Kebon (211)

Bertengkar dengan Tuhan

Foto: Adin (Dok. Progress).

Ada sejumlah kata-kata mutiara atau kalimat ajaran yang dihapalkan secara umum, dari zaman kuno, yang sekarang justru diandalkan untuk icon pemasaran industri kapitalisme modern. Kalau menurut kurikulum kelas I Pondok Gontor itu namanya “Mahfudlat”. Misalnya sebuah produk dari Korea semacam batu energi atau batu frekuensi yang dikalungkan di leher untuk menyembuhkan sejumlah penyakit umum, melancarkan aliran darah dan metabolisme, refreshing seluruh kondisi tubuh. Produk Korea itu ditulisi mahfudlat “Man Jadda Wajada”. Barangsiapa bersungguh-sungguh, ia akan mencapai apa yang dicita-citakan.

Secara budaya dan dalam kebiasaan lelaku hidup manusia, kalimat ini tidak bisa disalahkan. Apalagi keperluannya memang sebatas untuk membangkitkan daya juang dan kesungguhan hidup. Tetapi kalau anak-anak yang kita ajari itu sejak kecil, lantas kelak ketika mengalami kehidupan di masa dewasanya, ia harus berlatih dan terbiasa andaikata memperoleh pengalaman bahwa ternyata hal itu tidak selalu benar.

Di dalam kehidupan nyata banyak sekali fakta bahwa kesungguhan tidak pasti menghasilkan penemuan. Perjuangan tidak selalu menghasilkan pencapaian. Manusia dewasa pada akhirnya harus belajar menemukan dan mengakui bahwa kata “wajada” yang berarti menemukan atau mencapai, itu subjeknya yang utama adalah Tuhan. Tuhan yang memiliki ketetapan dan keabsolutan ketentuan apakah seorang yang berjuang sungguh-sungguh akan menemukan hasil atau mencapai sukses atau tidak.

Lagu Rhoma Irama berjudul “Perjuangan dan Doa” mudah-mudahan karena pengarangnya menyadari bahwa perjuangan saja tidak cukup. Se”jadda” atau sesungguh-sungguh apapun perjuangan itu. Maka harus disertai atau dipersyarati atau diperjodohkan dengan doa. Doa adalah pengakuan dan kesadaran bahwa “Innalla a’ala kulli syai`in Qadir”. Allah sangat berkuasa dan menentukan apa saja.

Tetapi ada dilema doa. Kalau kita meminta, diam-diam sebenarnya ada kandungan tuduhan bahwa pihak yang kita minta itu punya kemungkinan untuk tidak memberikan apa yang kita minta. Maka itulah sebabnya kita lantas meminta. Allah sendiri membuka pintu kepada manusia “Ud’uni astajib lakum”. Berdoalah kepada-Ku maka Aku akan menjawab.

Maka ada empat hal yang saya anjurkan kepada Jamaah Maiyah kalau mereka berdoa kepada Allah. Pertama, meskipun kalian tidak berdoa, tidak meminta, tidak mengemukakan hajat kalian, Allah bahkan lebih mengetahui apa yang kalian butuhkan atau kalian mintakan. Kedua, tetapi tetap afdhal kalau kalian berdoa, sebagaimana wujud akhlaq kerendahan hati kepada Allah, serta pernyataan bahwa kalian tidak berdaya atas apapun di hadapan Allah. Ketiga, kalian berdoa tidak dengan tuduhan implisit bahwa Allah punya kemungkinan untuk tidak mengabulkan. Keempat, maka bacalah Al-Qur`an sesering mungkin, secara detail, jeli dan cerdas. Temukan apa saja yang menyangkut hidup kalian yang oleh Allah sudah difirman merupakan jaminan, dengan atau tanpa manusia memintanya. Di dalam berdoa, ubahlah pesimisme, harapan dan tuduhan bahwa Tuhan tidak Maha Pemurah menjadi keyakinan. Berdoalah dengan muatan iman dan keyakinan sepenuh-penuhnya.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ
مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Kalau manusia punya kecemasan akan tidak bisa makan. Kalau manusia panik terhadap kesejahteraan dan penghidupan. Kalau manusia takut akan mati karena tidak bisa menghidupi diri sendiri. Maka sejatinya ia berada dalam posisi tidak mempercayai firman itu. Apalagi kalau karena kecemasan itu ia lantas mencuri, melakukan kecurangan-kecurangan, ketidakadilan dan pelanggaran-pelanggaran lain atas hak milik harta benda dan kekayaan. Maka sesungguhnya ia menyakiti hati Tuhan, meremehkan janji Tuhan dan melecehkan kemurahan Tuhan kepada makhluk-Nya. Dan itu berarti mencari perkara melawan Tuhan. Membuka konflik dan pertengkaran melawan Tuhan.

