Kebon (53)

Agama Kok dari Bumi

Foto: Adin (Dok. Progress).

Sudah tidak menghitung secara persis berapa kali KiaiKanjeng diundang untuk memberi persembahan shalawat di gereja-gereja. Dari Yogya sendiri, Semarang, Jakarta, Amsterdam, Rotterdam, Den Haag, Zwolle, Helsinki. KiaiKanjeng tidak hanya rajin diundang oleh Musholla atau masjid-masjid di kampung-kampung, Remaja Masjid atau Karang Taruna, panitia-panitia yang bermacam-macam latar belakang dan hajatannya. Sekolah-sekolah, kampus-kampus. Bahkan juga di Vatican, Mekahnya ummat Katolik.

Suatu saat saya memenuhi undangan ke Kerajaan Klungkung, kerajaan tertua di Bali sebelum kerajaan-kerajaan lainnya, yang didirikan pada peristiwa transmigrasi dari Majapahit. Klungkung ini tertua, sehingga umbul-umbul payungnya sampai bertingkat 9, lainnya di bawah itu. Bersama beberapa teman Maiyah saya tiba di Keraton Klungkung malam hari, dan saya dikasih pakaian sebagaimana biasanya Kaum Hindu beribadah. Dan saya mematuhinya demi merawat hati tuan rumah dan penghormatan kepada sesama manusia. Dari selempang semacam sarung hingga ikat kepala tertentu.

Kemudian saya diajak berkeliling dan berhenti di makam Raja Klungkung pertama, sesepuh mereka. Mereka berupacara dan saya menjaga wajah maupun perilaku sedemikian rupa. Kemudian saya diminta meletakkan jidat saya di salah satu bagian kepala makam Raja yang kami ziarahi. Teman-teman Maiyah yang menyertai nanti menyatakan bahwa mereka merasa tidak nyaman, akan terganggu dan difetakompli. Andaikan ketika itu sudah ada smartphone dan medsos, maka video saya malam itu bisa diviralkan, kemudian saya harus dihujat, di-bully, atau dituduh “Emha masuk Hindu”, kemudian berbagai akibat sosial harus menimpa saya.

Ingat ketika Ibu menasihati dan memberikan solusi ketika saya dipaksa naik panggung kampanye PPP di alun-alun utara Yogya? Ibu saya mengatakan: “Nak, hidup ini harus selalu berbuat baik, di mana saja, kapan saja dan dengan siapapun saja”. Di Klungkung itu saya mematuhi nasihat Ibu saya. Menghormati tuan rumah, menjaga perasaan mereka, menunjukkan simpati kemanusiaan dan kultural saya. Kemudian ketika menempelkan jidat di makam Raja Klungkung, bibir saya umik-umik membisikkan Syahadatain, Istighfar, dan Shalawat serta diam-diam memohon hidayah Allah kepada tuan rumah saya.

Rasulullah Saw bersabda: “Seluruh bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian”. Saya bukan mendirikan shalat di “masjid” Klungkung. Saya bersyahadat, beristighfar, dan membaca shalawat.

Rasulullah juga memberi peneguhan:

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ للدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia maka dunia menimpanya, atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

Di sebuah gereja di Helsinki, KiaiKanjeng dan saya berfoto di depan patung Yesus yang sangat besar dan megah. Sejumlah teman di sana agak mempertanyakan, tetapi saya bilang memang kami berniat punya dokumentasi foto di depan patung besar dan megah ini.

Di mana-mana orang banyak ribut soal agama. Atau pakai sisi pandang lain: di mana-mana agama banyak menyebabkan orang ribut. Saya tidak mengklaim sisi yang lebih tepat. Yang saya tahu adalah bahwa salah satu sumber substansialnya adalah mayoritas penduduk dunia berpikir atau meloloskan di logikanya bahwa agama bisa dibikin oleh manusia. Mereka menyangka agama itu sepadan dengan institusi sosial, organisasi politik, klub sepeda gembira, aliran kepercayaan atau geng motor. Maka belum setengah abad manusia di dunia menyebut “Islam” hal yang selama sekian abad mereka sebut “Muhammadanisme”.

Idiom atau nomenklatur Muhammadanisme lolos dari sensor akal sehat manusia sedunia. Bahkan mayoritas manusia di dunia tidak gelisah terhadap nama agama-agama, apa saja nama-nama itu, siapa yang berhak memberinya nama sebagaimana orangtua berhak memberi nama pada anaknya sementara Pak RT atau Presiden atau Ketua Majlis Ulama tidak punya wewenang untuk memberi nama bayi kecuali diminta oleh yang melahirkannya.

Mayoritas penduduk dunia tidak pernah mendengar kalimat “Innaddina ‘indallahi al-Islam”. Allah yang menciptakan “din” itu maka Ia pula yang memberi nama “Islam”. Sampai-sampai ada ilmuwan yang memilah antara Agama Samawi (agama langit) dan Agama Ardli (agama Bumi). Dengan premis bahwa baik Allah penguasa langit maupun manusia penduduk bumi sama-sama punya hak dan kemampuan untuk membikin agama dan memberinya nama. Agama kok dari Bumi. Dikiranya setiap ajaran atau “piwulang” adalah agama.

Lainnya