Menyangka Nyawa Melayang di Jalan

Hampir sepuluh tahun lamanya saya menjadi pengendara motor sendirian, lintas provinsi bahkan negara. Legal maupun ilegal. Lone wolf, demikian julukan beberapa orang. Boleh dikaitkan kepada keengganan berjamaah ataupun memang ingin menikmati kedaulatan lebih. Mulai dari kebebasan menentukan masa istirahat sampai isi tangki kendaraan maupun si pengendaranya. Dengan disumpalnya telinga, dipaksa mendengarkan beragam hasil budaya manusia. Berkendara menjadi semacam sarana mencapai ‘trance‘.

Sedari awal melakukan kegiatan ‘hijrah’ ini, ayah saya sudah mewanti-wanti untuk mengenakan pelindung tubuh semaksimal mungkin. Mungkin berkaca pada hobi beliau yang satu itu juga, yang oleh ibu saya usia ayah dicap sebagai ‘umur bonus’ sebab beberapa kali alami kecelakaan maut. Untunglah kepatuhan pada ayah itu berbuah baik. Dari usia belasan sampai kepala dua saat ini sudah entah berapa kali masuk fase ‘antara hidup dan mati’. Uniknya, semua disebabkan faktor pihak lain yang teledor.

Kecepatan berkuda besi jarak jauh tentu di atas 100 kilometer per jam. Itu pun harus ambil posisi di tengah jalan demi hindari gerakan-gerakan kecil mendadak di pinggir jalan. Posisi yang ‘nggegirisi‘ bagi yang tidak biasa. Salip sana-sini dengan keadaan khusyuk dipandu adrenalin sembari merapal nama-nama-Nya terasa sebagai momen yang langka. Ketika semua prediksi sudah dijalankan dalam sepersekian detik, perlindungan juga sudah lengkap, eh tiba-tiba ada yang berbelok mendadak dengan kecepatan tinggi atau sedan yang mengantuk dan ambil jalur.

Mbah Nun yang kutakdhimi menuliskan ‘manusia menyangka mereka akan selalu selamat-selamat saja’ di Daur II-259 – Menyangka Akan Selamat. Bertolak belakang dengan kalimat pemungkas beliau itu, saya tak pernah sedikit pun menyangka akan selamat saat menunggangi kuda besi. Bahkan begitu mesin menyala, semua persyaratan husnul khotimah sudah digumamkan. Wasiat pun sudah diberikan entah kepada isteri atau siapapun. Merasa bahwa di kegiatan paling mematikan yang mengalahkan terjun payung sampai menyelam versi BBC itu bisa sewaktu-waktu pisahkan jiwa dari raga.

Dalam tulisan itu Mbah Nun mengutip ayat yang berbunyi “Sedangkan hari ini manusia hanyalah seperti binatang, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang itu” (Al-Furqan: 44). Di jalanan, fenomena itu akan sangat terasa. Justru lebih berbahaya berpapasan dengan manusia daripada hewan liar. Ketika melihat objek melaju kencang dan konstan, insting hewan mulai dari kucing sampai sapi akan diam di tempat. Melanjutkan gerakan ketika yang bergerak cepat tadi sudah jauh. Lain dengan manusia yang bahkan sering kali tak paham aturan main berkendara. Beri riting kanan ternyata belok kiri atau tiba-tiba mengerem mendadak tanpa alasan darurat.

Uniknya, fenomena lalu-lintas yang amburadul seolah ‘chaos‘ itu berbeda di tiap-tiap daerah. Saya sampai hapal betul titik-titik di mana yang warganya sering buat jantung berdesir dan yang aman untuk gas pol. Ada kota besar yang lebih aman jika ngebut di gang-gang kecil, ada juga yang ngebut di jalan lingkar malah berakibat benjut. Kepekaan pada ‘empan, papan, adepan‘ itu begitu penting dimiliki pengguna jalan agar bisa beri manfaat dan bukannya munculkan mudlarat.

Lebih lanjut lagi Mbah Nun menyuplik ayat “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh yang lemah karena sakit, kemudian ia bertaubat” (Shaad: 34). Sehebat-hebatnya pengalaman diperjalankan menemui maut yang pernah diidamkan, akhirnya saya pun harus rehat dari kegiatan berkendara. Hampir setengah tahun harus betul-betul hati-hati memposisikan punggung sebab ada masalah di antara tulangnya. Duduk selama 10 menit saja sudah berakibat sakit luar biasa, bak ditususuk jarum bius saat hendak operasi.

Momen itulah di mana saluran streaming Maiyahan begitu mengisi hati. Mbah Nun dengan caranya mampu menghibur sakit dan entah bagaimana bisa sembuh sendiri. Hal di luar nalar lain setelah bertahun sebelumnya saya sulit bernafas karena darah sudah membanjiri paru-paru. Bahkan beberapa dokter spesialis terkait di Rumah Sakit Umum Pusat sudah angkat tangan. Katanya tak bisa disembuhkan, hanya bisa dikurangi rasa nyeri yang muncul dengan terapi dan obat. Tawaran yang kutolak mentah-mentah membebek pada Mbah Nun yang pernah berujar bahwa tubuh adalah bawahan jiwa. Jika jiwa sehat maka raga pun akan begitu.

Terlalu tak pantas jika saya sampai menyamakan diri dengan Nabi Sulaiman yang Mbah Nun jadikan teladan dalam tulisan itu. Hanya saja kejadiannya berbuah hikmah kurang lebih sama. Bahwa “menyangka tak akan selamat” akan munculkan tindakan pencegahan. Termasuk di antaranya persiapan supaya tak kaget ketika yang disangka hadir. Kalaupun tak muncul juga yang disangka itu, yang terbersit adalah rasa syukur yang tak bertepi. Ketika tak punya kemampuan memitigasi semacam itu, yang terjadi adalah seperti lebih sesat dari hewan. Apalagi jika sudah ambruk bukannya bertaubat atau introspeksi untuk benahi diri malah mem-Fir’aun-kan diri. Sebegitu ngerinya merasa akan selamat selama-lamanya.

Hampir sepuluh tahun lamanya saya menjadi pengendara motor sendirian, lintas provinsi bahkan negara. Legal maupun ilegal. Lone wolf, demikian julukan…