Kebon (238 dari 241)

Hidup Adalah Alif Lam Mim

Foto: Adin (Dok. Progress)

Dalam hidup ini yang kita ketahui paling pasti adalah mati. Tetapi mati itu tidak benar. Artinya tidak sungguh-sungguh benar bahwa ada mati. Tidak riil dan tidak faktual bahwa ada mati yang benar-benar mati sebagaimana yang kita memahaminya dalam hidup.

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; melainkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

Bal ahya`un ‘inda Robbihim. Melainkan hidup di sisi Tuhan. Bagaimana itu? Apakah selama hidup di dunia kita tidak di sisi Allah? Yang dimaksud hidup dalam ayat itu bagaimana? Hidup dalam dan dengan ekosistem apa dan bagaimana? Hidup lahir batin juga atau hidup batin saja? Jasad kita sudah mendebu di tanah. Tulang daging kita sudah menyatu dengan turob. Kepala dengan otak, dada dengan jantung hati sudah luluh menyatu dengan tin. Dalam posisi ahya`un ‘inda Robbihim itu apakah kita masih bisa mikir dan merasakan seperti sekarang?

Kita semua merasa penasaran oleh ketidaktahuan itu, sehingga logisnya lantas kita ingin segera mati agar tahu persisnya bagaimana. Maka Allah mefirmankan juga:

قُلۡ إِن كَانَتۡ لَكُمُ ٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ عِندَ ٱللَّهِ خَالِصَةٗ
مِّن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُاْ ٱلۡمَوۡتَ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ

Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.”

Tetapi faktanya rata-rata kita diam-diam lebih memilih terus hidup seperti sekarang ini meskipun tidak mengerti mati, daripada mati agar mengerti mati.

Kita tidak benar-benar paham terhadap informasi firman sejak yang di awal tadi. Qutilu itu terbunuh atau dibunuh atau dipisahkan nyawa dari badan. Dibunuh oleh orang lain, ataukah terbunuh dalam peperangan fi sabilillah, ataukah Izroil mencabut nyawa kita sedangkan kita sedang berjuang di jalan Allah dalam kehidupan? Dalam posisi dan kondisi di mana para tetangga, semua orang dan pengetahuan kita sendiri menyimpulkan bahwa kita mati itu ternyata kita hidup, bahkan Yurzaqun atau diberi rizki oleh Allah itu. Itu maksudnya rizki apa? Di mana? Dalam sistem biologis fisik atau dalam satuan metafisis rohaniah atau bagaimana?

Tetapi jelas bahwa firman itu meneguhkan bahwa kita tidak mati. Kita tidak benar-benar mati sebagaimana yang kita pahami tentang mati. Mungkin memang kita tidak pernah mati, kalau menilik janji dan programnya Allah: kholidina fiha abada. Kalau kita lolos masuk sorga, Tuhan menginformasikan bahwa kita akan mengalami kekekalan yang disebut “kholidina” dan keabadian yang disebut “abada”.

Atau sebenarnya sederhana dan elementer saja: pengertian tentang “mati” sejatinya tidaklah sebagaimana yang kita pahami selama kita berada di buminya Dunia.

Sebagian kita mungkin beranggapan bahwa benar-benar mati itu lebih aman. Terbebas dari segala tanggung jawab atau akibat dari perilaku kita selama menjalani kehidupan. Beritanya nanti di era yang disebut “mati” itu kita masih harus berurusan hukum dengan Hakim Kubur Malaikat Munkar dan Nakir. Kelak pada era jauh ke depan, mungkin di babak final, kita berhadapan dengan petugas penimbang baik buruk: Malaikat Raqib dan Atid. Tahap itu akan memastikan kita akan dijadikan narapidana di wilayah kekuasaan Malaikat Malik ataukah ditamasyakan oleh Malaikat Ridlwan.

Tapi bagi kita yang mengimani Al-Qur`an dan kepustakaan utama atau bahkan satu-satunya adalah Al-Qur`an, fatamannawul mauta, inginkanlah mati. Ayat di atas menguji konsistensi logika kita, memverifikasi matriks berpikir dan peta pengetahuan kita.

Allah menganjurkan agar kita menginginkan mati, dengan kabar yang seolah-olah merupakan ironi atau paradoks dari kematian: jika kita menganggap bahwa kampung Akhirat itu dikhususkan untuk kita di sisi Allah.

Menurut pengetahuan atau teori tentang waktu di dunia, saya sudah memasuki usia 68 tahun. Waktu sepanjang itu ternyata sama sekali tidak cukup untuk punya kemungkinan memahami mati. Banyak keterangan dari para cerdik pandai dan kaum ulama tentang misalnya ‘Alamun Nasut, ‘Alamul Mulki, ‘Alamul Jabarut, ‘Alamul Malakut dan ‘Alamul Lahut. Ditambah banyak variabel idiomatik yang menyebut ‘Alamul Jasad, ‘Alamul Ghaib, ‘Alamul Bathni, ‘Alamul Amri, ‘Alamul Asnan, ‘Alamul Huda dan banyak istilah-istilah lainnya.

Tetapi seluruh keterangan itu tidak pernah membuat kita benar-benar tertolong untuk sungguh-sungguh memahaminya. Keranda yang mengangkut kita nanti ke kuburan sampai hari ini tetap merupakan ujung pengetahuan kita. Sementara ada “informasi” berseliweran tentang kemungkinan komunikasi dari alam kematian itu dengan yang masih menjadi penduduk kehidupan. Terkadang almarhum Kakek atau Ibu menemui kita.

