Surga Pintu Wirausaha

Selamat Jalan Mas Budi Santoso, Penggiat Maiyah Purbalingga

Salah seorang sahabat kita, jamaah dan pegiat Maiyah Purbalingga, Mas Budi Santoso baru saja meninggalkan kita semua. Kemarin pagi (1/8), di bangsal Onkology Rumah Sakit Margono Soekarjo, Purwokerto, Allah nimbali Mas Budi. Setelah dirawat selama seminggu, kondisi almarhum pada hari-hari terakhir terus mengalami penurunan, hingga akhirnya Beliau dipanggil ke haribaan Allah Swt.

Mas Budi Santoso atau yang akrab disapa sejumlah teman dengan sebutan Budi Bocari adalah seorang wirausaha sekaligus pegiat sosial yang amat aktif yang tinggal di Kota Bobotsari, Purbalingga. Tidak banyak orang seperti Beliau. Seseorang yang mengupayakan sisi sosial dan ekonomi dalam kehidupannya nyaris secara simetris. Banyak orang yang bisnisnya maju, tetapi peran sosialnya minimalis. Atau karakter yang kerap saya jumpai yakni orang yang bisnisnya maju, tetapi dalam bersosial senang setor ‘mentahan’ saja.

Mas Budi di setiap forum yang saya jumpai selalu mengalungkan kamera. Hobinya motret, hasil jepretannya juga tidak remeh. Di banyak acara Beliau tidak mau hanya duduk diam menyerap ilmu, tetapi mewajibkan dirinya untuk kontributif. Urun dokumentasi.

Di hari pe-maqom-annya, di usia yang masih terbilang muda, yakni 47 tahun, Beliau meninggalkan dunia dengan derajat yang amat terhormat. Di sisi ekonomi, Beliau meninggalkan sejumlah usaha yang terbilang sudah tersistemasi dengan baik untuk diteruskan istri dan dua orang putra dan putri Beliau. Di sisi sosial, sejumlah simpul anak muda, lingkar sholawat yang beliau asuh semestinya sudah bisa meneruskan kesitiqomahan secara mandiri.

Tidak banyak orang yang seperti Beliau. Kalimat itu setidaknya ditegaskan oleh salah seorang jamaah asuhan komunitas sholawat Beliau ketika kami mengobrol di rumah duka usai pemakaman kemarin. Selain di sejumlah komunitas sholawat, beliau aktif di Karang Taruna, Pemuda Pancasila hingga HIPMI Purbalingga.

Tinggal di Kota Bobotsari yang majemuk, tak membuat kesulitan bagi almarhum semasa hidupnya untuk diterima di kalangan gento-gento jalanan hingga pejabat daerah. Seorang nahdliyyin sejati sekaligus juga diterima di kalangan teman-teman Tionghoa. Maka tak heran pen-takziah hadir bergulir dengan begitu memenuhi rumah duka, sebuah rumah di belakang pertokoan di sisi timur tidak jauh dari titik tengah Kota Bobotsari.

Forum diskusi yang pernah ia gagas salah satunya adalah Juguran Majapura. Pernah seorang sahabat bercerita bagaimana Beliau totalitas di situ, tidak hanya sebagai penggagas, tetapi juga “ing madya mangun karya” berperan mulai dari urunan pembiayaan paket komplit sampai bersih-bersih dan gulung-menggulung karpetnya.

Almarhum semasa hidupnya mempunyai tabungan jariyyah salah satunya adalah menjadi pendiri dan Pembina Perkumpulan Pegiat Sosial Purbalingga SEMUT. Perkumpulan ini setiap hari melakukan pendampingan pasian Dhuafa.

Beliau amat dekat dengan sahabat-sahabatnya. Kemarin saya diperdengarkan oleh salah seorang sahabat mas Budi, voice record ketika Beliau berpamitan hendak masuk Rumah Sakit. Dalam kondisi yang sudah amat lemah, beliau masih kepikiran untuk berkabar ke rekan dan sahabat.

Kenangan percakapan terakhir saya dengan Beliau adalah tentang dinamika bisnis tanaman porang dan pengembangan jaringan internet ke pedesaan dimana Mas Budi terlibat di dua bidang itu.

Seorang pelaku multitasking yang piawai. Sahabat baiknya menuturkan betapa Beliau amat cermat dalam membagi waktu, mem-plotting ruang-ruang tanggung jawabnya dengan rapih sehingga tergarap dengan baik semua. Sibuk memang, tapi sibuknya bukan hanya untuk titian karir dirinya sendiri. Beliau menjembatani dan memfasilitasi jalan kemajuan bagi teman-temannya, di ragam jenis usaha yang berbeda-beda.

Sugeng Tindak Mas Budi, kepergian Panjenengan meninggalkan inspirasi menjadi teladan bagi kami dan bagi bergenerasi-generasi selanjutnya kelak. Doa kami untuk surga terbaik bagi Panjenengan, dari pintu wirausaha, atau dari pintu surga manapun saja yang Gusti Allah kehendaki. Aamiin… aamiin… aamiin… Insyaallah.