Kebon (233 dari 241)

“Sampeyan Wis Tuwuk Dadi Presiden”

Majalah Gatra, 27 Mei 1995.
Kliping oleh Perpus EAN (Dok. Progress).

Bersama Kiai Tohar saya membawa kawan dari Solo murid seorang Mujtahid Syifa (Pengobatan) ke rumah Cak Nur alias Dr. Nurcholish Madjid yang sedang terbaring sakit parah di rumahnya. Saya tidak mau menyebut jenis pengobatan Mas Kelik itu: tradisional atau modern, alternatif atau mainstream.

Dokter Maiyah Dr.dr.Eddy Supriyadi (Mas Eddot) ketika berpidato memberi pengantar pada acara Ijazah Maiyah di Bangbang Wetan Surabaya yang dianugerahkan kepada Mas Joko Temon Delanggu, mengemukakan hal itu. Hasil ijtihad dan ikhtiar pengobatan bangsa sendiri disebut alternatif, yang import dari Barat disebut mainstream atau baku.

Di Indonesia ini modernisme membalik-balik makna dan martabat serta fakta sejarah yang hasilnya adalah merendahkan dan menghancurkan harga diri bangsa Indonesia sendiri. Dan itu tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi hampir di semua bidang lainnya. Sungguh sesudah Kemerdekaan 1945 bangsa ini mengalami “sakit pikiran” atau “khilaf cara berpikir”, yang sampai level tertentu menjadi “sakit jiwa”, yang masa depannya insyaallah adalah kehancuran menurut logic kehidupan.

Cak Nur baru pulang berobat di Beijing dalam keadaan ususnya dikeluarkan dan diikat di bagian luar perutnya. Katanya menurut Dokter, ususnya akan dimasukkan kembali ke dalam perutnya kalau Cak Nur sudah cukup sehat. Seakan-akan peradaban ummat manusia sedang didera dilema atau makan buah simalakama. Yang mana yang benar: menunggu sehat baru ususnya dimasukkan ke dalam perut. Ataukah ususnya dimasukkan ke dalam perut supaya Cak Nur sehat.

Cak Nur pemuda Bareng Jombang Selatan ini terbaring lumpuh. Secara pikiran dan psikologis masih fresh dan lancar, tapi secara fisik sangat tidak berdaya. Betapa berat hatinya Mbak Umi istri beliau. Ditambah lagi Paramadina karya beliau dirampok oleh suatu kelompok, dan sampai hari ini bantuan berdatangan dari mana-mana kepada Paramadina, karena dunia masih beranggapan bahwa Paramadina, baik Yayasan maupun Universitasnya, adalah Nurcholish Madjid. Kelihatannya ini dunia ultra modern, masyarakatnya hebat, tokoh-tokohnya sombong-sombong, para ilmuwannya nggaya-nggaya, tapi picek matane kalau melihat apa-apa.

Mas Kelik diizinkan oleh Mbak Umi untuk melakukan sesuatu kepada Cak Nur. Dan setelah dua jam Allah menganugerahkan keajaiban. Cak Nur bisa bangun, bangkit, turun dari ranjangnya, kemudian berjalan terbata-bata ke ruang tamu menemui Kiai Tohar dan saya. Kemudian kami mengobrol. Dan ketika kami pamit, Cak Nur berjalan mengantarkan kami ke depan rumahnya.

Beberapa hari sebelumnya ada tamu tokoh aktivis Islam hebat berkunjung ke Cak Nur. Dan di depan Cak Nur terbaring, tamu itu memberi tausiyah bahwa Cak Nur sebaiknya melakukan pertobatan kepada Allah supaya disembuhkan dari sakitnya. Video adegan itu dipertunjukkan kepada kami oleh salah seorang murid Cak Nur.

