Membaca Surat dari Tuhan (18)

Berjaga di Tengah Situasi Krisis

Photo by Jon Moore on Unsplash

Hari pertama praktik lapangan menjadi wartawan saya memilih Terminal bus Pulo Gadung Jakarta Timur. Saya ingin menulis berita kisah tentang suka duka pedagang asongan. Saya ikut nongkrong di simpang empat dan ngobrol saat lampu hijau menyala dan kendaraan di situ melaju. Pengasong masih muda, kebanyakan anak perantau dari Jawa. Saya mengenalkan diri sebagai orang asal Jawa (luar Jakarta) dan sedang berlatih jadi wartawan. Mereka dengan senang hati menjawab pertanyaan saya.

Kemudian saya masuk terminal dan menemui pengasong yang tengah bergerombol di sebuah sudut. Semua bus kota yang ngetem di terminal sudah mereka masuki. Satu dua barang mereka laku. Biasa yang laku adalah rokok dan permen. Pada zaman itu biasa penumpang bis merokok di dalam bis. Bisa dibayangkan, di siang bolong yang panas asap rokok mengepul dan bergelombang bergerak di atas kepala penumpang.

Ketika rombongan bus bergerak keluar terminal, tiba-tiba ada orang berteriak, “Awas petugas. Lari!” Spontan saya berteriak, “Zig-zag! Zig-zag!” Petugas ketertiban meniup peluit mengejar dan ingin menangkap pedagang asongan tetapi gagal karena mereka berlari dengan gaya zig-zag.

Saya ikut lari zig-zag dan diajak oleh seorang pedagang asongan bersembunyi di sebuah warung nasi rames yang ternyata pemiliknya adalah ibu dari salah satu dari pengasong. Teman teman dia yang tadi berlarian menyebar kemudian ternyata juga bersembunyi di warung ini. Mereka tertawa gembira karena tadi berhasil mengecoh petugas penertiban. Mereka berterima kasih kepada saya karena tadi berteriak zig-zag. Mereka makin terbuka ketika saya traktir makan siang lengkap dengan minuman teh atau wedang jeruk penyegar kerongkongan.

Saya masih menyimpan uang lumayan banyak karena beberapa hari lalu mengambil honorarium cerita anak saya yang dimuat di majalah Kawanku.

Kami ngobrol dengan santai dan saya mendapat bahan laporan berita kisah atau feature yang ketika saya sodorkan hasilnya ke pimpinan Balai Pendidikan Wartawan, dipuji sebagai laporan yang bagus.

Menjadi wartawan ternyata harus siap berjaga, terjaga, dan berjaga-jaga di tengah situasi krisis atau keadaan genting. Ketika petugas di peluit itu para pengasong panik, di tengah situasi genting saya spontan berteriak zig-zag, seperti kalau di masa kecil bermain kejar kejaran, atau ketika bermain bola sedang memegang bola dikejar pemain lawan, dengan jurus berlari zig-zag kita bisa membebaskan diri dari kejaran lawan atau petugas penertiban.

Situasi genting ketika meliput berita sering saya temui dan saya harus punya cadangan ide, dan begitu masuk area kejadian saya harus sudah memasang semacam ajian tameng waja berupa ajian berjaga dan terjaga dengan kesadaran penuh.

Suatu hari saya hampir gagal mewawancarai ketua panitia festival film yang diadakan di Yogyakarta. Ketua panitia sudah masuk hotel dan gerbang hotel dijaga ketat oleh regu pengamanan yang sangar. Kalau saya memakai cara biasa pasti tidak bisa menemui ketua panitia itu.

Untungnya saya ingat panggilan akrab ketua panitia itu. Dengan gaya pemain teater yang hafal naskah drama, dengan suara yang meyakinkan maka petugas keamanan saya gertak dengan sopan, “Saya sudah ditunggu oleh Bang Anu di kamar beliau. Kamar berapa bisa saya ketuk?”

Mendengar itu, petugas keamanan ragu saya berkata, “Saya sudah janjian untuk ketemu dengan Bang Anu. Apa perlu saya telepon dia lewat telepon umum itu?”

Saya menunjuk kotak telepon umum di dekat tempat itu. Maklum waktu itu belum musim handphone, baru musim telepon umum. “Jangan Mas, nanti Bapaknya marah,” spontan salah satu petugas keamanan berkata cepat, takut kesalahan.

Saya diberi petunjuk tentang nomor kamar Ketua Panitia. Saya ketuk kamar dia, dan dia kaget melihat saya bisa masuk hotel padahal dia sudah memerintahkan semua petugas keamanan untuk melarang siapapun masuk hotel menemui dia.

“Saya wartawan Mas, punya seribu cara untuk menembus nara sumber,” jawab saya sambil tersenyum. Dia tertawa. Wawancara pun berjalan lancar dan saya tidak ketinggalan deadline pemuatan.

