Membaca Surat dari Tuhan (19)

Memahami Kode Semesta

Photo by pixpoetry on Unsplash

Bagi yang pernah aktif dan asyik di dunia kepanduan tentu mengenal kode komunikasi dengan suara (morse), dengan pergerakan posisi sudut bendera (semaphore), kode teks (huruf sandi) dan kode nada terompet yang hanya memainkan tiga nada (do, mi, sol), kode alam ( cuaca, urutan datangnya hujan dan angin, warna mega sebelum malam, posisi bintang dan bulan, bunyi binatang pada saat tertentu.

Kemudian kalau aktif di dunia pecinta alam akan mengenali kode alam yang bisa dimanfaatkan untuk survival atau bertahan hidup di tengah alam bebas yang kadang kejam. Ciri-ciri pohon, daun dan buah yang dapat diminum. Ciri-ciri air bersih yang tidak beracun. Ciri-ciri binatang tidak berbisa dan berbisa dan bagaimana menaklukkan dan kemudian kalau dalam keadaan darurat dapat dijadikan sumber energi (dimakan).

Ciri-ciri rumah lebah yang madunya penuh dan siap dipetik. Ciri-ciri pepohonan yang daun, buah, akar, dan getahnya bisa untuk obat. Ciri-ciri binatang kecil sedang atau besar yang bagian tubuhnya bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi dan obat. Ciri-ciri genangan air atau aliran air yang mengandung banyak ikan, atau ular atau malah menjadi tempat bersembunyi buaya. Demikian juga ciri-ciri lingkungan alam tertentu yang di situ menjadi habitat binatang pemakan daging, pemakan buah, pemakan madu, pemakan sari bunga dan pemakan daun.

Ketika aktif menjadi tentara, apalagi tentara komando maka pengetahuan tentang kode alam dan keterampilan memecahkan kode lainnya diajarkan. Bahkan kode suasana aman atau suasana ada musuh jauh dan dekat juga dipelajari dan dimanfaatkan untuk kepentingan survival dan penetrasi kekuatan ke medan tempur.

Kalau asyik menjadi petani maka kode alam yang dikuasai juga banyak dan lengkap. Pengetahuan tentang kode musim, durasi musim, ciri-ciri khas musim, ciri-ciri siklus windu, siklus siang malam, siklus hujan dan terang benderangnya langit, siklus hama dan siklus harga produk pertanian wajib dikuasai. Dengan demikian dia terhindar dari kemungkinan mutung atau disorientasi bertani ketika panen gagal panen. Dia juga terhindar dari kemungkinan disergap oleh tengkulak yang mempermainkan harga jual produk pertanian.

Kode alam dan sekitarnya yang dipelajari pandu, pecinta alam, pasukan komando dan petani ini masih lebih mudah dipahami ketimbang kode budaya yang harus dipelajari, dipahami dan dimanfaatkan secara efektif oleh sastrawan, budayawan, ulama, cendekiawan, dan ilmuwan ahli. Mereka harus paham dan bisa memanfaatkan kode bahasa, kode budaya, kode kimia, kode fisika, kode matematika, kode teknologi informasi dan teknologi lainnya. Juga kode yang berasal dari alam gaib atau kode spiritual.

Keuntungan bisa membaca kode semesta atau isyarat alam adalah kita bisa waspada, penuh perhitungan dan siap membuat antisipasi dan respons yang tepat. Waktu saya dan teman-teman aktif di Pramuka dan pecinta alam kalau sore hari mendung bisa memperhatikan warna langit. Kalau warna langit jingga aman. Kalau warna langit kuning mirip mentega, gawat. Akan ada hujan lebat. Apalagi kalau hujan disertai angin bertiup kencang. Tenda kemah perlu diperiksa tali dan pasak serta ketegangan kain tendanya.

Barang-barang diringkas agar tidak mudah diterbangkan angin. Juga ada teman mengenakan memantau air sungai. Meski letak bumi perkemahan agak tinggi disekat persawahan luas, kami pernah mendengar penjelasan dari Kepala Dusun kalau hujan lebat sekali air bisa naik menggenangi persawahan. Kalau air sudah menggenang di persawahan dan hujan belum berhenti alamat peserta perkemahan siap untuk pindah tempat, mengungsi ke rumah penduduk. Sebab pernah dua kali mengalami hal ini.

Pertama waktu berkemah di Piyungan, di sebuah lembah indah dan tempat berkemah berada dekat tikungan sungai. Kedua, waktu kami berkemah di Kinahrejo dekat mata air jernih yang ada bak air, di sekitar hutan pinus dan akasia. Air terus membanjir dan hujan tidak mereda. Kami memutuskan untuk pindah tempat dan mengungsi di rumah penduduk. Yang di Piyungan air akhirnya hanya meluber sampai menggenangi lapangan tempat berkemah. Karena semua kemah telah dilindungi tanggul di sekeliling tenda barang di dalam tenda selamat. Yang di Kinahrejo kami gemetar gentar karena melihat jurang yang membentuk dinding sekitar sungai dipenuhi air, padahal jurang itu cukup dalam. Kami dengan sigap terpaksa membongkar tenda, mengemas barang dan bergerak cepat menuju rumah Mbah Hargo. Tetapi jalan dari tempat berkemah tadi dengan rumah Mbah Hargo terhalang sungai yang sedang ukurannya, sedang banjir dengan air berarus deras.

