Kebon (241 dari 241)

Online, in Between Lines, Beyond the Line

Foto: Adin (Dok. Progress)

Di salah satu Kebon beberapa nomor sebelum ini saya bercerita tentang stigma “berwajah Islam” di kalangan seniman Yogya selama lebih 30 tahun yang mengakibatkan sejumlah hal menimpa saya. Sehingga kemudian membuat saya justru menegaskannya. Dan semua tulisan di Kebon ini tak satu pun yang tidak “saya perjodohkan” atau saya “temukan perjodohanhannya” dengan firman-firman Allah dalam Al-Qur`an.

Bahkan pada nomor 240 saya didawuhi untuk menambahi satu tulisan lagi menjadi 241, sehingga saya periksa apakah Al-Qur`an Surat ke-2 Ayat 41 dan surat ke-24 Ayat-1 berjodoh dengan seluruh dimensi nilai-nilai di seluruh Kebon.

سُورَةٌ أَنزَلۡنَٰهَا وَفَرَضۡنَٰهَا وَأَنزَلۡنَا فِيهَآ ءَايَٰتِۢ بَيِّنَٰتٖ لَّعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ

Ini adalah surat ketetapan yang Kami turunkan dan Kami niscayakan, dan Kami turunkan di dalamnya pertanda-pertanda yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.

وَءَامِنُواْ بِمَآ أَنزَلۡتُ مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَكُمۡ وَلَا تَكُونُوٓاْ أَوَّلَ كَافِرِۢ بِهِۦۖ
وَلَا تَشۡتَرُواْ بِ‍َٔايَٰتِي ثَمَنٗا قَلِيلٗا وَإِيَّٰيَ فَٱتَّقُونِ

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.

Di luar hal perjodohan multidimensional itu saya memang terikat romantisme dengan angka 41. Di waktu kecil saya sering ikut belajar Yasinan di Langgar Etan Menturo, yang Ayah saya selalu terlebih dulu membagi jumlah bacaan dengan semua yang hadir hingga berjumlah 41.

Tentu saja saya bukan “mengklenikkan” angka berapa pun saja. Jumlah kalimat yang saya wiridkan juga tidak terikat angka melainkan bersesuaian dengan kadar energi batin dan keikhlasan saya. Jangankan angka, seluruh materi dalam materialisme, seluruh yang dilingkupi Biologi dan Fisika, sedangkan diri dan eksistensi saya dan kita semua ini pun fana`. Di hadapan Allah yang Baqa`.

Jangankan Baqa`, sedangkan Fana` pun tak ada kata atau bahasa terjemahannya. Kalau dibilang fana` adalah musnah, syaratnya harus ada dulu baru musnah. Kalau disebut suwung, harus ada ruang meskipun tak ada isinya. Kalau nothing atau nothingness, itu lahir dari something, anything atau thing. Mungkin itu sebabnya “Wa ‘allama Adamal asma`a kullaha”. Allah mengajarkan nama-nama, agar manusia merintis kawruh-nya bahwa kehidupan ini hanya bisa dialami oleh manusia melalui simbolisme atau amtsal atas segala sesuatu. Sehingga terjadi komunikasi, kebudayaan, bisa dibangun ilmu pengatahuan dan teknologi sampai menjadi peradaban.

Maka Sabrang membikin aplikasi online Symbolic, mungkin agar ummat manusia bersekolah lagi dari “Kelas Ndog” alias kelas 0. Karena terbukti sampai 21 abad sekarang ini malah silaturahmi ummat manusia dipenuhi oleh silatud-dhulmi. Perhubungan kasih sayang menjadi perhubungan kegelapan, penggelapan, kebodohan, kekonyolan, kerendahan dan kehinaan, yang di Indonesia justru dipeluk, dijunjung secara sangat terpesona dan khusyuk?

Jelas kita bukanlah organ-organ jasad dan alat-alat materiil, semua hardware kehidupan kita yang ini. Termasuk jantung, otak, darah, hati, dan kaki tangan yang luluh lantak dalam kuburan tetapi kita harus menjawab soal-soal ujian dari Malaikat Munkar dan Nakir. Maka siapakah kita yang ini? Siapakah kita yang berurusan dengan Malaikat di kuburan dan kelak Raqib ‘Atid di alam lanjutannya? Siapakah kita, apakah kita akan masih merupakan gumpalan jasad, satuan sistem materi, dengan sifat fisika dan biologi, tatkala nanti perjalanan kita di ‘Alamul Jabarut, ‘Alamul Malakut kemudian ‘Alamul Lahut.