Kiai Tohar di Mekah ditemui oleh almarhum Bapaknya sehingga mengumrohkan beliau. Kiai Muzzammil “ahluz-ziarah” kubur tidak pernah melewatkan tempat manapun yang ia kunjungi tanpa berziarah ke makam entah ulama siapa. Ketika sehabis maiyahan kami diantarkan oleh teman-teman Maiyah berziarah ke makam Sunan Bonang, menurut Kiai Muzzammil, tidak seperti biasanya: Kanjeng Sunan Bonang malam itu berdiri dan berjalan bahkan hampir bisa disebut meloncat menyongsong saya. Pasti saya sendiri tidak tahu apa-apa, karena penglihatan saya hanya terlatih untuk melihat film atau pertandingan sepakbola, tinju dan MMA serta pemandangan kasat mata lainnya.

Syaikhona Kholil Bangkalan yang dulu mengutus Kiai As’ad Syamsul Arifin ke Jombang menemui KH. Hasyim Asy’ari untuk diperintah mendirikan Nahdlatul Ulama, juga menyuruh Kiai Muzzammil untuk membawa beberapa genggam tanah dari area Pesantren Syaikhona untuk dikawinkan dengan tanah di tempat Kiai Muzzammil akan mendirikan Pesantren di Bantul selatan.

Tidak rasional untuk menyimpulkan Kanjeng Nabi “sudah wafat”, karena berapa banyak orang suci yang ditemui oleh beliau di dimensi tertentu dari kesadarannya – meskipun ada kemungkinan petugas hukum di Indonesia membikin pasal untuk memperkarakan orang yang merasa mengalami perjumpaan dengan Rasulullah Saw.

Kita dan terutama saya yang awam dan tidak suci ini “gatal” juga untuk ingin nanti kalau sudah mati maunya kita tetap dianugerahi kemungkinan untuk berkomunikasi dengan keluarga atau sahabat-sahabat yang masih hidup di dunia. Entah untuk ngecek apakah istri kita kawin lagi, bagaimana perkembangan karier anak-anak kita, siapa Presiden Indonesia ketika itu, atau banyak keperluan lainnya.

Ditambah lagi dalam tradisi budaya Agama itu sangat populer istilah “siksa kubur” tanpa ada “nikmat kubur”. Kita jadi agak takut mati dan cemas berkepanjangan karena nanti dalam kematian kita tidak bisa bebuat apa-apa. Tidak bisa merespons. Tidak bisa melakukan usaha apapun. Tidak bisa ikut merekayasa politik nasional. Tidak bisa apapun. Untung dalam kebudayaan Jawa ada bunyi doa yang menyebut “muga-muga padhang kubure”. Mudah-mudahan benderang kuburnya. Itu pun ada beda asosiasi antara “kubur” dengan “kuburan”. Kubur lebih abstrak dan rohaniah. Sementara kuburan jelas fisik, lubang dan timbunan tanah.

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَا
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga, yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya.

Terputus amal itu artinya tidak lagi bisa ngopi dan merokok, tidak bisa cari bebek goreng, tidak bisa ikut pilkada atau maiyahan. Tidak bisa gowes, ngrumpi, internetan di Café atau apapun kegiatan lainnya. Di era kematian itu yang oleh Allah diaktivasi adalah amal jariyah kita, ilmu yang bermanfaat, serta produk dari doa anak-anak kita yang saleh. Dan itu pun kita tidak mengerti bagaimana bentuk aplikatifnya. Bagaimana wujudnya, formula dan mekanismenya.

Tetapi menurut saya jelas bahwa yang kita alami bukanlah dengan organ dan alat-alat hidup kita yang ini, kita akan berpindah dari ‘Alamul Jabarut, ‘Alamul Malakut kemudian ‘Alamul Lahut. Kita bukan sedang berkendaraan dari satu alam menuju alam berikutnya. Tidak dari dimensi satu menuju dimensi sesudahnya, dengan membawa “diri” yang sama.

Kita bukan sedang berhijrah dari suatu level menuju level berikutnya. Dari maqam ke maqam selanjutnya. Melainkan seluruh alam itu terdapat, berada dan berlangsung di dalam diri kita. Kita bukan mikrokosmos yang mengalir, menembus atau mengelilingi makrokosmos. Melainkan yang secara materialistik kita sebut makrokosmos itu sejatinya berada, bergulir, dan berdinamika di dalam mikrokosmos kita. Dengan kata lain, manusia adalah makroskosmos. Lebih tepatnya: makrokosmos kecil yang berada dalam kandungan kuasa dan cinta Sang Makrokosmos Agung atau Sang Maha Makrokosmos.

Sejak balita kita sudah hafal Inna lillahi wa inna ilaiHi roji’un. Tetapi sedoktor dan seprofesor apapun, se-ahsani taqwim dan se-ulilabshor apapun, seilmuwan atau separanormal bagaimanapun, tetap kita tidak punya presisi pemahaman tentang lillah wa ilaih.

Bahkan kalau dipikir-pikir, di puncak misteri hidup ini, kadang yang lebih pasti adalah bahwa “Hidup adalah Alif Lam Mim”. Yang semua ahli tafsir menerjemahkan menjadi “Hanya Allah yang mengerti makna atau maksudnya. Kalau engkau Salikul ‘Ilmi dan Salikul Haqq, di puncak pembelajaranmu engkau akan tersungkur bahwa ternyata sesungguhnya engkau tidak benar-benar memahami kehidupan. Itu hal kehidupan, yang kita seakan-akan sudah mengalaminya puluhan tahun. Bahkan sudah menamatkan Sekolah sampai tataran yang tertinggi. Ternyata hidup ini bukan seperti yang para ulama dan ilmuwan merumuskan. Hidup ini jauh dari apa yang kita rasakan dan simpulkan.

Apalagi kematian. Maka justru menjadi jelas kenapa Allah memfirmankan Alif Lam Mim.

Lainnya