Kita harus punya ilmu untuk mengerti yang mana surga dan yang mana neraka....
“Kita harus punya ilmu untuk mengerti yang mana surga dan yang mana neraka….” (Foto: Adin)

Rangkaian Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng di sepanjang Mei 2017 sampai hari ini, mencapai kepadatan audiensnya pada malam ini. Benar-benar tak menyisakan sela-sela ruang. Jalan di Desa Wringinanom ini sungguh dipenuhi lautan manusia. Bahkan yang berdiri di kanan kiri panggung pun demikian. Terlihat pula ada yang duduk di atas genting, atau di lantai 2 dari bangunan samping Masjid Ainul Yaqin.

Sementara di sebelah gedung sekolah YASPIRU lebih padat lagi. Jamaah yang hadir ini adalah para siswa dan wali siswa yang jumlahnya 2000-an lebih. Belum lagi masyarakat umum dari Wringinanom dan sekitarnya. Semuanya tumplek blek di sini. Acara Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng ini diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Islam Raden Paku (YASPIRU) Wringinanom Gresik dalam rangka Wisuda Purnasiswa tahun pelajaran 2016-2017.

Saking sesak padat hadirin, saat Mbah Nun bersama pengurus Yayasan berjalan ke panggung haruslah dengan jalan menyibak kawasan jamaah. Tetapi semua berjalan dengan baik. Jamaah yang mencoba meminta jabat tangan ketika dilewati Mbah Nun dilayaninya satu per satu. Sementara mereka yang tak terjangkau memanggil nama Mbah Nun. Tadi sewaktu KiaiKanjeng memulai beberapa lagu Soran sembari menunggu kedatangan Mbah Nun, para siswa termasuk yang wisuda semuanya bergegas mendekat ke panggung begitu gamelan KiaiKanjeng mulai berbunyi.

Sebelumnya prosesi wisuda sudah selesai usai Isya’. Hadirin tak sabar menunggu kemunculan KiaiKanjeng. Tatkala seluruh personel dan vokalis KiaiKanjeng naik ke panggung, mereka mengajak semua jamaah bershalawat dan melantunkan pepujian kepada Kanjeng Nabi. Setelah beberapa lagu Soran KiaiKanjeng ini, yang ditunggu-tunggu pun datang. Ditemani Ketua Yayasan, para kepala sekolah di lingkungan YASPIRU, dan sejumlah tokoh masyarakat, Mbah Nun melangkah naik ke atas panggung.

Dari atas panggung, sebelum berbicara, tatapan mata Mbah Nun tertuju ke segenap penjuru arah merata merajutkan pertautan rasa dan hati kepada seluruh hadirin terlebih dahulu. Kesadaran paling awal Mbah Nun adalah mendoakan dan mengharap kepada Allah agar semua yang hadir ini mampu membentengi diri dari serbuan setan. Pada titik tematik itulah salah satunya Mbah Nun mengajak mereka bisa membedakan dan mengenali mana surga dan mana neraka. “Kita harus punya ilmu untuk mengerti yang mana surga dan yang mana neraka…,” ungkap Mbah Nun dalam bahasa komunikasi selang-seling antara Bahasa Jawa Timuran dan Bahasa Indonesia.

Sinau Bareng Membentengi Diri dari Setan