Daur-II • 259

Menyangka Akan Selamat

Junit, Jitul, Seger, dan Toling tak pernah menyangka akan mengalami dengan mata kepala sendiri apa yang pernah para Pakde ceritakan tentang sebagian pengalaman lintas silaturahminya Mbah Markesot. Kalau sampai tetangga atau temannya mendengar, mereka pasti berkomentar: “Ah. Kalian tidak bisa menyelesaikan masalah dengan rasio, lantas lari ke mistik”. “Halusinasi itu, Bro!”. Kalau karakter Junit, senyum saja. Tapi Toling mana bisa: “Lho, siapa yang bermasalah? Kamu atau Indonesia? Kok saya yang harus menyelesaikannya?”

Suara itu bergema di ruangan dalam rumah Pakde Brakodin di mana mereka berkumpul. Muncul tidak dari sebuah sosok, melainkan dari gumpalan-gumpalan asap yang berputar-putar, bergeser-geser ke berbagai sudut. Terkadang dari asap putih kelabu itu terbayang semacam wajah, yang bagian mulut dan matanya hitam pekat, namun sesekali muncul semacam tembakan cahaya dari bola mata kegelapan itu. Wajah dengan jidat sangat lebar, telinga sebelah memanjang ke bawah, ruas jari-jarinya bisa memutar jari-jari itu ke berbagai arah.

“Saimon”, kata Toling.

“Simon”, sambung Seger.

“Saimun”, suara Junit.

“Shoimun…”, Junit menegaskan.

Dari Pakde Brakodin mereka pernah mendengar tentang sahabat Mbah Markesot ini. Mbah Shoimun itu pemimpin masyarakat Jin yang berpuasa sejak meninggalnya Kanjeng Nabi Sulaiman. Mereka dulu adalah pegawai Kerajaan dengan ekspertasi dan skill bermacam-macam: arsitek, ahli logam, penakluk ruang, penggembala angin. Kota metropolitan Sulaiman lebih canggih dibanding Iroma Dzatil ‘Imad Nabi Hud. Bahkan lebih eksploratif dan jauh lebih kreatif dibanding Negeri Atlantis.

Kaum Jin itu teknolog luar biasa, dan memang Allah sendiri yang mempekerjakan mereka untuk Baginda Sulaiman. Mereka yang membuat piring terbang, kendaraan angkasa lintas galaksi, membangun kota agung bawah laut. Memang untuk memindahkan Istana Ratu Bulqis mereka kalah speed dari rohaniawan Asif bin Barkhiyah dari golongan manusia. Tapi selalu unggul dalam speed competition karena bekerjasama dengan hasil penelitian timnya Hudhud. Sejak Baginda Sulaiman wafat tanpa penerus, karena putra beliau cacat, Simon menjadi Mbah Shoimun, berpuasa sampai Hari Kebangkitan tiba. Tiap hari shalat berjamaah, wiridan dan shalawatan Maulidun-Nur bareng, menangis massal menyaksikan kehidupan manusia.

Pakde Sundusin pernah bercerita mendengar tangis massal mereka. Sekaligus juga tertawa kolosal para Jin lain yang dengki dan memusuhi masyarakat Mbah Shoimun.

“Sungguh manusia semakin tak tahu malu”, kata Pakde Tarmihim, “Baginda Sulaiman yang teologinya benar, budayanya kreatif, akhlaknya indah, bahkan ranking 1 dalam sejarah kekuasaan dan high-tech —pun oleh Allah dibikin lunglai tak berdaya di singgasananya. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh yang lemah karena sakit, kemudian ia bertaubat”. [1] (Shaad: 34)

“Sedangkan hari ini manusia “hanyalah seperti binatang, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang itu”. [2] (Al-Furqan: 44) Manusia menyangka mereka akan selalu selamat-selamat saja”.

Yogya, 31 Oktober 2017