Kebon (234 dari 241)

Yandhuruttahy Kaannahurroty

Dok. Progress

Memang Cak Nur adalah contoh dari salah satu korban kelalaian kita semua sebagai bangsa dan sebagai ummat. Kelalaian, kesembronoan, mungkin malah kebodohan sekaligus kesombongan. Itu terjadi pada tingkat nasional maupun di Jombang sendiri.

Cak Nur tidak diapresiasi pada kadar yang selayaknya ia dihargai. Cak Nur tidak dicatat oleh sejarah nasional pada level di mana ia sesungguhnya sangat berjasa kepada dinamika perkembangan pemikiran nasional tentang implementasi Islam. Cak Nur tidak disemati tanda jasa sebagaimana level integritasnya. Cak Nur tidak dikasih rapor yang menorehkan angka-angka tinggi pencapaiannya di bidang ilmu pengetahuan, ijtihad dan inovasi.

Sementara negara, pemerintah, rakyat, masyarakat, ummat pada berbagai level membesar-besarkan tokoh-tokoh lain yang sesungguhnya prestasi keilmuannya jauh di bawah Cak Nur. Mereka juga tidak berminat untuk mempelajari kejernihan pemikiran Cak Nur, keteguhan idealismenya, kejujuran kepribadiannya. Negara dan masyarakat membesar-besarkan yang kecil dan mengecil-ngecilkan yang besar. Menjunjung-junjung yang sebenarnya remeh dan tak pantas dijunjung, sementara merendah-rendahkan yang semestinya dijunjung. Bahkan mereka seakan-akan menabi-nabikan, mendewa-dewakan tokoh yang sebenarnya adalah “Denawa”, sementara Begawan dan Panembahan malah dipunakawankan.

Apalagi dalam pemahaman masyarakat modern, Punakawan malah dipahami sebagai pelawak-pelawak konyol. Sebab wacana modern menyangka Punakawan adalah “Clown”. Itu paralel dengan ketidakmengertian masyarakat modern terhadap “Pusaka”. Mereka pikir pusaka itu senjata tajam. Hanya karena keris itu dianggap berfungsi sama dengan pedang dan pisau.

Di dalam wacana Maiyah, dipahami bahwa dalam negara, rakyat itu pegang pisau dan cangkul, untuk bekerja mencari penghidupan. Pemerintah pegang pedang, karena tugasnya menjaga dan mengamankan perjuangan rakyat dalam membangun penghidupan dan kehidupan. Indonesia modern tidak lagi mengenal keris, kecuali menyangka bahwa keris itu adalah senjata tajam seperti pisau dan pedang.

Maka Indonesia tidak punya Majelis Rakyat, yang merupakan “keris”nya suatu bangunan rakyat dalam Negara. Indonesia hanya mengenal kaum profesional dan pejabat-pejabat. Mereka tidak mengetahui fungsi kiai, ulama, begawan, panembahan, budayawan, spiritualis, yang merupakan fungsi “keris” dalam kehidupan bernegara. Bahkan ada yang lebih parah. Para pejabat yang menyandang pedang, malah memakai pedangnya untuk mencangkul atau menggunakannya sebagai pisau nafkah. Padahal para penyandang pedang sudah dijamin nafkah penghidupanya hingga pensiun.

Maka Indonesia modern juga tidak punya rangka berpikir untuk menghargai Cak Nur. Indonesia tidak mengenal lagi idiom untuk mengenali Begawan atau Panembahan Nurcholish Madjid. Bahkan ummat Islam juga tidak menyebut KH Nurcholish Madjid. Padahal Cak Nur sejak kecilnya bersama keluarganya, terutama Bapak beliau yakni KH Madjid, adalah aktivis Nahdlatul Ulama.

Sebab Indonesia modern hanya kenal idiom profesionalisme. Mereka bertanya: “Apa profesimu?”. Orang menjawab: “Profesi saya ilmuwan, ulama, kiai”. Kiai kok profesi. Ulama kok profesi. Betapa “dholuman jahula”-nya Indonesia modern pembebek cara berpikir peradaban Barat ini. Mereka sungguh tidak memahami Begawan Panembahan KH Nurcholish Madjid. Salah satu “kesalahan” Cak Nur sejak awal adalah karena ia tidak memperkenalkan dan mensosialisasikan dirinya sebagai “Gus Nur”. Cak Nur tidak terlalu sadar, karena beliau memang tidak ambisius apalagi megalomaniak, untuk berlindung dalam mitologi-mitologi tradisional yang negara modern Indonesia juga menganutnya.

Cak Nur manusia yang murni. Lelaki yang lembut. Suami yang setia. Pemikir yang cemerlang seperti ada matahari di dalam kepalanya. Vokalnya kung. Kejiwaannya lugu. Akhlaknya jujur. Budayanya tidak melebih-lebihkan dirinya. Cak Nur tidak nampang. Tidak licik. Juga tidak menitipkan putrinya kepada Presiden demi keamanan masa depan. Bahkan ketika bersama saya mengupayakan Pak Harto lengser, kami berjanji tidak boleh terlibat dalam struktur kekuasaan pasca Soeharto. Tidak boleh menjadi pejabat.

