Kebon (54)

Mengelola Khilafiyah dan Ikhtilafiyah

Foto: Adin (Dok. Progress).

Bagaimana orang tidak bertengkar oleh “agama”. Setiap manusia berhak atas anggapannya masing-masing tentang apa saja, termasuk agama atau “agama”. Maiyah sangat berhati-hati terhadap bahayanya setiap klaim subjektif kebenaran dari manusia sepandai sealim sesaleh dan sehebat apapun. Sejak awal Maiyah sangat berhati-hati mem-breakdown dalam pergaulan sosial beda antara “Benarnya sendiri” dengan “Benarnya orang banyak” serta aspirasi tentang “Benar yang sejati”.

Maiyah juga merenungi bahwa Allah selalu menciptakan segala sesuatu dengan menerapkan sifat atau konsep evolusi, transformasi, dan metamorfosis. Allah menciptakan buah “kelapa” tidak tiba-tiba, melainkan dievolusikan dari “bluluk” menjadi “cengkir”, kemudian “degan” dan menyempurna sebagai “kelapa”. Demikian juga “tajallul ‘ilmi wa tanazzulul ma’rifah”. Demikian juga tranfer ilmu dan pengetahuan Allah kepada manusia.

Kalau buah itu dianalogikan ke agama, anak-anak Maiyah tahu yang tahap bluluk itu agama ini, yang cengkir itu, dan yang degan sana. Jadi ada Agama Bluluk, Agama Cengkir, Agama Degan, dan Agama Kelapa, itu para pemeluknya di seantero bumi saling menyimpan permusuhan, ketidakpercayaan dan kedengkian satu sama lain. Dan para penganutnya punya sangat banyak tema yang bersumber dari kekeliruan berpikir, kesempitan pengetahuan serta kesalahpahaman akal mereka sendiri.

Maka Maiyah sangat berhati-hati dengan kebenaran, kejujuran, dan transparansi. Mereka tidak semena-mena mengungkapkan sesuatu mentang-mentang benar dan kebenaran. Mereka baru mau mungkin menyatakan sesuatu kalau diperhitungkan dan disimulasikan akan melahirkan kebaikan nilai dan kemashlahatan pergaulan, dalam skala apapun.

Kalau ada wanita gendut badannya, jangan berkomentar: “Wah, Mbak gendut ya”. Mentang-mentang berpihak pada kebenaran dan kejujuran. Orang Islam tidak mashlahat secara silaturahmi untuk menyatakan bahwa yang bukan Islam itu sesat, apalagi di depan pemeluknya, kecuali dia memojokkan untuk berdebat. Ada beribu-ribu kemungkinan benturan di antara manusia dan kelompok-kelompok karena kebanyakan mereka tidak pernah mendengar tuntunan Allah:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Ud’u ila sabili Robbika bilhikmati walmauidlatil hasanah”. Allah tidak menuntun untuk “bilhaqqi”, tidak merekomendasikan “bil’ilmi”, bahkan tidak menganjurkan “bilkhoiri” — sebelum semua dan setiap butir-butirnya ditaklukkan untuk menjadi “bilhikmah” dan dijalani secara “wal mau’idlatil hasanah”. Maiyah dan saya sendiri tidak mau sama sekali bertengkar tentang agama, apalagi pada tataran materiil, padatan, dan institusional. Diskusi antar ummat beragama pun tidak pernah saya penuhi sejak 1970-an.

KiaiKanjeng diundang keliling Belanda 19 hari oleh Organisasi Gereja Protestan Internasional karena di sana ada kasus Van Gogh dan Geert Wilders yang membuat Kaum Muslimin bermusuhan dengan orang Nasrani. KiaiKanjeng tidak menjawab: “Maaf kami tidak melayani undangan orang-orang Musyrik”. Mereka berangkat ke Netherland.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ>
لَا انفِصَامَ لَهَا
وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيم

Tidak ada paksaan dalam keputusan (beragama). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ
فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

Meskipun Al-Qur`an sudah sejelas dan setegas itu, tetap saja lubang-lubang untuk bertengkar antara manusia tetap banyak dan bertebaran. “Qad tabayyanar Rusydu minal Ghayyi”. Menurut Allah jelas dan tegas pilah antara yang benar dengan yang sesat. Tetapi bagi manusia tidak pernah jelas. Benar menurut siapa? Yang sesat itu kamu, bukan saya. Mereka itu Kurawa, kita ini Pandawa. Mereka penghuni neraka, kita yang masuk sorga. Itu semua diucapkan oleh masing-masing.

Bagaimana mau tidak bertengkar? Manusia hampir di seluruh dunia tidak benar-benar pernah siap mengelola nilai, me-maintain perbedaan atau menghimpun paket-paket preventif untuk tidak bermusuhan. Bahkan permusuhannya sampai ke Perang Salib. Perang Salib saja terbalik hurufnya bagi yang lain: Perang Sabil. Ummat manusia tidak pernah bersama-sama menyelenggarakan pendidikan umum maupun khusus untuk me-manage perbedaan-perbedaan di antara mereka. Kasus-kasus khilafiyah maupun ikhtilafiyah, selalu menjadi trigger untuk bermusuhan. Apalagi Khilafah, yang wacana nasional Indonesia sudah menolak, membenci, dan mengusirnya dari bumi Nusantara, demi “la yadri wala yadri annahu la yadri”, atas nama “tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa mereka tidak mengerti”. Tetapi gayane nek pidato, bikin pernyataan dan status di medsos koyok ngerti-ngertio.

Lainnya