CakNun.com

Sinergi Lintas Generasi Membangun “Home of All Season

Tasyakuran 11 Tahun Maneges Qudroh

Sabtu malam (5/2) teman-teman Maneges Qudroh melingkar bersama mengungkapkan syukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya sehingga Maneges Qudroh tetap berjalan hingga menapaki usia ke-11 pada bulan Februari ini, tepatnya pada tanggal 5. Sebelumnya, undangan Milad ke-11 Maneges Qudroh telah di-share via grup whatsapp “Maiyah Magelang” dan mengajak siapapun yang ingin mengikuti acara tasyakuran ini.

Dok. Maneges Qudroh

Ba’da isya’, dulur-dulur mulai datang di aula Panti Daarus Sundus, tempat berlangsungnya acara. Tak hanya remaja dan orang tua, akan tetapi beberapa anak-anak juga nampak diajak oleh orang tuanya pada acara malam ini. Kedatangan generasi baru ini diambil sebagai kesempatan untuk mengundang para adek-adek ini untuk ikut memeriahkan acara dan diajak maju ke depan.

Setelah acara dibuka oleh Mas Eko, shalawatan pun menjadi lemekan acara tasyakuran sebagai suatu manifestasi upaya menghadirkan Kanjeng Nabi di dalam hati kita masing-masing. Dan shalawatan ini dipimpin langsung oleh adek-adek yang sangat berani tampil di depan. Dengan panduan langsung dari Mas Virdhian dan Mas Eko, adek-adek ini sangat fasih dan luwes melantunkan beberapa lagu shalawat Munajat Maiyah.

Ada suasana keindahan yang memadu antara kegembiraan dan kekhusyukan. Suara adek-adek dengan pengeras suara memberikan warna kegembiraan, sementara iringan suara dari dulur-dulur menjadi backsound yang menggemakan kekhusyukan. Setidaknya, suasana ini sedikit memberikan ketenangan akan adanya benih-benih perjuangan yang sudah mulai tumbuh dalam Maiyah untuk masa yang akan datang.

Tak berhenti di situ, setelah shalawatan adek-adek ini masih “ditodong” pertanyaan dan permainan yang tentu saja banyak mengundang tawa malam itu. Atas keberanian adek-adek tersebut, alhamdulillah ada reward serta apresiasi dari Mas Slamet yang secara spontan memberikan “bonus” kepada adek-adek ini.

Rangkaian agenda berikutnya adalah menceritakan kembali perjalanan Maneges Qudroh yang banyak diceritakan oleh para penggiat generasi awal. Maneges Qudroh ini merupakan simpul pertama yang diinisiasi langsung oleh jamaah dan selalu berupaya untuk melangkahdengan prinsip kemandirian. Sebisa mungkin Maneges Qudroh selama 11 tahun ini terus melingkar, berlajar bersama, serta meneguhkan tali persaudaraan satu dengan yang lainnya.

Beberapa dulur-dulur yang lain kemudian menyambung tentang awal mula bersinggungan dengan Maneges Qudroh, salah satunya dari Mas Wahyu. Mas Wahyu yang sebelumnya merupakan jamaah Jamaah Tabligh ini menceritakan bahwa awal mula dirinya sangat tertarik dengan Maiyah, pada satu ketika Mas Wahyu datang ke Rumah Maiyah Kadipiro untuk mencari informasi perihal bagaimana mekanisme untuk mengadakan sinau bareng, dan setelah mendapat informasi tersebut, salah satu yang Mas Wahyu juga disarankan untuk tersambung dengan dulur-dulur simpul Maneges Qudroh sebagai tempat perkumpulan Jamaah Maiyah di Magelang.

Lain lagi dengan Mas Taufan, yang awal mula bertemu dulur-dulur Maneges Qudroh adalah ketika diperjalankan dalam suasana yang tidak terduga dan sedikit tegang. Tapi, dirinya memberanikan diri untuk ikut menemani salah satu sedulur Maiyah di situ. Singkat cerita, bagi Mas Taufan sendiri, pertemuan dengan dulur-dulur Maneges Qudroh rasanya seperti dipertemukan dengan kakak-kakak dan yang baru. Tentu tak lepas dengan pertemuan atas satu kecintaan yang sama.

Mbah Nun sebagai orang tua, Bapak, atau Mbah telah menitipkan rumah bernama Maneges Qudroh untuk dijaga bersama. Sebagai anak-cucunya, sudah sepantasnya dulur-dulur di wilayah Magelang untuk ikut merawatnya.

