Membaca Surat dari Tuhan (15)

Momentum dan Kontra Momentum

Photo by Charlein Gracia on Unsplash

Saya selalu terbengong-bengong melihat bagaimana Kang Jakfar, Kang Jayani, dan Kang Rahardjo bisa dengan mudah mengelak dari serangan jurus muridnya. Padahal sang murid sudah menguasai gerakan jurus itu dan dengan cepat mengayun tangan dan menggerakkan kakinya. Berkali-kali begitu.

Dengan mudah pelatih pencak silat perguruan Senopati, perguruan lokal Kotagede yang diasuh oleh pendekar langsing, Mbah Dul Mungin, mengelak dan membalas serangan murid-muridnya, bahkan dengan jenaka Kang Jakfar menyentuh permukaan punggung dan kepala atau Kang Jayani mengelak dari tendangan jlontrotan muridnya sekaligus menangkis dengan serangan ganda tangan dengan jurus tepakan yang menggunakan sisi lunak telapak tangan. Seandainya pelatih ini menggunakan jurus potongan dengan menggunakan siku jari yang ditekuk sehingga bagian keras mengenai kemiri atau engkel kaki muridnya, bisa jadi kaki murid itu bengkak seketika dan dia akan terpincang-pincang jalannya.

Apalagi kalau pelatih menggunakan tangkisan potongan dengan menggunakan ujung secara kuat dan cepat seperti yang pernah digunakan Mas Iman Budhi Santosa ketika dalam pertarungan persahabatan antar perguruan pencak silat Yogya di pendapa Ndalem Notoprajan membuat pesilat dari Kauman yang menyerang dengan tendangan ikan terbang langsung kakinya bengkak dan tidak bisa berjalan. Untung gurunya, Pak Barie Irsyad yang pendiri perguruan Tapak Suci yang pernah bertukar ilmu dengan pendekar dari Jepang, segera bertindak, dengan sebuah ketukan bengkak itu hilang.

Pada saat yang sama guru pencak silat Mas Iman marah, memerintahkan kepada Mas Iman untuk meminta maaf kepada pesilat muda Kauman dan kepada Pak Barie Irsyad, karena tadi terpaksa menggunakan teknik menangkis dengan siku, sebuah jurus yang dilarang dalam pertarungan persahabatan itu. Karena merasa bersalah, Mas Iman meminta maaf kepada dua orang itu. Puluhan tahun kemudian Mas Iman berkata kepada saya, “Mus saya refleks. Itulah satu-satunya gerakan yang mungkin saya lakukan. Lawan saya menciptakan momentum penyerangan secara refleks saya balas dengan kontra momentum.”

Kembali kepada pertarungan buatan antara murid dengan pelatihnya yang disebut dengan istilah train setelah latihan gerak massal. Murid-murid itu gagal menciptakan momentum dalam serangan sehingga dengan mudah serangan dia dapat dihindari oleh pelatih, bahkan mendapat serangan balasan dari pelatihnya.

Dalam latihan pencak silat dengan murid yang lebih senior, seorang tetangga yang kakak kelas di sekolah dasar dan dia anak tentara yang mewarisi jiwa petarung ayahnya, dia melakukan eksperimen dengan menciptakan momentum penyerangan yang gagal dibalas dengan kontra momentum oleh asisten pelatih yang menghadapinya. Akibatnya, asisten pelatih itu pingsan oleh tendangan dia.

Agar wibawa pelatih tidak jatuh, pelatih sungguhan yang kemudian hari menjadi pendekar, turun tangan. Dia minta tetangga saya menghadapinya. Pelatih ini lemah lembut dan banyak senyum sehingga tetangga saya meremehkan dia. Tapi tetangga saya kena batunya. Berkali-kali serangan dia tidak melahirkan momentum kemenangan, dia menjadi berkeringat dan berdebar debar.

Nah sehabis dia menyerang dengan tendangan yang gagal, pelatih ini menciptakan momentum penyerangan saat tetangga saya satu kakinya terangkat, dengan serangan sirkelan bawah yang membuat tetangga saya terjatuh. Belum sempat dia memperbaiki keadaan, pelatih ini menyerang dengan jurus jlontrotan bawah yang membuat tetangga saya langsung pingsan. Pelatih tadi berhasil menciptakan dua kali momentum serangan.

