Allah.

Malam itu memang Walikota Kota Batu Edi Rumpoko (yang hadir bersama wakilnya Punjul Santosa, jajaran SKPD, dan Legislatif) sengaja menghadirkan Mbah Nun dan KiaiKanjeng agar warga masyarakat Kota Batu mendapatkan butir-butir ilmu keislaman yang benar-benar menyuguhkan alternatif atas apa yang berlangsung saat ini dalam ruang-ruang publik kita. Momentum kebersamaan itu bertajuk (mencari) Hikmah Ramadhan. Dan Mbah Nun telah menawarkan kelembutan Islam karena hikmah itu sendiri adalah kelembutan.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image