Kita mungkin makhluk yang sama tetapi dengan sistem eksistensi yang berbeda, ber”kendaraan” dari satu alam menuju alam berikutnya. Dari dimensi satu menuju dimensi sesudahnya, dengan membawa “diri” yang sama. Tetapi jangan-jangan kita bukan sedang berhijrah dari suatu level menuju level berikutnya. Dari maqam ke maqam selanjutnya. Jangan-jangan justru seluruh alam itu terdapat, berada dan berlangsung di dalam diri kita. Jangan-jangan kita bukan mikrokosmos yang mengalir, menembus atau mengelilingi makrokosmos. Jangan-jangan yang secara materialistik kita sebut makrokosmos itu sejatinya berada, bergulir, dan berdinamika di dalam mikrokosmos kita. Dengan kata lain, jangan-jangan manusia adalah makroskosmos. Sebab manusia adalah penjelmaan Allah itu sendiri. Kita adalah tajallullah yang paling sempurna. Siapa tahu kita makrokosmos kecil yang berada dalam kandungan kuasa dan cinta Makrokosmos Agung atau Maha Makrokosmos. Sebab kata Allah manusia adalah “ahsanu taqwim”.

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.

Di dalam Maiyah kita membiasakan bersimulasi dengan terminologi tiga kesadaran: “La ilaha illa Anta”. Kesadaran bahwa kita “aku” berhadapan dengan Allah “Engkau”. “La ilaha illa Huwa”. Kesadaran bahwa pada kesempatan lain dalam menjalani hidup Allah ada di sekitar kita, sehingga kita sebut “Dia”. Kemudian “La ilaha illa Ana”. Kesadaran bahwa Allah berada di dalam diri kita. Dan itu hakikinya berarti kita menjadi sirna, tinggal “Ana”. Aku Allah. Kitanya sirna. Fana`.

Tentu saja kita tidak boleh bodoh dan sembrono dengan mensinonimkan pengertiannya menjadi “Aku adalah Allah”. Sebab tatkala kesadaran menyentuh “illa Ana”, yang ada hanya Allah dan kita sirna. Pemaknaannya, mungkin kita masih diperkenankan seakan-akan ada oleh Yang Maha Sejati Ada, kita berhati-berhati bicara dan berperilaku. Daripada menyesal tatkala kita menerima risiko dari kesembronoan ucapan dan perilaku kita pada era berikutnya di mana kita diada-adakan lagi.

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.

Tidak tepat dan kurang merangkum kalau terjemahannya adalah “serupa”, sebagaimana tertera di hampir semua terjemahan Al-Qur`an. Sebab ini bukan hanya terbatas pada dimensi rupa. Secara mutlak dan menyeluruh tidak ada apapun yang sebagaimana Allah. Di wilayah, bidang, dan urusan apapun. “Laisa kamitslihi wyai`un” atau “tan kinaya ngapa, tan kena kinira” itulah yang paling layak, rasional, dan niscaya untuk dituhankan, untuk dinomorsatukan, untuk dipaling-primerkan dalam segala urusan makhluk manusia di bumi.

Betapa penuh kufur kehidupan global ini, betapa ingkar kehidupan bernegara kita, bahkan kehidupan kebudayaan dan peradaban masyarakat kita. Allah disembunyikan dan dipingit di dalam masjid, mushalla atau di bilik-bilik kecil hotel-hotel dan bangunan-bangunan lainnya. Di ruang utama hotel-hotel itu, di gedung-gedung industri bahkan di istana-istana negara, “tidak disediakan tempat” untuk Allah.

Allah dimunculkan di ujung lidah, tetapi diejek di otak dan hati, dikufuri oleh kaki dan tangan, dilecehkan dalam setiap urusan negara dan industri.

Hanya sangat sedikit di antara manusia, yang posisinya pasti alienated, terkucilkan, gharib atau terkucilkan dari tengah gegap gempita mainstream peradaban dunia, yang menempuh perjalanan batin di jagat sejati kehidupan.

Perjalanan sangat sedikit orang itu adalah perjalanan ke dalam diri sendiri. Kaum Ghuraba` itu berpandangan bahwa yang utama dalam kebudayaan adalah tadzakkur dan tafakkur atau introspeksi. Yang primer, kalau memang mau bernegara, adalah tawadldlu’ atau kerendah-hatian satu sama lain. Kita masing-masing dan semua melakukan perjalanan dari jagat diri menuju Jagat Maha Diri, hingga ke yang paling pusat dan lubuk. Sampai ke Kesadaran Lahut di mana diperkenankan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah.

Di hadapan para makhluk, para Ghuraba` ini direpotkan oleh terminologi-terminologi dunyawiyah dan jasadiyah melalui kerewelan pertanyaan-pertanyaan: objektif ataukah subjektif, riil ataukah fiktif, de facto atau de jure, beneran atau khayalan, data atau klenik, sejarah atau babad belaka. Sementara di hadapan Allah, itu semua juga fana`.

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Tidak usah roh. Virus Covid pun tak sampai. Semua manusia di dunia menyembah dan memprimerkan segala yang kasat mata. Kemudian mereka hancur lebur hatinya dan kelabakan ilmu pengetahuannya begitu berjumpa dengan Covid yang tidak kasat mata.

