Ketika Angka Lebih Nyaring daripada Rakyat
Di China, ketika Mao mengumumkan Biarlah seratus bunga mekar, biarlah seratus pikiran bersaing, yang terdengar adalah undangan pada kebebasan.
Toto Rahardjo
Di China, ketika Mao mengumumkan Biarlah seratus bunga mekar, biarlah seratus pikiran bersaing, yang terdengar adalah undangan pada kebebasan.
Kita ini bangsa yang aneh. Kalau bisa meniru, kenapa harus berpikir?
Lha zaman saiki, pikirane wong-wong kok bisa ngelakoni opo sing diomongke HP, dudu nuruti apa sing didadekke akal sehat.
Dunia hari ini ibarat panggung besar, tempat aktor-aktor besar saling rebut peran, ganti kostum, dan mainkan skenario yang kadang kita kira nyata, padahal hanya ilusi berbiaya mahal.