Kebon (210)

Maiyah Bukan Karya Manusia

Foto: Adin (Dok. Progress).

Kiai Tohar mengingatkan bahwa yang sekian puluh tahun ia kawal dari pergerakan budaya saaya di dunia kesusastraan dan kesenian Indonesia misalnya “Sastra Yang Membebaskan”, “Perlawanan Yogya terhadap Hegemoni Jakarta”, “Indonesianisasi Teater” Teater Dinasti dengan hanya mementaskan naskah-naskah yang digali dari sejarah bangsa sendiri, tanpa satu kali pun mementaskan naskah import misalnya dari Shakespheare, Sopochles, Anton Chekov dll. Termasuk mensupport dari jauh Gerkan “Teater Rakyat” yang dipanglimai oleh Simon Hate, Joko Kamto, Agus Istijanto, Eko Winardi, dan Angger Jatiwijaya (alm).

Kemudian pengawalan Pemberontakan atas pembangunan Waduk Kedungombo di markas masyarakat Mlangi dan Kedung Pring. Yang kemudian diikuti dengan kritisisme frontal terhadap ICMI di mana BJ Habibie Ketua Umumnya ternyata tidak berani melawan Soeharto. Berikutnya revolusi “Lautan Jilbab” dan berikutnya pasti adalah Reformasi 1998 yang gagal total itu. Gerakan Shalawat dan Tembang Jawa.

Dari markas Patangpuluhan kita melakukan berbagai inovasi, pergerakan sosial, membangkitkan trend-trend baru. Tidak terbatas pada dunia kesusastraan dan kesenian tetapi menyangkut keseluruhan komprehensi perikehidupan negara dan masyarakat. Termasuk perintisan sejumlah pola acara talkshow di layar televisi. Pencekalan atas saya tidak boleh masuk Jawa Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan dan Barat kalau sekarang. Main “jumpritan” kejar-kejaran dengan pasukan TNI dan Polri ketika mengurusi kasus Nipah di Sampang, kemudian ketika menyatakan pembelaan terhadap Majalah “Tempo” yang dibredel, di mana saya mengumpulkan sekitar 200 Ulama dan Kiai se-Madura yang tergabung dalam “Basrah”.  

Kemudian sampai ke “Maiyah”. Banyak juga inovasi, pergerakan, fenomenologi, perintisan dan kepeloporan lain yang tidak mudah untuk dirumuskan secara “administratif kognitif” semacam itu. Manusia dalam sejarah harus belajar berpikir kualitatif dan multi-dimensional. Tidak hanya sepanjang zaman hidup awam, linier dan elementer terus-menerus. Semua yang dilakukan dengan energi yang luar biasa dari Patangpuluhan ketika itu dalam Islam namanya “Tajdid”. Pembaharuan. Sebagaimana pergerakan Muhammadiyah yang dirintis oleh KHA Dahlan, atau yang juga pernah dilakukan oleh intelektual Muslim kelas utama saat itu Dr. Nurcholish Madjid.

Rasulullah Muhammad Saw memberikan panduan sekaligus peringatan:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ
يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ
وَ اِنْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ

Ilmu akan dibawa oleh orang-orang yang terpercaya pada setiap generasi. Mereka akan menghapus tahrîf (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, ta’wîl (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan.

Dalam skala yang lebih universal namun hakiki ummat manusia yang dimanjakan oleh Allah sebagai waakil-Nya di bumi ini kalau bisa selalu berikhtiar jangan sampai terlalu gagal melaksanakan tugas dan amanahnya.

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ
إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan haq? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru.

Firman ini kalau dikutip seperti agak berlebihan. Tetapi tidak demikian bagi kami. Meskipun komunitas Patangpuluhan secara budaya tidak tampak religius atau terdiri dari orang-orang saleh, tetapi mereka semua menjalani hidup dengan sangat sungguh-sungguh menyadari keterlibatan Allah Swt di setiap serpih dan jengkal perjalanannya.

Termasuk dalam menjaga posisi hati dan semua dimensi kejiwaan. Semua “tajdid” yang saya sebutkan di atas itu saya sendiri menyempulkan bahwa saya tidak pernah berhasil. Saya tidak pernah “memasukkan bola ke gawang sejarah” dalam arti yang sebenarnya. Contohnya ketika semua proses itu diperjalankan Allah sampai ke Maiyah, entah berapa ratus kali saya mengemukakan kepada Jamaah Maiyah bahwa Maiyah bukanlah karya saya. Tajdid multidimensional yang dilakukan oleh Maiyah sehingga tidak ada forum yang seperti itu di zaman apapun di masa silam sampai era supra modern sekarang ini di belahan bumi manapun. 

Prinsip silaturahminya, dialektika budayanya, pola interaksinya, hulu hilir diskusinya, perhubungan persaudaraannya, kehati-hatiannya untuk tidak menjadi kelompok sosial, madzhab agama atau partai politik maupun institusi apapun. “Sinau Bareng” Maiyah juga bukan dengan sistem dan budaya persekolahan atau perkuliahan. Juga sasaran pengolahannya yang tidak memfokuskan diri pada kekuasaan, kehebatan, kekuatan, kecanggihan atau apapun yang sebenarnya sangat potensial menjadi bumerang bagi kemashlahatan hidup manusia.

Bahkan andaikan pun saya bercita-cita, atau mengkonsep suatu gerakan sejarah, atau merumuskan doa dan permohonan kepada Allah, tidak akan saya petakan sebagaimana kekayaan Maiyah sekarang kita nikmati bersama. Jadi sejatinya hanya Allah sendiri yang punya keutuhan dan kematangan seperti itu untuk menganugerahkannya.

Maka sejatinya tidak ada petani yang menghasilkan panen. Tidak orang berusaha yang menghasilkan sukses. Manusia hanya menanam biji jagung atau kedelai. Tetapi yang mensemaikannya, yang memanjangkan batangnya atau meninggikan pohonnya, apalagi kemudian dari pohon itu muncul buah, bukanlah manusia pelakunya.

Lainnya