Dok. Maneges Qudroh

Di dalam Maiyah sendiri sudah kita kenal bersama ada idiom “berebut melayani”, bukan saling melayani yang terkesan transaksional. Kita sebagai anak-cucu sudah banyak diberikan bekal ilmu oleh Mbah Nun, layaknya kasih sayang orangtua yang memberikan segala upayanya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Meski orangtua tidak berharap kembalian apapun, selain “sing penting le sinau sing tenanan ya, Le/Nduk!” Namun, sebagai anak cucu yang telah mendapat ilmu, tidakkah kita mulai berani untuk menginisiasi diri untuk membuatkan kopi untuk beliau? Atau setidaknya, ikut nyapu, ngepel, nyirami tanduran yang ada di rumah (Maneges Qudroh) yang beliau titipkan?

Setelah banyak dulur-dulur berbagi cerita, acara puncak pemotongan tumpeng sebagai acara simbolik tasyakuran malam hari dilakukan. Adek-adek diberikan kesempatan untuk menerima tumpeng dari para kakak-kakak sepuh generasi awal Maneges Qudroh, dengan harapan semoga tongkat estafet perjuangan akan selalu dipertahankan dan diteruskan.

Pada acara tasyakuran kali ini, setidaknya terjadi bebrayan antar lintas generasi yang terjadi secara natural. Sinergi antar generasi harus tetap dibangun dan diperkuat agar rumah (Maneges Qudroh) yang dititipkan oleh Mbah Nun ke depannya mampu lebih indah dan memberikan banyak manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Sehingga Maneges Qudroh menjadi “home of all season”, rumah yang mampu berdiri di segala musim dan menjadikan dulur-dulur merasa selalu aman dan nyaman untuk selalu kembali berkumpul bersama. Serta menjadi Telaga Cahaya yang menerangi dan menyejukkan hati dulur-dulur semua.

Panti Daarus Sundus, 5 Februari 2022

Dok. Maneges Qudroh

Sabtu malam (5/2) teman-teman Maneges Qudroh melingkar bersama mengungkapkan syukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya sehingga Maneges Qudroh tetap berjalan hingga menapaki usia ke-11 pada bulan Februari ini, tepatnya pada tanggal 5. Sebelumnya, undangan Milad ke-11 Maneges Qudroh telah di-share via grup whatsapp “Maiyah Magelang” dan mengajak siapapun yang ingin mengikuti acara tasyakuran ini.

Ba’da isya’, dulur-dulur mulai datang di aula Panti Daarus Sundus, tempat berlangsungnya acara. Tak hanya remaja dan orang tua, akan tetapi beberapa anak-anak juga nampak diajak oleh orang tuanya pada acara malam ini. Kedatangan generasi baru ini diambil sebagai kesempatan untuk mengundang para adek-adek ini untuk ikut memeriahkan acara dan diajak maju ke depan.

Setelah acara dibuka oleh Mas Eko, shalawatan pun menjadi lemekan acara tasyakuran sebagai suatu manifestasi upaya menghadirkan Kanjeng Nabi di dalam hati kita masing-masing. Dan shalawatan ini dipimpin langsung oleh adek-adek yang sangat berani tampil di depan. Dengan panduan langsung dari Mas Virdhian dan Mas Eko, adek-adek ini sangat fasih dan luwes melantunkan beberapa lagu shalawat Munajat Maiyah.

Ada suasana keindahan yang memadu antara kegembiraan dan kekhusyukan. Suara adek-adek dengan pengeras suara memberikan warna kegembiraan, sementara iringan suara dari dulur-dulur menjadi backsound yang menggemakan kekhusyukan. Setidaknya, suasana ini sedikit memberikan ketenangan akan adanya benih-benih perjuangan yang sudah mulai tumbuh dalam Maiyah untuk masa yang akan datang.

Tak berhenti di situ, setelah shalawatan adek-adek ini masih “ditodong” pertanyaan dan permainan yang tentu saja banyak mengundang tawa malam itu. Atas keberanian adek-adek tersebut, alhamdulillah ada reward serta apresiasi dari Mas Slamet yang secara spontan memberikan “bonus” kepada adek-adek ini.