Zaman itu, tahun-tahun enam puluhan sebelum terjadi tragedi politik, pemberontakan besar kaum komunis yang kedua, di Kotagede dan Yogyakarta tumbuh banyak perguruan pencak silat. Orang Muhammadiyah punya perguruan pencak silat tidak hanya satu, yang kalau di Kotagede ada Perguruan Senopati dan di Warungboto ada perguruan Garuda Sakti. Orang PNI punya perguruan sendiri, demikian juga orang komunis. Para murid perguruan ini sering memamerkan kebolehan berpencak silat di panggung kesenian berganti-ganti.

Para pendekar tidak pernah memamerkan ilmunya sehingga saya untuk mengetahui ilmu mereka terpaksa mengintip mereka ketika melatih muridnya, karena penasaran. Saya pun, karena masih anak kecil, mengamati mereka saat latihan dan tidak diusir atau dicurigai. Saya pun bisa sedikit banyak melihat ciri khas perguruan ini, baik ketika berlatih tangan kosong maupun ketika berlatih dengan menggunakan senjata. Tetangga saya yang aslinya dari sebuah desa dekat makam yang asli Ki Ageng Mangir, di waktu muda pernah menjadi santri kelana di pulau Jawa dan dia konsentrasi khusus belajar pencak silat, bukan belajar kitab kuning. Setelah itu dia menjadi pegawai bagian keamanan penjara. Ketika ada narapidana yang jagoan mengamuk dia menghadapi narapidana ini.

Semua penjaga kewalahan, demikian juga narapidana yang lain. Setelah mempelajari gerakan narapidana ini sebentar, tetangga saya tersenyum. Dia mengambil sarung dan dengan sarung sebagai senjata dia bertarung dengan narapidana.

Mula-mula dia pancing narapidana ini sampai suatu detik dia lengah, tetangga saya menciptakan momentum untuk menyerang dan berhasil menangkap dan melumpuhkan narapidana dengan sarungnya. Narapidana ini dia seret dan dikembalikan masuk ke dalam sel disertai ancaman, “Awas kalau macam-macam lagi.”

Tugas di penjara membuat tetangga saya bosan. Alasannya dia bosan gelut dengan narapidana di situ, yang kalau baru sering bernafsu menguji kebolehan penjaga. Akhirnya dia keluar dari pekerjaan di penjara dan memilih menjadi guru yang mengajarkan kelembutan dan ilmu hidup yang bermutu. Meski demikian, setelah menjadi guru dia sering diserang oleh bekas narapidana yang masih menaruh dendam kepadanya. Dia pun menjadi seorang guru yang selalu waspada. Serangan ini menghilang atau tidak ada lagi setelah dua penjahat kambuhan keluar dari penjara menghadang dia di luar stasiun kereta api yang suasananya remang-remang.

Dua penjahat ini menghadang dari sisi dan kanan jalan. Begitu guru yang waspada ini lewat di dekatnya, dua penjahat ini menyerang serentak dengan senjata tajam. Dua penjahat ini merasa punya momentum menyerang dan membayangkan guru yang waspada ini akan tewas dengan dua luka tusuk dari dua arah berbeda. Tetapi pendekar yang guru SD ini punya intuisi kuat. Begitu merasakan ada hawa jahat dan kesiur angin penyerangan, dia justru meloncat mundur secepat kilat. Akibatnya dua penjahat yang tidak bisa menarik serangan justru saling menusuk.

Dan untuk mengasah ilmu pencak silat yang sudah dalam tataran tertinggi, dia menciptakan momentum latihan saat bulan purnama. Dengan senjata yang khas yang paling dia kuasai, sepasang trisula, dia bergerak secepat bayangan. Saya diberi tahu Ayah dan diajak Ayah untuk mengintip latihan dia. Pak Guru dan pendekar sepasang trisula ini sepertinya tahu kalau ada yang mengintip dan tahu siapa yang mengintip sehingga membiarkan latihannya diketahui dua orang. Bahkan kemudian dia menjadi sahabat Ayah saya waktu menghadapi orang komunis yang nakal sering menyebalkan itu.

Dia juga sering bertamu ke rumah untuk bertukar ilmu. Ayah sering menyampaikan ilmu di atas ilmu syariat kepada Pak Guru, dan pak Guru juga sering memberitahu tentang pengalaman bertarung menghadapi narapidana dan orang jahat. Entah dari mana tiba-tiba Ayah jadi memiliki pedang dengan ukiran burung merak pada pegangannya, yang di saat genting politik dijadikan bantal. Saya menduga ayah belajar ilmu menciptakan momentum menghadapi serangan. Apalagi ketika menjadi tentara ayah telah berlatih bertindak taktis.

