Ruang Merdeka

Dok. Juguran Syafaat

“Kuncinya ya enjoy. Kalau ikhlas kayaknya kok saya tak sanggup menjangkau,”ujar Bunda KLC menceritakan kesehariannya yang penuh kegiatan dengan begitu variatifnya. Olahraga, ngurus tanaman, mengajar, ngulik lagu, dll.

“Saya mempunyai istilah ‘fast charging’,” respons Kukuh, moderator Juguran Syafaat malam hari itu. Kalau HP mahal itu ada fitur fast charging-nya, di-charge sebentar tapi bisa dipakai seharian. Sebab saya pernah mempunyai HP, di-charge semalam suntuk, baru setengah jam dipakai sudah habis. Ini sebuah analogi dari tidur atau istirahat yang efektif dan tidak efektif.

Mas Izaz salah seorang Jamaah sharing tentang resolusi 2022 atas dirinya, yakni meninggalkan sikap klelar-kleler. “Hidup enjoy dan klelar-kleler ini beda loh ya teman-teman,” tandas Kukuh. Kalau klelar-kleler itu kan sinonimnya bebehan — serba enggan, sedangkan enjoy adalah menggembirai yang dikerjakan.

Selain senantiasa enjoy dan tidur yang efektif, Bunda memberikan tips lain untuk menjalani hari dengan berkualitas yakni dengan menjaga asupan makanan. Hal lainnya lagi adalah Bunda bercerita bahwa kerap menjelang tidur menjadikan playlist KiaiKanjeng sebagai healing. Di sesi awal Juguran Syafaat edisi kali ini, Bunda diringi Mas Ponda selain sharing juga mempersembahkan beberapa nomor lagu.

Peristiwanya Memberi, Belum Tentu dari Etos Memberi

Beberapa puluh tahun yang lalu Mbah Nun sudah memberikan rekomendasi tentang perzakatan nasional tentang bagaimana menumbuhkan etos memberi di masyarakat. Di tahun-tahun terakhir ini yang terjadi peristiwanya banyak orang memberi, tetapi diam-diam di dalam hatinya etosnya adalah berpamrih.

Memangnya kalau orang mempunyai etos memberi atau melakukan sesuatu yang kontributif bisa bahagia? Lalu saya mencoba mencari-cari sisi pandangan logis orang bisa mempunyai etos memberi. Misalnya dari sudut pandang ilmu faali tubuh, oh, kalau orang sedang memberi, akan keluar hormon yang membuat hati gembira.

Hari ini berbagai model berbagi banyak sekali. Tetapi hati masing-masing yang tahu pamrihnya di mana ada atau tidak. Kalau memang etosnya memberi, sungguh luar biasa mestinya kondisi sosial ekonomi masyarakat kita hari ini.

Temuan Baru, Disanggah, Lalu Temuan Baru Lagi

Yuni salah seorang jamaah merespons, “Symbolic adalah jalan tengah untuk bersosial media, di saat banyak medsos penuh propaganda dan sudah menjadi alat untuk berbagai kepentingan”.

“Metaverse menurut saya mempertemukan generasi dulu dan generasi sekarang. Kalau di tradisi ilmiah kan ada temuan, kemudian disanggah, kemudian lahir temuan baru. Dulu di era Bunda misalnya, kalau sregep, dapat pekerjaan nanti hidupnya menghasilkan. Berbeda dengan generasi sekarang, kalau sregep berkreativitas, kelihatannya sedang bermalas-malasan mantengin layar, tetapi ternyata diam-diam menghasilkan.

Bagi saya, Juguran Syafaat adalah ruang yang memerdekakan untuk kita mengunduh ilmu-ilmu dan temuan-temuan baru. Ruang ini adalah jalan tengah di saat institusi pendidikan sudah tidak bisa sama sekali merdeka dari jerat kurikulum,” paparnya.

“Ya betul, di aplikasi Symbolic ya sebetulnya seperti ini, sinau bareng, hanya bentuknya virtual,” Anjar merespons.

Kalau teman-teman HP-nya belum leluasa untuk menginstal aplikasi baru, bisa kunjungi akun Instagram @symbolic_id. Ini ada cicipan-cicipan di mana topik-topik yang sedang hype dikupas dari sudut pandang yang berbeda dan lebih substansial. Misalnya, tentang multitasking vs monotasking, lalu ada 1st brain & 2nd brain, dll.

Pengalaman pribadi saya berinteraksi di aplikasi Symbolic saya menyaksikan betapa Mas Sabrang sangat sungguh-sungguh mentranformasi pemahaman-pemahaman yang disampaikan oleh Mbah Nun. Mas Sabrang mem-breakdown banyak sekali hal, yang itu sangat membantu kita mengkontekstualisasikan pemahaman Maiyah ke dalam kebutuhan masing-masing.