Membaca Surat dari Tuhan (32)

Hari-Hari Jakarta Satu

Photo by Tom Fisk from Pexels

Kereta api Senja Yogya melaju dari Stasiun Tugu menuju Stasiun Gambir. Saya salah satu penumpangnaya. Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya naik kereta api. Jurusan jarak jauh, Jakarta. Kalau penumpang pesawat terbang pertama kali mengalami kekagetan berpesawat, saya mengalami apa yang disebut kaget berkereta api. Sekitar dua hari atau tiga hari saya merasa masih terbayang-bayang goyangan gerbong dan bunyi roda besi melindas rel besi diselingi suara peluit berkepanjanan.

Gerbong yang terguncang-guncang, bunyi roda besi yang melindas rel dan terasa menghentak kalau bertemu dengan sambungan rel, bunyi peluit panjang dari arah lokomotif yang tidak begitu keras tetapi menjangkau ke jarak yang jauh dan para penumpang yang memenuhi gerbong sungguh merupakan pengalaman baru saya. Saya sungguh seperti bermimpi. Benarkah saya sedang dalam proses meninggalkan Kotagede dan Yogyakarta? Benarkah Jakarta seperti yang sering dilagukan oleh Darwis Khudori di rumahnya ketika menyanyikan lagunya Dedet E Moerad berdasar puisi Umbu Landu Paranggi, Apa Ada Angin di Jakarta? Apa yang dimaksud angin oleh Umbu? Saya dalam kereta api ini seperti tertantang untuk membuktikannya. Mudah-mudahan di Jakarta masih ada sedikit buat saya, demikian saya berpikir optimis. Sebab kalau di Jakarta benar-benar tidak ada angin, repotlah saya. Sebab saya sudah terlanjur berniat meninggalkan Kotagede, meninggalkan masa lalu saya yang diwarnai luka.

Saya duduk di dekat jendela, bisa menyaksikan pohon-pohon, sawah, gunung dan sungai bergerak ke belakang. Demikian juga bagian punggung sebuah kota atau tempat perlintasan di kota yang kalau kereta lewat banyak sekali kendaraan antre di balik teteg sepur. Saya dapat mengukur kecepatan kereta ini dari pergerakan pemandangan di luar itu. Karena fan atau baling-baling kereta kurang berfungsi dan zaman itu belum musim kereta api memakai AC maka untuk mengurangi udara pengap dan panas, jendela kereta api digunakan sebagai ventilasi. Jendela terbagi dua. Di bagian atas bisa dibuka lebar sehingga udara segar bisa menerobos masuk. Kalau pas hujan, bagian atas jendela ditutup rapat untuk menghindari tempias air.

Saya ada di gerbong ini bersama dengan Mbah Zen, suami dari adik nenek saya yang bungsu. Dia mantan pelaut yang pernah keliling dunia, menyaksikan banyak pelabuhan besar bongkar muat barang dagangan. Dia rutin ke Jakarta untuk menawarkan contoh kerajinan dari bambu dan kombinasi bambu dengan gerabah ke toko souvenir atau mendatangi eksportir barang kerajinan dan melakukan negosiasi sekaligus transaksi. Pengalaman menjadi pelaut penjelajah dunia membuatnya dia cepat bisa mempelajari seluk-beluk ekspor impor barang di pelabuhan.

Mbah Zen ditemani Lik Jazuri, anaknya. Dia seumuran dengan saya dan ketika saya kecil saya sering bermain di rumahnya yang besar berpendapa kokoh. Di pojok halaman rumah ada kandang kambing Jawa yang besar-besar dan bisa dijadikan penarik kereta kecil roda dua, kami sering menggembalakan kambing-kambing ini ke lapangan Karang atau ke Ladang di dekat kali Gajah Uwong. Kami bergantian naik kereta Ben Hur mini ditarik kambing ini sambil teman lain bersorak memberi semangat kepada kambing agar berlari cepat.

Rumah Mbah Zen ini rumah warisan dari Mbah Buyut saya yang juragan batik, melewati proses perundingan anak-anak Mbah Buyut yang rumit dan melibatkan ayah saya sebagai juru runding dan juru damai sehingga akhirnya rumah Mbah Buyut ini disusuki atau dibeli oleh Mbah Zen dan ditempati oleh keluarga Mbah Zen. Menjadi tempat hunian keluarga dan tempat usaha tenun bambu yang bahan bakunya dibeli dari Godean. Selain itu, emper rumah dan pendapa sering dipergunakan untuk pertemuan keluarga besar Bani Yasir. Nama Bani diambil dari nama Mbah Buyut saya. Juga sering dipergunakan untuk pertemuan teman-teman pecinta alam Grup Lapenta Mataram yang saya dan Lik Jazuri menjadi pengurusnya. Bahkan sebelum saya berangkat ke Jakarta ini, pendapa rumah Mbah Zen dipergunakan oleh teman-teman Lapenta berlatih karate perguruan Lemkari atau Lembaga Karatedo Indonesia yang bergabung dalam FORKI atau Federasi Olahraga Karate Indonesia. Saya pernah mencicipi latihan beberapa bulan, masih memegang sabuk putih, yang bagi saya yang berat adalah senam kelenturan dan senam menghimpun kekuatan serta berlatih kecepatan dan ketepatan dalam kombinasi gerakan yang disebut kata. Dan dengan bekal satu dua jurus sederhana meninju dan menangkis ini saya punya kepercayaan diri untuk merantau ke Jakarta. Ditambah jurus lucu dari Ayah saya yang hanya mengajarkan gerakan menghindar atau jurus endha dengan sekali-sekali menangkis. Tanpa jurus menyerang. Tetangga yang berasal dari Banyumas, dia tukang cukur keliling, malah pernah mengenalkan kepada anak-anak kampung jurus mundur lima belas langkah. Jadi ternyata di dunia ini selain ada puisi humor juga ada jurus pencak humor seperti jurus endha dan jurus mundur lima belas langkah itu.

Rupanya, keluarga besar saya berkomplot untuk memberangkatkan saya ke Jakarta. Tujuannya jelas agar saya jelas mendapat pekerjaan yang jelas sehingga mudah mencari jodoh dan mudah diterima calon mertua. Cukup sudah kisah patah hati karena tidak jelasnya pekerjaan yang saya alami. Aktivitas saya yang seperti baling-baling ikut kegiatan banyak organisasi dan komunitas di Kotagede dan Yogya tidak dikategorikan sebagai bekerja atau latihan bekerja. Termasuk kegiatan saya menulis dan menjadi guru privat di tiga keluarga juragan di Kotagede. Memang menghasilkan uang. Tetapi dianggap jauh di bawah standar harapan orang tua dan keluarga besar saya di Kotagede. Saya pernah meminta kartu C7 untuk memudahkan pengambilan honor di Kantor Pos dan ketika meminta cap di Kelurahan, staf Kelurahan tersenyum kecut melihat saya berani mencantumkan pengarang sebagai pekerjaan saya. Hanya petugas di Kantor Pos yang berwajah gembira setiap saya menguangkan pos wesel yang saya lengkapi dengan kartu itu. Honor cerita anak-anak dari majalah Kawanku, atau honor dari pemuatan puisi di Majalah Panji Masyarakat biasanya dikirim lewat pos wesel.

Lainnya