Saya waktu itu sudah jadi redaksi surat kabar dan mengasuh halaman daerah. Ketika suatu musim kampanye pemilu ada bentrokan dan petugas keamanan menembakkan peluru. Salah seorang mahasiswa universitas swasta tertembak dan luka parah, dirawat di sebuah rumah sakit. Sekian jam sebelum mahasiswa itu meninggal, koresponden daerah yang cerdas bisa masuk menerobos rumah sakit dan bisa menemui mahasiswa yang luka parah di kamar perawatan.

Dia berhasil membuat berita lengkap, lebih lengkap dari press release yang dimuat di teleks kantor berita resmi. Koresponden ini menempuh jarak puluhan kilometer untuk sampai ke kantor. Ketika dia menyerahkan berita dan saya bandingkan dengan berita dari kantor berita resmi, saya menggelengkan kepala. “Bagaimana cara Mas bisa wawancara dengan korban penembakan petugas itu sebelum dia meninggal?” tanyaku penasaran.

Dia tertawa. Lalu dengan gaya bintang film Marlon Brando dalam film Last Tango in Paris dia bercerita. Suara dia meyakinkan, mungkin dia pernah belajar teater.

“Saya awalnya dilarang masuk rumah sakit. Saya minta izin ke toilet, diperbolehkan. Saya lihat ada pakaian dokter tergantung di dekat sebuah pintu kamar istirahat dokter. Kostum dokter itu saya sambar. Di kamar mandi saya kenakan baju dokter yang pas ukurannya dengan tubuh saya.” Saya lalu mendatangi kamar perawatan yang dijaga tentara. Saya awalnya dilarang masuk kamar. Lalu saya bertanya dengan gaya setengah marah, “Sejak kapan dokter tidak boleh masuk kamar perawatan pasien?”

Mendengar pertanyaan saya ini petugas membuka pintu kamar perawatan. Saya berhasil mewawancarai mahasiswa itu setelah mengaku sebagai wartawan yang akan membuat berita memihak dia. Saya kemudian keluar kamar perawatan, mengembalikan pakaian dokter, pura-pura masuk toilet lagi dan membasahi wajah saya. Saya keluar rumah sakit. Ee, petugas yang mengizinkan saya toilet sempat sempat bertanya,

“Lho kok ke toiletnya lama Pak?”

“Apa ada larangan ke toilet lama-lama? Dan lagi siapa yang tahu jadwal saya harus buang air?”

Petugas itu tertawa kecut dan membebaskan wartawan daerah lolos.

Ketika koresponden daerah ini saya komentari sebagai terlalu banyak nonton film Mission Impossible, The Man Uncle, MC Giver, dia tertawa terbahak-bahak.

“Menjadi wartawan harus cerdik Mas. Harus sigap menemukan pemecahan masalah yang dihadapi.”

Saya setuju dengan pendapat dia. Saya salami dia.

“Kalau kita lengah dan tidak berjaga, terjaga, dan berjaga-jaga menghadapi situasi sulit, bisa rugi kita,” kataku.

“Ya, Mas kita bisa rugi dan gagal mendapatkan berita,” sahutnya.

Selain berjaga, terjaga, dan berjaga-jaga waktu menghadapi situasi krisis atau kritis yang mendadak muncul, seorang wartawan harus punya cadangan imajinasi dan intuisi untuk spontan beraksi meloloskan diri dari situasi genting.

Saya dan seorang wartawan foto betul-betul mumet. Satu jam lebih bolak-balik mencari sebuah alamat tidak ketemu. Sebagai mantan kakak pembina Pramuka dan pecinta alam yang ahli mencari jejak kali ini betul-betul kena batunya. Sebagai penggemar buku petualangan di rimba Amerika bergaul dengan karya Karl May sampai sok tahu dunia orang Indian dan suku Badui di Afrika Utara saya justru tidak berdaya ketika di tengah rimba metropolitan jejak ini menghilang.

Bagaimana mungkin nomor rumah Prof. Dr. Deliar Noer peneliti Islam modern dan moderat yang diberikan oleh tokoh senior HMI disertai password untuk bertemu profesor ini tidak ada dalam kenyataan? Kami sudah mengurutkan nomor itu bolak balik dari dua sisi jalan.

Piye iki? Kalau kami gagal menemukan rumah ini, sungguh memalukan. Sebagai wartawan kami sudah didoktrin harus bisa menemukan alamat meski tempat itu jauhnya ribuan kilometer dan belum pernah datang ke tempat itu. Sebagai penggemar buku detektif, buku spionase lawasan atau baru dan gemar menonton film petualangan semacam Indiana Jones saya dan teman wartawan foto sebenarnya pantang menyerah. Kedatangan kami di Jakarta ini adalah setelah kami berpetualang ke kota Tasikmalaya mencari teman sekolah dasar wartawan foto yang katanya seniman. Dengan teknik mengembangkan jaringan teman-teman sastrawan yang saya miliki alamat teman SD itu ditemukan.

