Sinau Bareng Parade Budaya Imogiri

Sepanjang tidak ada keris sebagai pusaka, anak-anak akan bertengkar terus tanpa ada yang mampu melerai.
Sepanjang tidak ada keris sebagai pusaka, anak-anak akan bertengkar terus tanpa ada yang mampu melerai (Foto: Adin).

Padat jalan-jalan di Yogyakarta pada Sabtu malam Minggu ini sangat terasa di hampir semua titik. Memang juga demikian sih setiap akhir pekan. Mulai dari wilayah Utara hingga memasuki Ringroad Selatan. Bahkan di beberapa jalan kecil pun mudah terjadi kemacetan. Harus bersabar memang dalam menjalankan ngegas-ngerem.

Bahkan meninggalkan kota Jogja menuju Imogiri pun masih terasa ramainya jalan, terutama memasuki kawasan Jejeran yang sedang ada perbaikan jalan. Tetapi bergerak terus ke selatan sampai di Imogiri suasana sudah mulai berbeda. Hawa desa yang ditandai berkurangnya kepadatan pemukiman warga dibanding yang tampak di kota menyambut kita.

Namun, malam ini Imogiri juga tak seperti biasanya. Tepatnya di Lapangan eks Pasar Lama Imogiri, sebuah keramaian yang sebenarnya “tak ramai” alias tertib tanpa ingar-bingar sedang berlangsung. Mereka banyak jumlahnya, tapi semuanya tenang. Orang-orang itu, warga setempat maupun yang datang dari berbagai wilayah lain, duduk memenuhi lapangan ini untuk Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. Ya, jika tadi malam Mbah Nun dan KiaiKanjeng berada di kawasan utara Yogyakarta, kini beralih di belahan selatan. Seperti menarik garis lurus di atas wilayah Yogyakarta.

Komunitas Pametri Budaya Nusantara didukung komunitas lain tengah menyelenggarakan Parade Budaya Imogiri. Memuncaki rangkaian kegiatan itu, mereka mengundang Mbah Nun bersama KiaiKanjeng untuk menyampaikan wawasan seputar agama dan budaya. Latar belakang mereka cukup dapat dimengerti: pertama kekhawatiran akan wabah hedonisme dan materialisme yang mengancam sendi-sendi sosial kehidupan masyarakat, dan kedua, pergeseran sikap budaya akibat pemahaman keagamaan yang kurang tepat. Padahal, Imogiri adalah salah satu lumbung budaya di Yogyakarta.

Mbah Nun sendiri berharap nanti masyarakat atau jamaah mendapatkan pemahaman secara cetho dan mudah perihal semua yang disampaikan penyelenggara, yaitu bagaimana menyelaraskan cara pandang atas budaya dalam posisinya di hadapan agama. Terlebih dahulu, Mbah Nun menegaskan bahwa Imogiri itu pusoko. Imogiri dekat dengan para auliya dan ulama. “Nah sekarang ini kebanyakan kita tak mengerti pusaka…,” antar Mbah Nun.

Lebih tegas lagi Mbah Nun mengemukakan sepanjang tidak ada keris sebagai pusaka, anak-anak akan bertengkar terus tanpa ada yang mampu melerai. Itulah keadaan bangsa kita.

Malam ini, di depan masyarakat Imogiri, Mbah Nun dan KiaiKanjeng memberikan support atas ikhtiar komunitas-komunitas yang tergabung di balik gagasan Parade Budaya ini yaitu menghidupkan dan meneguhkan kembali sumber daya budaya yang dimiliki Imogiri. Sesuatu yang tak selalu bersifat benda atau peranti, melainkan juga nilai, sikap, dan kematangan ilmu hidup yang kerap terformulasikan dalam banyak ungkapan.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image