Bagi anak-anakku Jamaah Maiyah kubisikkan: Alami saja semua itu. Imani saja. Nikmati saja. Dengan kerendahan hati karena mutlak tak berdaya di kandungan gelembung kehidupan Sang Maha.

Bagi para pembelajar Maiyah, kututurkan: Kalau di depanmu ada bunga, dalam pemahaman materiil atau jasadiyah: bunga itu di luar dirimu. Tetapi fakta yang lain adalah bahwa kesadaran tentang bunga itu berada di dalam dirimu. Kesadaran adalah akal yang bekerja.

Bagi selain manusia, misalnya kucing, bahkan bagi bunga itu sendiri: bunga itu tidak ada. Jadi validitas kemakhlukan manusia adalah pada akalnya yang bekerja menjadi dinamika kesadarannya. Jadi ‘Alamul Jabarut, ‘Alamul Malakut dan ‘Alamul Lahut bukanlah bunga yang dihadapanmu. Ia adalah kesadaran yang berdenyar di dalam dirimu. Atau ia adalah akal yang bekerja menjadi dinamika kesadaran itu. Dan akal bukanlah otakmu. Melainkan hatimu. Kanjeng Nabi dibedah dadanya oleh Malaikat Jibril, bukan kepalanya. Otak di kepala hanyalah salah satu bawahan yang siap mentaati untuk diperintahkan menjadi mesin berpikir oleh “Presiden” atau “Khalifah” di dadamu.

Kepada para Salikin Maiyah, aku titipkan: Karena cinta, Allah menghibur kita dengan dimensi kesadaran bahwa “Allah ada di dalam dirimu”. Padahal sejatinya “engkau ada di dalam Allah”. Sudahlah. Hentikan langkahmu untuk mentaqlidi ilmu dan kebudayaan dari seberang benua yang menyangka isi kepala adalah pemimpin manusia. Seoptimis apapun engkau mengekaplorasinya dengan menggunakan daya intelektualmu, engkau pasti terjebak dan terserimpung oleh bayang-bayangmu sendiri.

وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ

Dan tidak ada seorang atau seseuatu pun yang sebagaimana Dia.

Anak-anak cucu-cucuku Maiyah menyerah saja kepada-Nya. Berislam saja. Sekaffah-kaffahnya.

Aku mengerti keprihatinanmu menyaksikan ketidakadilan dalam kehidupan di dunia. Aku menghayati geram perasaanmu menyaksikan penindasan atas rakyat di Negerimu. Aku mendalami betapa semua kesengsaraan yang dialami oleh banyak manusia itu menyedihkan hatimu, menyakitkan perasaanmu, bahkan sering membuat jiwamu berputus asa.

Tapi sudahlah. Mereka semua bukan Tuhanmu. Yang bisa menjawab dan mengerti persis solusi atas setiap yang engkau menderita karenanya, hanya Allahmu. Kalau engkau tidak sependapat dengan kemauan Allah. Kalau engkau tidak sepakat pada konsep Allah. Kalau engkau tidak menyetujui kehendak perintah Allah. Salah satu kemungkinan solusinya: jadilah Allah. Akan tetapi Allah sendiri memberimu peluang:

مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي ، وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلائِي ، فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَاي

Siapa saja yang tidak rela menerima ketetapan-Ku dan tidak sabar menghadapi ujian-ujian-Ku kepada dirinya, silahkan dia mencari Tuhan selain Aku.

Jadi sudahlah. Konsentrasikan perjuanganmu dan fokuskan pembelajaran hidupmu untuk menemukan presisi posisi menyerahmu kepada Allah. Semua yang sekarang menimpamu, alami saja. Imani saja. Nikmati saja. Supaya Allah mengajarimu bagaimana menikmati, cara menjadi nikmat, apa itu nikmat, di mana jalan nikmat. ‘Allamal insana ma lam ya’lam. Tabayyunkan dengan sesama Jamaah Maiyah apa tujuan hakiki hidupmu yang membuatmua tenang dan bahagia. Kenalilah dengan kebijaksanaan qalbu-mu semua yang saya tuliskan di atas, jangan sekadar menggunakan daya pikir yang remeh dan hanya bawahan dalam birokrasi Kerajaan Cinta di dalam jiwamu.

Kata Cak Fuad, Marja’ Maiyah kita: Kenali dan rasakan online, in between lines dan beyond the line. Allah sendiri menyebutnya: “Min haitsu la yahtasib”. Jangan sampai kita menjadi sok tahu semua. Sok mengerti segala kepastian dan kemungkinan. Sok Tuhan.

Maksudnya Cak Fuad tentu bukan “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, melainkan “Lain syakartum laazidannakum wa lain kafartum inna ‘adzabi lasyadid”.

Lainnya