Mahfudlat lain yang diajarkan oleh Guru-guru di Gontor tahun 1966 dulu antara lain “Man yazra’ yahsud”. Ini juga sekadar kalimat motivasi yang masih cacat secara ilmu, apalagi secara keagamaan. Meskipun Anda menanamkan benih atau biji, Anda tidak punya kesanggupan untuk menumbuhkannya, apalagi membuatnya berbuah. Yang mensemaikan dan “ngodot” tetumbuhan adalah Allah atau petugas-Nya. Misalnya petugas-Nya adalah Malaikat, si Malaikat ini pun tidak punya kemampuan untuk membesarkan dan membuahkan tanaman kalau tidak atas kehendak dan kekuasaan Allah. Jadi “man yazra’” belum tentu “yahsud”. Terserah Tuhan. Termasuk apakah iman dan amal seseorang dijadikan pertimbangan oleh Allah untuk menumbuhkan tanamannya atau tidak. Manusia tidak bisa merumuskan sebab akibatnya. Manusia tidak berhak mengklaim.

وَمَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّضِلٍّۗ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِعَزِيزٖ ذِي ٱنتِقَامٖ

Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

Manusia yang berakal saja, yang punya intelektualitas dan kecerdasan, yang punya keterampilan budaya, baru bisa mencapai sesuatu sesudah mendapat petunjuk dari Allah. Apalagi jagung atau padi. Setiap tetumbuhan tidak bisa tumbuh dan berbuah kecuali atas kehendak Allah Swt.

Demikian juga “Man sara ‘alad darbi washala”. Barangsiapa berjalan di alurnya, maka ia akan sampai. Ini juga tidak mengandung kelengkapan hakiki kehidupan. Sampai atau tidak ke tujuan, tetap berada di bawah kuasa Allah.

Juga banyak sekali lainnya, yang muatannya adalah motivasi-motivasi untuk mencari ilmu, untuk berakhlaqul karimah, untuk bermasyarakat, untuk menjadi pemimpin dlsb.

Al`adabu fauqal ‘ilmi”. Keadaban itu lebih tinggi derajatnya dibanding ilmu. “‘Alaika bis shidqi fi kullil umur”. Berlaku jujurlah di setiap perkara. “La Takdzib faakhbaha ma yuzri bika alkadzibu”. Hendaklah engkau berlaku jujur dalam setiap perkara. Janganlah berbohong karena seburuk-buruk cela bagimu adalah kebohongan. Dan ribuan lagi.

Itu semua pengetahuan dasar dan elementer tentang kehidupan dan bagaimana menjalankannya. Tetapi belum mengandung kualitas dan kelengkapan ilmu. Misalnya “barang siapa menanam, akan mengetam”.

Faktanya kaum tani bisa menanam tanpa mengetam. Bisa karena hama atau banjir atau faktor lain. Di Padhangmbulan Mei 2021 kemarin Markesot bercerita pernah para petani di Menturo “tandur” atau “yazra’” sampai lima kali dan tidak pernah berhasil mengetam atau panen.

Dulu sekitar awal 1960-an Markesot adalah tokoh yang paling dibenci oleh Raja Tikus. Hama tikus yang merajalela dan merusakan tanaman apapun di sawah, membuat Pemerintah bikin sayembara. Siapapun yang setor ke Balai Desa ekor-ekor tikus, satu ekor dihargai atau dibeli, misalnya satu Rupiah. Saya lupa persisnya, mungkin sekian “sèn” atau “kethip”. Markesot pejuang yang sangat gigih, stamina tinggi dan tahan banting. Setiap hari ia membawa ribuan ekor tikus ke Balai Desa dan mendapat uang banyak.

Sampai-sampai Raja Tikus tersinggung dan marah, sehingga malam-malam di Langgar Etan Markesot harus meladeni tantangan duel melawan Raja Tikus. Saya dan anak-anak lain hanya bisa minggir, tidak punya kemampuan untuk membantunya. Bahkan kami hanya melihat Markesot berkelahi tanpa lawan.

Oleh karena itu semua kisah perjuangan, tajdid, pembaharuan, alternatifisasi, penemuan, ikhtiar-ikhtiar ilmu, budaya atau politik yang dilakukan di Patangpuluhan hingga Kadipiro, saya tidak pernah menyebutnya sukses. Bukan prestasi. Bukan pencapaian.

Batas manusia hanya optimalitas ikhiar atau maksimalitas daya juang. Semacam lineup ke garis batas takdir. Sementara keberhasilan, prestasi dan pencapaian, wilayahnya adalah upline di atas garis batas takdir Allah Swt. Termasuk kesehatan. Saya tidak pernah mengatakan saya sehat, meskipun dilengkapi dengan alhamdulillah saya sehat. Sebab yang sehat bukan saya, melainkan produk dari kemurahan Allah kepada saya.

Jadi hidup ini yang utama adalah kalian sudah berikhtiar optimal, berjuang maksimal, tidak menyalahi sunnatullah apapun, sudah berpikir jernih dan seimbang, sudah selalu mengupayakan kemurnian hati dan kesucian jiwa. Sesudah itu atau di atas itu, kalau Allah menimpakan sesuatu kepada kalian, termasuk kematian, kita sudah tidak menyesali sesuatu yang kurang tepat atau kurang maksimal dalam kehidupan kalian.

Lainnya