CakNun.com

Sekolah Tinggi, Pikiran Pendek

Toto Rahardjo
Waktu baca ± 2 menit

Ada satu kalimat yang terdengar seperti makian, tapi sesungguhnya lebih tepat seperti doa yang gagal: percuma sekolah tinggi-tinggi jika hanya menjadi robot kurikulum. Ijazah—kata orang—adalah tanda selesai belajar. Padahal sering kali ia justru penanda berhentinya bertanya. Ia selembar kertas yang diagungkan, sementara otak dibiarkan kaku, seperti kanebo kering yang lupa bagaimana caranya menyerap air.

Kita hidup di zaman ketika gelar akademik berjejer seperti medali di dada tentara parade. Mengilap, rapi, tapi kosong dari pertempuran pikiran. Banyak yang fasih menyebut jabatan, namun gagap ketika diminta alasan. Sedikit saja diajak berdebat, emosi mendahului logika. Kalimat “pokoknya” menjadi palu terakhir—menghantam diskusi agar cepat mati. Barangkali kita memang tidak sedang kekurangan orang pintar. Kita kekurangan keberanian untuk berpikir.

Pendidikan, yang semula dijanjikan sebagai jalan pembebasan, pelan-pelan menyempit menjadi jadwal pelajaran. Guru tenggelam dalam laporan, murid tenggelam dalam hafalan. Keduanya sama-sama sibuk, sama-sama lelah, dan sama-sama kehilangan rasa takjub. Sekolah menjadi pabrik sunyi: menghasilkan manusia-manusia patuh, yang tahu jawaban tapi takut pada pertanyaan.

Padahal sejarah tak pernah digerakkan oleh kepatuhan semata. Dunia berubah justru oleh mereka yang gelisah—yang tak puas pada satu kebenaran resmi. Mereka membaca bukan untuk lulus ujian, melainkan untuk meragukan dunia, termasuk dirinya sendiri. Dari keraguan itulah lahir tanggung jawab.

Logika yang tajam tanpa batin yang hidup adalah pisau tanpa sarung. Ia mudah melukai. Kita melihatnya hari ini: kecerdasan yang dipakai untuk mencaci, data yang dipelintir demi amarah, linimasa yang penuh manusia dengan emosi mentah. Sastra dan seni—yang sering dianggap pelengkap—sesungguhnya adalah penjinak. Ia mengajari kita menunda marah, merawat empati, dan mendengar yang tak bersuara.

Dulu, pendidikan dimaknai sebagai mendidik manusia. Kini ia sering dipersempit menjadi melatih fungsi. Manusia dipersiapkan untuk pasar, bukan untuk makna. Untuk survive, bukan untuk bertanggung jawab. Maka tak heran jika banyak yang hidup sekadar untuk mengisi perutnya sendiri—bukan untuk menjaga martabatnya.

Ad Maiora Natus Sum. Kita lahir untuk hal-hal besar, kata kalimat Latin itu. Tapi kebesaran bukan soal jabatan, bukan pula gelar. Ia soal integritas: kemampuan berkata “tidak” ketika semua orang memilih aman. Ia soal akuntabilitas: kesediaan memikul akibat dari pikiran sendiri.

Mungkin pendidikan tak perlu terlalu sibuk mencetak juara. Ia cukup melahirkan manusia yang tak berhenti berpikir, tak takut berbeda, dan masih punya rasa kagum pada dunia. Selebihnya—ijazah, gelar, titel—biarlah menjadi catatan kaki dalam sejarah hidup yang sungguh-sungguh. 

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah luluskah kita, melainkan masihkah kita berpikir. Sebab dunia tidak runtuh oleh orang bodoh, tetapi oleh orang terdidik yang berhenti meragukan dirinya sendiri. Barangkali sudah waktunya kita berhenti memuja ijazah seperti jimat, dan mulai menguji pikiran kita sendiri—apakah ia masih lentur, masih berani salah, masih mau belajar. Jika pendidikan hanya membuat kita patuh dan cepat tersinggung, mungkin yang perlu kita ulang bukan mata pelajaran, melainkan keberanian untuk menjadi manusia.[]

Toto Rahardjo
Pendiri Komunitas KiaiKanjeng, Pendiri Akademi Kebudayaan Yogyakarta. Bersama Ibu Wahya, istrinya, mendirikan dan sekaligus mengelola Laboratorium Pendidikan Dasar “Sanggar Anak Alam” di Nitiprayan, Yogyakarta
Bagikan:

Lainnya

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Jalan Baru Ekonomi Kerakyatan

Rakyat kecil kebagian remah kemakmuran berupa upah buruh murah, dan negara kebagian remah kemakmuran berupa pajak.

Nahdlatul Muhammadiyyin
NM

Topik