Saya naik pitam. Dan Allah Yang Maha Agung mempertemukan saya dengan tamu hebat itu di bandara Cengkareng esok harinya. Saya langsung tabrak dengan mengatakan tolong dia menasehati saya karena kemungkinan besar saya ini masih Kafir. Kemudian terjadi dialog pendek dan saya menyatakan sangat tersinggung atas perlakuannya kepada Cak Nur. Kalau dia merasa tidak salah, saya menyatakan permusuhan kepadanya. Dan saat itu juga saya siap “brèng” di ruang tunggu airport. Terserah mau duel cara apa, silat atau MMA atau ngawur-ngawuran saja.

“Ya nggak gitu Cak…”, katanya.

“Anda wajib minta maaf”, saya kejar.

“Ya saya minta maaf.”

“Minta maafnya kepada Cak Nur, tidak perlu kepada saya!”, saya kejar terus.

“Ya. Tolong disampaikan permintaan maaf saya kepada Cak Nur.”

Kita tahu mungkin secara urut-urutan nilai dan fakta bisa tidak salah menasihatkan kepada Cak Nur agar beliau insyaf dan bertobat. Aslinya semua kita berada posisi harus insyaf dan bertobat kepada Allah. Tetapi orang yang mengatakan itu harus mempersyarati dirinya “ud’u ila sabili Robbika bilhikmah”. Ada etika bebrayan, ada sopan santun pergaulan, ada tata budaya, ada budi pekerti. Kalau ketemu teman yang giginya maju alias mrongos, jangan menyapanya dengan kalimat “Mau ke mana Mas Mrongos?”

Zaman 1970-an saya di komplek rumah Kos Kadipaten Lor 17 Yogya ada teman bernama Rusydi dari Makassar, sakit perut sampai jempling-jempling. Saya dan beberapa teman berkerumun mencoba menolongnya. Tiba-tiba datang seorang teman lain asal Aceh. Ia menganggung-anggukkan kepala kemudian berkata: “Ini memang satu dari lima penyakit paling berbahaya dan bisa mematikan”.

Mendadak Rusydi menggerakkan badannya dan satu kakinya menendang kepala teman Aceh itu. Hampir terjadi pertengkaran. Kami semua membela Rusydi, sebab menurut kami si Aceh itu sungguh-sungguh tidak mengerti empan papan. Tidak punya pemahaman tentang ketepatan sesuatu, ngomong apa, kepada siapa, pada situasi yang bagaimana. Secara khusus dia tidak berempati kepada betapa sakit yang dialami oleh Rusydi.

Maha Benar Allah yang memfirmankan bahwa manusia itu sungguh “dholuman jahula”. Goblog sakgoblog-gobloge, lalim selalim-lalimnya. Guwwoblooog bahasa Jombang alias Goblik kalau bahasa Yogya. Manusia tertentu bisa datang ke Rumah Sakit mengunjungi temannya yang sedang sakit kemudian mengatakan “Sepertinya kamu memang tidak punya harapan hidup lebih lama”.

Cak Nur digarap oleh Mas Kelik sampai bisa bangkit dan berjalan, membuat beliau bersemangat dan optimis. Sampai pada suatu malam Cak Nur berjalan dari tempat tidurnya ke kamar mandi tanpa membangunkan dan minta tolong kepada Mbak Umi. Cak Nur jatuh di kamar mandi. Sedemikian rupa keadaannya sehingga kemudian harus dievakuasi di Rumah Sakit Pondok Indah.

Pada hari-hari terakhir Cak Nur di RS saya sempat menemani. Hanya bersama Mbak Umi. Tidak boleh terlalu banyak orang di ruangan. Lewat tengah malam datang seorang Juru Bicara Presiden Indonesia mengunjungi Cak Nur. Tentu saja kami menemuinya tidak langsung di bilik tempat Cak Nur berbaring. Beberapa menit beliau berkunjung, kemudian pamit. Dan di luar ruangan puluhan wartawan sudah menunggunya, dan Si Jubir ganteng berkumis ini berbicara panjang lebar seakan-akan tahu persis apa yang dialami oleh Cak Nur, bahkan seolah-olah dialah yang menemani Cak Nur selama sakitnya.