“Sabar. Kita terpaksa menunggu satu jam. Menunggu air lewat. Banjir di sini tidak lama. Setelah satu jam, sungai ini kering lagi seperti kemarin sore,” kata teman pecinta alam senior yang paham perilaku alam di lereng Merapi ini.

Betul setelah satu jam air surut drastis sampai sungai hampir kering. Kami melewati sungai itu dengan gaya pengikut Nabi Musa yang tengah melewati Laut Merah yang terbelah oleh pukulan tongkat Nabi Musa. Hanya bedanya kami tidak dikejar-kejar pasukan Fir’aun, tetapi dikejar kejar oleh rasa lapar.

Ternyata di kemudian hari saya mendapat bukti kalau gagal membaca kode alam bisa menimbulkan bencana. Dan ini amat serius ketika kami rombongan anak kota yang babar blas tidak tahu perubahan alam tetapi berani bermain-main dengan alam.

Pada musim kemarau ada sekelompok anak muda Kotagede rekreasi ke pantai Samas. Meriah. Ada beberapa anak muda itu iseng berjalan santai ke arah timur.

Sampailah mereka ke muara sungai besar yang di hulunya merupakan gabungan dari banyak sungai besar dan terkenal. Yaitu sungai Oya, Opak, Gajah Uwong, Code, Winongo. Ini yang mengalir dari arah timur. Yang mengalir dari arah barat juga gabungan dari banyak sungai. Dua aliran yang berasal dari dua gabungan sungai-sungai ini kemudian bergerak ke selatan dan sebelum sampai muara bergabung menjadi satu. Sebelum masuk ke mulut muara, aliran sungai dari gabungan sungai-sungai ini di musim kemarau ternyata menjadi sungai bawah tanah atau bawah pasir. Maksudnya, di atas aliran daripada gabun ini bagian atasnya tertutup lapisan pasir atau tanah yang padat, keras dan tebal. Saking tebalnya tidak patah ketika dilewati manusia.

Jadi anak-anak muda kota itu di musim kemarau bisa berjalan hilir mudik di atas lapisan pasir yang menutupi aliran sungai. Bayangkan saja ada lapisan es tebal di musim dingin yang bisa menutup permukaan sungai sehingga orang bisa berjalan-jalan di atas sungai tanpa khawatir es akan patah. Bedanya, di daerah Bantul, di timur pantai Samas ini yang menutupi aliran sungai adalah lapisan pasir yang tebal padat dan keras.

Nah, masalah muncul ketika ada anak muda yang menggunakan rujukan musim kemarau untuk menyeberangi sungai di dekat mulut muara (sowangan) di musim hujan. Waktu itu kami berkemah di Parangkusumo. Perkemahan anak muda Kotagede. Beberapa hari. Saya berangkat ke tempat perkemahan itu dengan cara heroik, berjalan kaki. Saya dan seorang teman menyusul rombongan yang telah berangkat dulu dengan naik kendaraan.

Saya dan seorang teman sama-sama anggota pecinta alam, bahkan sama sama mendirikan Grup pecinta alam.

Kami berdua berjalan long march sepanjang hampir tiga puluh kilometer. Jarak yang tidak menakutkan. Sebab waktu kami dulu mendirikan grup Lapenta Mataram diresmikan dengan melakukan long march Kotagede-Wonosari menempuh jarak empat puluh kilometer lebih sedikit. Jadi, long march Kotagede-Parangkusumo tidak membuat kami gentar. Hanya bedanya, long march Kotagede-Wonosari dulu dilakukan siang hari oleh enam orang, sedang yang long march Kotagede-Parangkusumo dilakukan malam hari, dilakukan dua orang. Pengalaman yang didapat juga berbeda. Yang long march malam hari hanya berdua terasa lebih seru.

Kami berdua menyandang ransel dan memegang tongkat Pramuka tapi mengenakan topi pecinta alam dan mengenakan jaket kain tebal. Strategi yang ditempuh agar perjalanan malam bisa selamat, kami justru berjalan di tengah jalan persis sehingga kami bisa cepat tanggap kalau ada gerakan mencurigakan muncul dari arah kiri atau kanan pinggir jalan. Waktu itu tahun awal tujuh puluhan, belum musim motor dan handphone. Jadi malam hari jalan Parangtritis amat sepi.

Kalau di suatu tempat ada peronda mendatangi kami dan menanyakan tujuan kami dan asal kami kami jawab bahwa kami akan tirakat di pantai selatan. Jawaban itu cukup memuaskan meski tidak menghilangkan sama sekali kecurigaan peronda itu. Ini terbukti dari bunyi kode irama kentongan yang mereka pukul sambung-menyambung dari desa ke desa sepanjang perjalanan kami sampai di Kretek, tempat penyeberangan rakit.

Lainnya