Toto Rahardjo

Pendiri Komunitas KiaiKanjeng, Pendiri Akademi Kebudayaan Yogyakarta. Bersama Ibu Wahya, istrinya, mendirikan dan sekaligus mengelola Laboratorium Pendidikan Dasar “Sanggar Anak Alam” di Nitiprayan, Yogyakarta

Website Twitter Facebook Google+
Rihlah Cammanallah

Rihlah Cammanallah: Perjalanan ke Bunda Cammana

Setelah lima tahun yang lalu Cak Nun dan KiaiKanjeng melakukan perjalanan cinta di Bumi Mandar dalam rangkaian acara Syafinatunnajah (2011), pada tanggal 29 April 2016 ini Cak Nun dan KiaiKanjeng akan melakukan kembali perjalanan penawar rindu kepada sesama saudara di Bumi Mandar.

Belajar Seperti Petani

Sejak tanggal 3 Februari 2016 CAKNUN.COM secara berturut-turut menghadirkan tulisan di Rubrik Daur, Asepi dan menghidupkan kembali rubrik Khasanah sebagai media “pasinaon” Jamaah Maiyah dalam bentuk tulisan untuk melengkapi pembelajaran yang telah ada berupa majelis ilmu Mocopat Syafaat, Bangbang Wetan, Padhangmbulan, Kenduri Cinta, dll maupun melalui sarana semisal Youtube.

Kesadaran Organisme Maiyah

Sudah sekian tahun, dan mungkin akan demikian ke depannya, Maiyah meniti kesabaran untuk tidak tergoda memadatkan dirinya menjadi suatu identitas komunal tertentu, apakah itu organisasi massa (ormas), perkumpulan, yayasan, perguruan, atau bentukan-bentukan lain.

Membangun Kepengasuhan Perkauman Maiyah

Majelis Ilmu Maiyah digagas dan dibangun dengan terkandung cita-cita di dalamnya selain sebagai media tukar pikiran, tempat untuk menggodog gagasan, sarana untuk menggembleng cara berpikir, wahana untuk mengolah rasa, serta bisa saja perkembangannya untuk merancang strategi, juga diharapkan akan melahirkan manusia-manusia maiyah yang memiliki greget atau ghirah (compassion) yang berjiwa kepengasuhan baik bagi dirinya, keluarga, maupun komunitas di sekelilingnya.

Ilustrasi Artikel: Masyarakat Lebah Tidak Individual

Masyarakat Lebah Tidak Individual

Ketika seseorang, komunitas ataupun organisasi bermaksud untuk mewujudkan cita-cita dan impiannya;  di mana manusia saling menghargai, menghindari penindasan, terus menerus menumbuhkan cinta kasih, waspada terhadap setiap gejala ketidak-adilan, peka untuk tidak terjerumus ke dalam perilaku diskriminasi, merendahkan sesama manusia atau sebaliknya: menjunjung manusia terlalu berlebihan sehingga men-dewa-kannya.

Maiyah untuk Pembebasan

Perubahan sosial dan budaya menuju keadilan, kesejahteraan, kesetaraan dan kemakmuran bangsa, bisa dimulai dari penggalangan jamaah.