Saya rengeng-rengeng nyanyi di dalam ruangan sambil mendengarkan wawancara nasional resmi Istana itu: “Pribaaaang pribangsaku…ayo maju maju, ayooo majuuu maju”. Walhasil hakadza Republik Bosok. Besoknya koran-koran dan media lain memberitakan panjang lebar. Fokus berita itu bukan Cak Nur sakit, tapi Sang Jubir mengunjungi orang sakit.

Kita bukan “hasad”, tetapi kalau ayam berkokok ya ayam yang berkokok. Kalau anjing menggonggong maka copyright gonggongan adalah anjing. Betapa terbiasanya kita mengklaim hak cipta Allah atau sesama manusia. Betapa Negeri ini penuh dengan pencurian-pencurian hakikat dan fakta kehidupan. Betapa banyak pemberitaan media yang isinya “kambing menggonggong” dan “anjing mengembik”.

Beberapa waktu sebelumnya ketika bersama Cak Nur dan tiga orang lainnya saya membuat surat kepada Pak Harto dan menyarankan agar beliau lengser, dalam pertemuan yang kemudian terjadi di Istana Negara, ketika saya ungkap kalimat untuk Pak Harto “Owalah Paaak, masio gak dadi Presiden yo gak pathèken”. Cak Nur menimpali bicara kepada Pak Harto: “Panjenengan itu bukan hanya gak pathèken Pak Harto, tapi wis tuwuk dadi Presiden…

Di luar pertemuan 9 orang dengan Pak Harto itu saya bersama Cak Nur bikin sumpah bahwa kami tidak akan mau menjadi pejabat apapun dalam kekuasaan. Menurut Cak Nur, “Masyarakat harus dikasih tahu dan keteladanan bahwa perjuangan melengserkan Pak Harto ini bukan karena kita ingin menggantikan beliau. Bukan berdasarkan ambisi untuk berkuasa. Kita harus buktikan kepada rakyat bahwa kita murni dan tulus lillahi Ta’ala

Maka saya agak menyesalkan kenapa Cak Nur pada waktu-waktu berikutnya bisa dirayu oleh Golkar untuk menempuh prosedur untuk maju ke proses pemilihan Presiden. Di tahun 1966 saya pernah pulang dari Gontor ke Menturo mampir di rumah keluarganya Cak Nur di Bareng, Mojotengah, Mojoanyar Jombang, dan Ibundanya Cak Nur, Bu Kiai Madjid, memberi saya segelas jamu tradisional Jawa. Mungkin malah Cak Nur sendiri tidak pernah meminum jamu Ibundanya yang saya minum itu.

Tetapi secara keseluruhan, yang tersimpan di memori kepala saya adalah wajah ternyum Cak Nur. Kalau kami bersama hadir di suatu forum, Cak Nur selalu tertawa setiap saya berbicara. Wajah Cak Nur selalu ceria dan sumringah setiap kali frekuensi Jombang keluar dari mulut saya. Saya yakin Cak Nur sedang bergembira ria juga saat ini di keharibaan Allah Swt.

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ
أَنَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ
كُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةٖ رِّزۡقٗا
قَالُواْ هَٰذَا ٱلَّذِي رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ
وَلَهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٞ مُّطَهَّرَةٞۖ وَهُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada pasangan-pasangan yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

Beliau ilmuwan unggul sampai hari ini. Beliau Mujtahid sejati. Beliau putra Jombang, suatu wilayah sejarah yang Indonesia hari ini sangat butuh belajar kepadanya kalau ingin sembuh dari penyakit-penyakitnya. Meskipun Jombang sendiri hari ini menggunakan mata pandang yang tidak adil dan meremehkan Cak Nur, tetapi tetap saja Indonesia menurut saya butuh belajar kepada Jombang. Tetapi mana mungkin Indonesia belajar kepada Jombang. Kepada Tuhan dan agama pun mereka basa-basi.

Lainnya