Karena capek dan lapar kami mencari warung Tegal. Makan nasi rames dan minum teh manis panas. Sambil menuangkan teh panas ke cawan lalu membiarkan minuman panas berubah hangat saya menggali ingatan dan mengembangkan jaringan imajinasi saya tentang Jakarta dan polanya bagaimana Jakarta berubah. Sekian puluh tahun sebelumnya saya pernah merantau ke kota ini dan relatif mengenal pelosoknya. Apalagi ada keluarga istri yang rumahnya njepit di belakang pasar Kramatjati saja bisa saya temukan. Dan saya ingat, suatu hari bersama istri dan Tante istri saya berziarah di sebuah makam. Ternyata makam ini telah terbelah oleh jajan raya baru. Makam keluarga pun terbagi dua kelompok. Satu kelompok di kanan jalan dan kelompok lain di kiri jalan.

Waktu itu saya spontan ingat bagaimana penyair dan sastrawan yang berasal dari pedalaman Kalimantan, Mas Korrie Layun Rampan pernah cerita kalau kampung tempat dia tinggal di Jakarta terbelah jadi dua oleh jalan raya baru. Alamatnya persis di dekat makam yang kami ziarah ini. Byar. Saya menemukan jawaban dari teka-teki habisnya nomor rumah di jalan depan warung makan Tegal ini.

Di tengah situasi kritis karena alamat belum diketemukan ini saya dengan berjalan cepat, setelah membayar harga makanan di warung, menyeberang jalan besar untuk menemukan potongan jalan yang sepertinya di belah jalan baru ini. Betul. Nomor rumah di seberang jalan baru ini ketemu. Tetapi kemudian kami harus berhadapan dengan persimpangan jalan. Simpang tiga. Kami memilih jalan lama yang agak sepi. Ketemulah rumah Prof. Dr. Deliar Noer.

Setelah mengucapkan password saya dan teman wartawan foto diterima dengan baik oleh beliau. Apalagi ketika saya bilang pernah ketemu beliau di pertemuan tertutup para alumni HMI di utara Yogyakarta. Beliau masih ingat pertemuan itu. Makin hangat saja tanggapan beliau, dengan tergopoh-gopoh mengajak kami masuk ruang perpustakaan beliau. “Di sini saja wawancaranya. Sambil menunggu teh panas dan kue kue datang,” katanya.

Sambil mendengarkan beliau berbicara pelan tetapi tegas, dan ini direkam sepengetahuan beliau, di dalam kepala terngiang bahwa imajinasi dilengkapi file ingatan tertentu bisa menjadi perlengkapan berjaga dan terjaga di tengah situasi krisis apa pun.

Saya ingat cerita Ayah bagaimana di tengah situasi genting Ayah bisa bertindak cepat karena kesadarannya selalu terjaga, bahkan bersiaga. Waktu itu Ayah bertugas mengawal gerbong barang berisi beras yang akan di bawa ke gudang beras milik tentara di dekat stasiun Lempuyangan. Dalam perjalanan dari Jawa Timur, ee di sebuah stasiun kereta api kereta berhenti dan gerbong beras itu dilepas. Dengan cepat Ayah melompat, lalu berlari cepat setengah terbang menemui kepala stasiun sambil memperlihatkan surat tugas dari komandan. “Cepat Pak, sambung kembali gerbong barang itu. Kami membawa beras untuk dibawa ke markas komando kami di Yogya. Apakah Bapak berani bertanggung jawab kalau seluruh tentara di Yogya kelaparan? Bisa dibayangkan Pak apa yang akan terjadi dengan bapak dan Stasiun ini.”

Mendengar itu, Kepala Stasiun ketakutan dan memerintahkan anak buahnya menyambung kembali gerbong barang berisi beras dengan lokomotif dan mengirim kode perjalanan kereta api agar lokomotif ini melaju menuju Yogya.

Sebagai wartawan yang pernah bertugas di zaman Orde Baru juga sebagai redaksi atau malah wakil pemimpin redaksi atau sebagai redaktur pelaksana saya berkali-kali dipaksa hadir di tengah situasi kritis atau genting mendebarkan. Misalnya, pernah ada wartawan yang lugu membuat “kesalahan” menulis berita sensitif.

Pimpinan koran dipanggil pimpinan Korem untuk dimintai keterangan. Redaktur jaga ketakutan, demikian juga wartawan yang menulis berita itu. Pak Moehadi Sofyan selaku Pemimpin Redaksi dan saya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi bersama redaktur jaga datang ke Korem. Kami masuk lewat pintu samping, jalan masuk menuju kantor kepala seksi Intel. Di pos penjagaan kami diminta meninggalkan KTP untuk ditukar dengan kartu tanda sebagai tamu. Waktu memberikan KTP, Pak Moehadi Sofyan berbisik-bisik kepada petugas jaga lalu mengangguk-angguk. Saya tidak tahu apa yang dibisikkan, baru beberapa detik kemudian ternyata itu amat penting.

Lainnya