Rangkaian agenda berikutnya adalah menceritakan kembali perjalanan Maneges Qudroh yang banyak diceritakan oleh para penggiat generasi awal. Maneges Qudroh ini merupakan simpul pertama yang diinisiasi langsung oleh jamaah dan selalu berupaya untuk melangkahdengan prinsip kemandirian. Sebisa mungkin Maneges Qudroh selama 11 tahun ini terus melingkar, berlajar bersama, serta meneguhkan tali persaudaraan satu dengan yang lainnya.

Beberapa dulur-dulur yang lain kemudian menyambung tentang awal mula bersinggungan dengan Maneges Qudroh, salah satunya dari Mas Wahyu. Mas Wahyu yang sebelumnya merupakan jamaah Jamaah Tabligh ini menceritakan bahwa awal mula dirinya sangat tertarik dengan Maiyah, pada satu ketika Mas Wahyu datang ke Rumah Maiyah Kadipiro untuk mencari informasi perihal bagaimana mekanisme untuk mengadakan sinau bareng, dan setelah mendapat informasi tersebut, salah satu yang Mas Wahyu juga disarankan untuk tersambung dengan dulur-dulur simpul Maneges Qudroh sebagai tempat perkumpulan Jamaah Maiyah di Magelang.

Lain lagi dengan Mas Taufan, yang awal mula bertemu dulur-dulur Maneges Qudroh adalah ketika diperjalankan dalam suasana yang tidak terduga dan sedikit tegang. Tapi, dirinya memberanikan diri untuk ikut menemani salah satu sedulur Maiyah di situ. Singkat cerita, bagi Mas Taufan sendiri, pertemuan dengan dulur-dulur Maneges Qudroh rasanya seperti dipertemukan dengan kakak-kakak dan yang baru. Tentu tak lepas dengan pertemuan atas satu kecintaan yang sama.

Dok. Maneges Qudroh

Mbah Nun sebagai orang tua, Bapak, atau Mbah telah menitipkan rumah bernama Maneges Qudroh untuk dijaga bersama. Sebagai anak-cucunya, sudah sepantasnya dulur-dulur di wilayah Magelang untuk ikut merawatnya.

Di dalam Maiyah sendiri sudah kita kenal bersama ada idiom “berebut melayani”, bukan saling melayani yang terkesan transaksional. Kita sebagai anak-cucu sudah banyak diberikan bekal ilmu oleh Mbah Nun, layaknya kasih sayang orangtua yang memberikan segala upayanya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Meski orangtua tidak berharap kembalian apapun, selain “sing penting le sinau sing tenanan ya, Le/Nduk!” Namun, sebagai anak cucu yang telah mendapat ilmu, tidakkah kita mulai berani untuk menginisiasi diri untuk membuatkan kopi untuk beliau? Atau setidaknya, ikut nyapu, ngepel, nyirami tanduran yang ada di rumah (Maneges Qudroh) yang beliau titipkan?

Setelah banyak dulur-dulur berbagi cerita, acara puncak pemotongan tumpeng sebagai acara simbolik tasyakuran malam hari dilakukan. Adek-adek diberikan kesempatan untuk menerima tumpeng dari para kakak-kakak sepuh generasi awal Maneges Qudroh, dengan harapan semoga tongkat estafet perjuangan akan selalu dipertahankan dan diteruskan.

Pada acara tasyakuran kali ini, setidaknya terjadi bebrayan antar lintas generasi yang terjadi secara natural. Sinergi antar generasi harus tetap dibangun dan diperkuat agar rumah (Maneges Qudroh) yang dititipkan oleh Mbah Nun ke depannya mampu lebih indah dan memberikan banyak manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Sehingga Maneges Qudroh menjadi “home of all season”, rumah yang mampu berdiri di segala musim dan menjadikan dulur-dulur merasa selalu aman dan nyaman untuk selalu kembali berkumpul bersama. Serta menjadi Telaga Cahaya yang menerangi dan menyejukkan hati dulur-dulur semua.

Panti Daarus Sundus, 5 Februari 2022

Lainnya

Menyelami “Majma’al Bahrain” Bersama Mbah Nun

Menyelami “Majma’al Bahrain” Bersama Mbah Nun

Senin pagi (29/3) telah berlangsung acara Silaturahmi Penggiat Simpul Maiyah Jati-Bali gelombang kedua yang dilaksanakan di Pendopo Pondok Pesantren Dipo Kerti, Jetis, Ponorogo.

Gila Bola Gila

Gila Bola Gila

Pada Mulanya adalah Sebuah Permainan

Menelaah sepak bola rasanya memang seperti menelaah kehidupan.