Lagu KiaiKanjeng Gondelan Klambine Kanjeng Nabi

Lagu-lagu KiaiKanjeng ada hubungannya dengan tema malam ini. KiaiKanjeng tidak percaya pada konsep hiburan sebagaimana selama ini umum dipahami.
Lagu-lagu KiaiKanjeng ada hubungannya dengan tema malam ini (Gondelan Klambine Kanjeng Nabi)
“Lagu-lagu KiaiKanjeng ada hubungannya dengan tema malam ini (Gondelan Klambine Kanjeng Nabi). KiaiKanjeng tidak percaya pada konsep hiburan sebagaimana selama ini umum dipahami,” terang Mbah Nun kepada jamaah untuk memahami musik KiaiKanjeng (Foto: Adin).

Sinau Bareng malam ini diselenggarakan oleh keluarga besar Rokok Sukun Kudus (melalui salah satu lininya yaitu murianews.com) dalam rangka memeringati Israk dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Acara digelar di Lapangan Pancasila Desa Jepang Kecamatan Mejobo Kudus.

Melihat “neng”-nya perhatian dan konsentrasi jamaah atau masyarakat dalam Sinau Bareng malam ini, seakan Kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng adalah gerakan nyawuk di antara lautan manusia dan membawa manusia yang “tersahut” itu menjadi satu rombongan penumpang perahu baru untuk masa depan yang lain sama sekali.

Kebaruan dalam memandang relasi-relasi dalam kehidupan, termasuk dalam melihat hakikat musik. Seperti musik KiaiKanjeng yang di awal telah hadir mengantarkan kekhusyukan shalawat dan kemudian nomor-nomor membumi, adalah musik dalam maqam yang berbeda. “Lagu-lagu KiaiKanjeng ada hubungannya dengan tema malam ini (Gondelan Klambine Kanjeng Nabi). KiaiKanjeng tidak percaya pada konsep hiburan sebagaimana selama ini umum dipahami,” tegas Mbah Nun.

Di panggung, Mbah Nun duduk ditemani Pak Hilmi dari Sukun, Kiai Abdul Jalil, Habib Anis Sholeh Ba’asyin, dan lain-lain narasumber. Beliau-beliau naik bersama Mbah Nun dan ikut merasakan atmosfer spiritual yang dibangun Mbah Nun sejak awak serta menyaksikan kekhusyukan para jamaah.

Perlahan tapi pasti semua saling membulat dari masing-masing individu yang hadir di sini menjadi gumpalan pengalaman kultural-spiritual yang lain sama sekali. Sesuatu yang lebur di dalamnya berbagai sisi nilai sekaligus. Khusyuk bukan berarti tidak terhibur. Kalau Engkau mendapatkan ilmu, kalau Engkau khusyuk shalat, apa tidak sekaligus hatimu terhibur dengan ilmu dan kekhusyukan itu; kalau hatimu senang apa itu bukan hiburan. Demikian Mbah Nun mengutuhkan kembali keterpecahan-keterpecahan pikiran kita selama ini.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image