Ditambah lagi tukang cukur keliling langganan Ayah juga sering bercerita tentang yang aneh-aneh tentang bagaimana menciptakan momentum untuk memenangkan pertarungan ini. Mbah tukang cukur ini, berasal dari Banyumas, membanggakan dirinya sebagai pemilik jurus mundur lima belas langkah yang isinya hanya tangkisan dan elakan. Ayah tersenyum paham. Sedangkan saya, hanya heran dan penasaran mendengar jurus aneh itu.

Suatu hari anak anak Mbeling di kampung mengganggu Mbah Tukang Cukur antik ini sehingga marah. Dia memasang kuda-kuda dan saya berteriak, “Jurus mundur lima belas langkah Mbah!”

“Baik.”

Dia pun memperagakan jurus itu dengan cekatan dan semua gerakan dia rapat tidak mungkin ditembus atau dikenai serangan. Dan setelah lima belas langkah mundur, dia dengan cepat melancarkan jurus gempuran lima belas langkah ke depan. “Kalau tadi ada di antara kalian ada yang berani menyerang saya, habis oleh jurus gempuran saya.”

Semua anak terdiam. Takut dan sejak itu tidak berani meremehkan dia. Ketika pengalaman ini saya ceritakan kepada Ayah dia tersenyum mengiyakan. “Kau nanti akan menyaksikan hal yang lebih menakjubkan lagi,” kata Ayah seperti meramal.

Apa yang dikatakan ayah betul-betul saya temukan. Sebulan setelah pemberontakan besar kedua kaum komunis yang gagal dan kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri fenomena yang disebut dalam Surat An-Nashr dan peristiwa Fathu Makkah sekaligus.

Orang-orang banyak sekali berbondong-bondong ke masjid dan langgar, dan rumah keluarga yang anak atau suaminya ditahan di pulau Buru justru dijadikan tempat oleh Ayah, Pakde, Pak Lik, dan para mubaligh. Para pendekar ikut mewarnai suasana tarawih dengan cerita yang unik-unik. Misalnya ada pendekar yang selama ini tiarap dan menjadi pengusaha kayu, dalam acara obrolan sehabis tarawih menunggu saat tadarus berbagi pengalaman bagaimana dia menciptakan jurus kontra momentum dengan memanfaatkan telapak tangannya.

“Kalau menghadapi bagian tubuh lawan yang keras pakailah bagian tangan yang halus ini. Kalau menghadapi bagian tubuh lawan yang lunak pakailah bagian tangan yang keras ini,” katanya sambil mempertajam jurusnya. Saya terbengong-bengong, mirip Arya Salaka mengagumi Kebo Kanigoro dalam kisah Nagasasra Sabuk Inten. Sedangkan Ayah dan Pendekar Trisula Kembar mengangguk-angguk tanda setuju.

Hal-hal yang menakjubkan pun terus menghampiri saya. Saya jadi makin penasaran dengan dunia beladiri, khususnya pencak silat, meski saya bukan praktisi. Saya hanya orang yang punya rasa ingin tahu yang besar. Waktu sekolah SD saya sering nguping anak kelas senior, kelas lima dan enam yang ketika istirahat di antara jam pelajaran mereka bergerombol di dekat gerbang. Yang mereka obrolkan adalah dunia gelut anak-anak. Kelas empat lima sampai enam menurut pengalaman saya ketika praktik mengajar memang kelas dengan energi tubuh berlebih. Untuk menyalurkan energi mereka suka berkelahi dengan anak sebayanya.

Ada anak senior yang lahir dari keluarga warrior, seluruh anggota keluarga dari Ayah, kakak sampai adik hobinya gelut, dia menjadi rujukan teman sekelas dan adik kelas. Kalau berkisah tentang pengalaman dan teknik gelut selalu menarik. Saya suka nguping dan menikmati omongan dia. Misalnya ketika dia tahu ada teknik kuncian Jiu Jitsu baru dengan memanfaatkan dua lengan lawan, ini langsung dipraktikkan. Dia pelaku kuncian, dan korban kuncian berteriak kesakitan menyerah. Wah asyik juga. Ketika ada teman pengajian anak-anak nakal bukan main suka menggoda anak lebih kecil, saya jengkel, langsung saya sergap dengan kuncian Jiu Jitsu yang baru pagi harinya saya lihat praktiknya. Anak badung ini tidak berkutik, menyerah, dan berjanji tidak menggoda anak kecil di pengajian anak-anak.

