Membaca Surat dari Tuhan (34)

Hari-Hari Jakarta Tiga

Photo by Nur Andi Ravsanjani Gusma from Pexels

Di akademi militer diajarkan bukan saja bagaimana teknik fight (berkelahi), combat (bertarung), taktik memenangkan battle (pertempuran) tetapi juga dilengkapi pelajaran strategi memenangkan war (perang). Intinya tetap, kegiatan yang sungguh-sungguh puncak dengan risiko maksimal dengan hasil yang maksimal pula. Tidak setengah-setengah. Yang setengah-setengah, baik setengah mentah atau setengah matang, silakan minggir. Akademi militer semua berwatak spartan. Demikian juga ketika saya dan anak-anak muda lain mengikuti pendidikan jurnalistik di Jalan Gunung Sahari Jakarta ini. Kami dilatih untuk ‘berkelahi’, bertarung, bertempur dan berperang melawan ide, melawan kata-kata, melawan kalimat, melawan paragraf, melawan judul berita, dan memenangkan pertempuran untuk menghasilkan berita kelas satu, terdepan nomor satu, dan relatif tanpa cacat dalam penulisan. Itu doktrin yang ditanamkan ke dalam kesadaran kami. Menulis berita kok kedahuluan koran lain, memalukan. Apalagi isi beritanya kedodoran, tidak selengkap dan sedalam koran lain. Berita yang ditulis harus berkualitas fasih menurut ilmu Balaghah, atau masuk kategori al-bayyinah menurut ilmu Tafsir dan menjadi sesuatu yang tabligh kalau menurut komunikasi model Rasulullah. Jadi bukan berita sekadar berita.

Sejak hari pertama kami masuk dan belajar di lantai dua sebuah gedung di Jalan Gunung Sahari ini, kami sudah diperkenalkan dengan simulasi-simulasi pertarungan melawan fakta dan kata-kata. Maksudnya, kami aktif mengerjakan simulasi-simulasi bagaimana menaklukkan fakta, menaklukkan kata, kalimat, paragraf, dan memanfaatkan kecepatan berpikir dan bertindak secara intelektual yang logis sekaligus humanis. Kami langsung paham pada detik pertama pendidikan jurnalistik ini. Kenapa setiap hari harus membawa koran sore hari itu. Menurut penuturan mentor atau instruktur pendidikan jurnalistik, koran sore lebih maju sehari pemberitaannya, kejadian pagi dan siang, sore sudah muncul. Berita yang sama baru muncul esok hari di koran pagi.

Kami belajar dari belakang. Dari praktik menuju teori. Jadi lembaga pendidikan wartawan ini menggunakan metode pembelajaran yang tidak biasa, metode pembelajaran meloncat, metode pembelajaran kuantum atau quantum learning. Metode ini yang kemudian hari saya adopsi, dilengkapi dengan metode pelatihan fungsional model LSM, saya oplos menjadi metode learning by writing. Tentu dalam suasana yang menggembirakan (fun), menyegarkan (fresh) dan mencerdaskan (smart). Suasana pembelajaran di lembaga pendidikan wartawan Jakarta ini memang demikian. Kami gembira, segar dan mudah untuk menjadi lebih cerdas. Mentor kami suka bercanda sebagaimana biasa orang Sunda, tetapi juga serius sebagaimana wartawan senior.

Untung tahun-tahun sebelumnya saya sudah dihajar oleh Umbu Landu Paranggi bagaimana menulis puisi yang padat makna dan padat kata. Dengan demikian ketika saya mendapat tugas meringkas berita dari sekian puluh kata menjadi lebih seringkas mungkin tanpa mengurangi substansi berita saya tidak mengalami kesulitan. Dengan cepat saya ‘membersihkan’ berita yang banyak kata kemudian menyusunnya kembali menjadi berita yang liat dan mirip manusia bertubuh atletis. Sang mentor jarang mengeluhkan hasil editing saya ini. Dan saat itu kami kemudian memasuki bulan puasa. Pelajaran simulasi editing berakhir dan kami terjun ke lapangan memburu berita. Agar tidak kaget, kami mula-mula bergerak berombongan, lalu dalam kelompok kecil dan akhirnya memburu berita di Jakarta dengan secara individual. Saya memilih mewawancarai pedagang asongan di terminal Pulo Gadung yang waktu itu mulai ditertibkan dan sering main kucing-kucingan atau main tikus-tikusan dengan petugas penertiban. Ini pengalaman yang seru. Saya menulis berita dari sudut pandang kepentingan pedagang asongan yang mereka sudah susah-susah merantau ke Jakarta mendapat pekerjaan sebagai pedagang asongan dan menemui tantangan berat karena harus ditertibkan.

Saat kegiatan memburu berita dan menuliskan berita dianggap cukup kami diberi sertifikat dengan kartu tugas sebagai wartawan dalam pelatihan. Ini untuk memudahkan pekerjaan kami kalau mungkin suatu saat ditanyakan identitas kami selama bekerja menjadi wartawan. Kami senang-senang saja. Dan setahu saya, waktu saya praktik mencari berita di Jakarta dan beritanya saya kirim ke Harian Masa Kini, berita-berita budaya, seni dan sastra tidak pernah ditanya identitas saya. Dan sebelum kami dilepas, kami mendapat tugas membuat semacam tulisan paper, merumuskan apa yang kami peroleh selama pendidikan. Ini semacam skripsi dalam bentuk yang amat mini. Paper saya diterima dengan baik oleh mentor. Pendidikan dinyatakan selesai. Bulan puasa memasuki tanggal akhir.

Untuk pertama kali dalam hidup, saya shalat Idul Fitri di rantau. Jauh dari orangtua dan saudara. Saya diajak jamaah shalat Id di sebuah halaman kantor dinas. Saya membaca takbir dengan mata basah. Biasanya saya shalat Id di lapangam Giwangan. Berjalan kaki dari kampung bersama jamaah tarawih kampung, ibu dan saudara. Ayah shalat di Masjid Gede bersama abdi dalem dan orang-orang tua yang tidak kuat lagi berjalan satu kilometer menuju lapangan Giwangan. Sebenarnya ayah masih kuat berjalan berkilo-kilometer. Tetapi ayah memilih shalat di masjid karena menemani seorang kiai sepuh kenalan akrab ayah. Kiai itu berasal dari Banyumas, kakak tukang cukur atau pendekar yang mengajarkan jurus mundur lima belas langkah itu. Kiai ini bukan tukang cukur. Dia ahli membaca kitab kuning. Dia sering dimintai ceramah agama dan selalu membawa rujukan kitab kuning sesuai topik yang diminta oleh takmir masjid. Dia seusia dengan Pak Pengulu yang sering menjadi imam masjid. Pak Kiai ini jarang mengimami jamaah. Sebagai bukti bahwa ayah dekat hubungannya dengan kiai ini, setiap hari pertama Idul Fitri ayah selalu mengajak saya bersilaturahmi, atau ujung, ke rumahnya. Ruang tamu dia khas kiai. Ada meja dipenuhi toples penganan. Ada koleksi kitab kuning. Dan seingat saya dia tidak merokok. Tidak ada bau asap rokok di kamar tamu, hanya bau lembut minyak khas pesantren. Ketika kami bertanya, selalu disuguh teh panas dalam cangkir porselen kecil yang ditata di atas cawan porselen. Ada gambar bunga di cangkir dan di cawan. Ada teko porselen yang ditutup dengan tekosi atau bantal mirip kopiah untuk menjaga agar panas air teh terjaga.

Lainnya