Tetapi masyarakat terlanjur terpenjara dalam situasi “yandhuruttahy kaannahurroty”. Memperlakukan tahi seakan-akan ia adalah roti. Asal-usulnya karena para stakeholders sejarah menyuguhi tahi dengan diperkenalkan atau dinisbahkan sebagai roti. Itu berlangsung terutama berdasar manipulasi politik yang memerlukan hipokrisi dan tipu daya. Ketika para cendekiawan, ilmuwan, mungkin juga budayawan bahkan ulama dan kiai-kiai tersandera, tertindih, terkurung oleh kekuasaan suatu rezim, mereka baramai-ramai sengaja atau tak sengaja, sadar atau tak sadar, turut berpartisipasi dalam proyek pembangunan yang mensosialisakikan tahu sebagai roti.

Dan masyarakat menerima dan mengikutinya. Pertama karena secara alamiah manusia dianugerahi Tuhan kemampuan untuk beradaptasi atau penyasuaian diri. Mungkin awalnya ada perlawanan atau pemberontakan yang biasanya parsial dan sporadis. Tetapi oleh bergulirnya waktu, karena rezim sangat kuat, dan para pemimpin masyarakat sendiri mendukung rekayasa rezim karena takut kelaparan atau eman kalau tidak ikut mendapatkan rangsum, lama-lama sosialisasi yang mereka lakukan mencapai keberhasilan.

Apalagi jenis manusia Indonesia adalah manusia yang kemampuan adaptasinya memang sangat tinggi. Setelah “yandhuruttahy kaannahuroty” dilangsungkan dalam waktu yang lama, dekade demi dekade di mana pemimpinnya selalu cenderung melakukan hal yang sama, akhirnya masyarakat bukan hanya percaya bahwa yang mereka makan adalah roti, tetapi benar-benar sanggup menikmatinya. Bahkan akhirnya masyarakat atau rakyat turut mempertahankan “kebenaran” bahwa itu adalah roti. Dan masyarakat ikut marah kalau ada dari antara mereka yang berani-berani mengemukakan kebenaran sejati bahwa sesungguhnya itu adalah tahi.

Tentu bukan beneran roti dan tahi. Itu hanya sanepan, simbolisme atau amtsal. Yang mencoba menggambarkan jarak kualitas yang sangat jauh antara suatu hal dengan hal lain. Sabrang Letto mengutip ada penelitian kepada sejumlah monyet. Yang dikurung di dalam kandang. Di dalam kandang itu ada tangga, ujung tangga bagian atas disandarkan pada papan untuk duduk, seakan-akan lantai kedua dari lantai bawah di kandang itu. Kalau sampai ada monyet yang bergerak menaiki tangga, semua monyet itu disiram air es. Demikian seterusnya, sampai semua monyet mengalami disirami air es yang membuat mereka terkejut kedinginan.

Pada tahap berikutnya, kalau sampai ada seekor monyet menaiki tangga, monyet-monyet lainnya marah dan menarik kakinya untuk menghalangi jangan sampai ia menaiki tangga. Pertama-tama ada monyet yang melawan monyet-monyet lain yang menghalangi ia naik tangga. Tapi karena jumlah monyet yang menarik kakinya, bahkan memukulinya, lebih banyak dibanding monyet yang naik tangga, maka akhirnya tidak ada satu monyet pun yang berani menaiki tangga.

Tahap berikutnya satu monyet dikeluarkan dari kandang, diganti dengan seekor monyet yang baru. Si pendatang ini ketika ada peristiwa pengeroyokan terhadap monyet yang naik tangga, ia ikut mengeroyoknya. Alhasil selalu berlangsung seperti itu. Monyet demi monyet diganti lainnya dari luar kandang, tapi ternyata monyet-monyet baru itu turut mengeroyok monyet yang menaiki tangga, padahal mereka tidak mengalami dan tidak mengerti apa sebabnya monyet yang naik tangga itu dikeroyok.

Demikianlah juga yang berlangsung dalam sejarah regenerasi rakyat suatu negara. Generasi baru turut membenci apa yang dibenci oleh generasi sebelumnya, tanpa landasan apapun kecuali hanya taqlid atau meniru kebiasaan lingkungannya. Kalau “naik tangga” itu menggambarkan tradisi kreativitas, maka setiap yang coba kreatif malah dihalangi. Kalau “naik tangga” adalah inovasi, progresivitas, kritisisme, ijtihad atau nahi munkar, maka itu semua terbunuh dengan sendirinya karena tradisi masyarakatnya yang “psiko-sosiologi politik”-nya sama dengan masyarakat monyet.

Regenerasi rakyat atau suatu masyarakat berlangsung sedemikian rupa. Kalau generasi tua “turun dari sorga”, maka generasi muda ikut “turun dari sorga”, meskipun tidak tahu sebabnya, tidak mengerti alasannya dan tidak memiliki pengalaman yang dialami oleh generasi sebelumnya. Dan kebanyakan dari generasi tua cenderung mengajak anak-anaknya untuk “turun dari sorga”, sebab mereka tidak tega anak-anaknya akan disiram air dingin atau dikeroyok oleh teman-teman segenerasinya.

Orang-orang tua di zaman milenial bukan hanya kehilangan metode untuk mendidik anak-anaknya. Karena memang Indonesia modern tidak merupakan kontinuasi dari Indonesia tradisional. Indonesia baru bukan terusannya Indonesia lama. Di Yogya bahkan anak-anak memaksa Bapak Ibunya untuk dibelikan motor. Kalau tidak dibelikan, mereka mengamuk. Secara random akhirnya muncul budaya “klithih” yang sangat brutal, sebagaimana “Geng Motor” di daerah-daerah lain. Anak-anak remaja pakai motor, nongkrong ngumpul di suatu tempat. Kalau ada orang lewat mengendarai motor, mereka mencegatnya dan memanggal kepalanya dengan kelewang, pedang, pisau atau clurit.

Lainnya