Zaman itu masing-masing sekolah punya warrior yang biasanya setelah pertandingan kasti atau sepakbola hampir dipastikan dilanjutkan dengan gelut antar anak sekolah yang berbeda yang sebelumnya melakukan pertandingan persahabatan ini. Mereka berjanji gelut di dekat sawah, terlindung gerumbul sehingga tidak ada guru yang tahu. Untungnya anak-anak zaman itu memegang teguh fair play atau paugeran gelut. Misalnya, gelut satu lawan satu. Tidak boleh memakai senjata apa pun. Tidak boleh menggigit. Jika ada yang sudah menyerah kalah, gelut selesai.

Hal yang menakjubkan lainnya adalah, untuk menjadi pendekar di perguruan pencak silat lokal ada beberapa ujian serius. Pertama diuji dalam bertarung dengan mata ditutup, menggunakan senjata pedang. Pendekar pendiri perguruan menjadi wasit. Ujian tarung bersenjata dengan mata tertutup ini dilakukan di sebuah pendapa malam hari dengan lampu dimatikan. Yang terdengar hanya suara besi beradu dan percikan api. Karena punya keterampilan dan kepekaan indrawi setara bertarungan berlangsung seru, dan tidak ada yang terluka. “Cukup! Kalian berdua lulus!” teriak pendekar utama disambut tepuk tangan hadirin yang mengelilingi pendapa yang tadi berdebar dadanya.

Ujian berikut adalah bertarung dengan pendekar dari Madura yang sehari-hari menjadi tukang cukur. Calon pendekar harus bisa bertahan digempur pendekar Madura ini selama sepuluh menit. Kalau tidak tumbang lulus dia.

Ujian berikut cukup ngeri. Peserta ujian pendekar harus mengikuti kemah di dekat sungai Opak. Malam hari harus menyusuri jejak menuju kuburan kuno dengan bangunan cungkup yang gelap. Uji nyali, uji mental dan uji fisik ini berakhir dengan peserta yang lulus diwejang atau diajari ilmu puncak beladiri pencak silat, yaitu ilmu usada atau ilmu menyembuhkan luka, cedera, urat meleset, dan jejamuan. Mendengar cerita kakak pengasuh pengajian yang lulus ujian di makam angker ini tahulah saya bahwa pendekar sejati bukanlah seorang yang ahli mengalahkan orang lain dengan melumpuhkan via jurus serangan, tetapi seorang pendekar sejati adalah orang yang selalu siap menolong orang lain yang menderita dan menyembuhkan orang lain yang terluka. Wow, keren juga simbah-simbah dan kakang-kakang pendekar ini.

Dan pendekar Madura yang tukang cukur ini unik. Dia sering mengadakan forum pertarungan antar pendekar sepuh kota saya, bukan bertarung fisik, tetapi bertarung otak. Pendekar Madura ini menyiapkan papan catur dan mempersilahkan para Mbah pendekar main catur, beradu otak. Logikanya, pertarungan dalam pencak silat pada hakikatnya adalah pertarungan siasat pikiran yang diwakili oleh gerakan fisik. Dengan melihat kemampuan bermain catur akan ketahuan tingkat dan ketinggian berpikir dia, bahkan pola jurus silat bisa dideteksi ketika bermain catur.

Mbah pendekar Trisula Kembar sering hadir di forum pertarungan pikiran ini. Dia mahir memainkan sepasang menteri yang berjalan diagonal ini. Ada pendekar yang ahli bermain anak catur, sepasang kuda. Wah dia pasti ahli tendangan.

Ada juga yang ahli memainkan benteng, tukang gasruk dia dengan kekuatan fisiknya yang besar. Lalu ada pendekar sepuh yang unik dan jenaka. Ia ahli memainkan pion. Pertahanan catur yang dibangun oleh barisan pion sering membuat lawan mumet dan macet serangannya. Keahlian pencak silat Mbah Pendekar jenaka ini sungguh sulit ditebak, saya tidak tahu dia dari aliran pencak silat mana. Hanya ketika anaknya yang adik kelas sekolah guru agama saya tumbuh menjadi pendekar tahulah saya karakter jurusnya. Dia ahli menangkis dan memblokir serangan lawan.

Dan ujian paling berat masih menanti. Meski sudah menyandang gelar pendekar muda masih belum top kalau belum bertarung dengan pendekar aliran lain, termasuk dari negara lain.

Lainnya