Kebon (181 dari 241)

Dosen Gelandangan, Gelandangan Dosen

Cak Nun bertemu Pendeta Hofman (2008) di Belanda.

1984. Seusai memenuhi undangan mengikuti Poetry International di Rotterdam, tidak bisa pulang ke Indonesia, sementara di Netherland belum jelas posisinya, statusnya, dan semua keadaannya. Termasuk makan sehari-harinya.

Tetapi tidak bergantung pada keadaan bagaimanapun, saya selalu terus menulis, dengan niat mensyukuri nikmat Allah. Allah menganugerahkan fadhilah berupa kenikmatan menulis sedemikian rupa. Anugerah itu saya maknai sebagai tugas dan kewajiban hidup. Maka kalau Allah memberi kewajiban, Ia pasti menyediakan fasilitasnya juga.

Fasilitas yang saya terima dari Allah adalah kemudahan menulis dalam situasi apapun saja. Kaya atau miskin, tempat menulisnya memenuhi syarat atau tidak, dalam keadaan gembira atau sedih, siang atau malam, sedang longgar atau kepepet, kenyang atau lapar, udara hangat atau saya kedinginan oleh cuaca Winter. Apapun saja, saya tetap mensyukuri fadhilah dari Allah.

Selama keadaan sehari-hari saya teorinya “tidak memungkinkan” itulah lahir buku saya “Dari Pojok Sejarah”, dengan setiap hari membayangkan dialog dengan Adil Amrullah adik saya yang kaya raya ilmu dan pengalaman sosialnya. Saya tidak punya izin tinggal di Belanda sampai saya mnggebrag-gebrag meja kantor Polisi Utrech. “Saya datang baik-baik dan mau tinggal di Negeri Anda dengan uang saya sendiri, kenapa dipersulit. Kakek-kakek Anda dulu datang tanpa kulo nuwun ke Negeri saya, untuk merampok…”

Untung ada Pendeta Hoffman, tokoh Protestan dari Amstelveen menengahi pertengkaran kami, sehingga situasi konfrontatif itu menjadi reda. Pendeta Hoffman ini kemudian memberi saya satu kamar di Gerejanya. Tahun 2008 ketika bersama KiaiKanjeng saya keliling 19 kota Netherland, saya sempatkan mencari dan menjenguk beliau di rumahnya. Gereja beliau yang saya punya satu kamar, ketika saya datang kembali itu sudah berubah menjadi Mall. Pendeta Hoffman seperti menangis wajahnya ketika saya mengunjunginya dalam posisi sudah lenyap tempat ibadahnya.

Tatkala menulis “Dari Pojok Sejarah”itu saya dapat kamar di Rumah PBB Jl OudemallStraat Den Haag. Sewa normalnya 350 gulden, saya alhamdulillah hanya membayar 175 Gulden. Karena kamarnya paling kecil, letaknya di pojok bawah sehingga kurang kebagian arus gas pemanas. Luar biasa dingin dan membeku tinggal di kamar itu. Maka saya menjadi Ayatullah. Berpakaian tebal dan berlapis-lapis, cari mantel dan surban penutup kepala di Pasar Loakan. Itu pun masih kedinginan. Tetapi faktor utama saya memperoleh kamar itu adalah karena sudah beberapa tahun tidak ada yang mau menyewa. Itu sesudah penghuni terakhirnya bunuh diri.

Orang tidak menyewa mungkin karena takut, dan saya menyewanya bukan karena berani. Saya polos-polos saja. Bergaul apa adanya dengan siapapun saja. Ibu saya kan berpesan ketika kasus PPP di alun-alun utara Yogya: “berbuat baik di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja”.

Kalau orang yang bunuh diri di kamar yang saya tinggali itu misalnya datang, ya tinggal saya sambut dengan prinsip “ikromudl-dluyuf” menurut ajaran Islam. Saya mendoakan semua manusia yang masih hidup dan yang sudah mati. Saya menghormati semua manusia yang masih hidup dan yang sudah mati.

Kalau ada tamu, ya disambut dan diladeni mengobrol. Ditanya apa keperluannya, siapa tahu saya bisa menolong atau berbuat sesuatu untuk tamu saya. Kalau roh orang bunuh diri itu malu-malu menampakkan dirinya, sehingga hanya muncul melalui kelebatan bayangan atau suara-suara, saya akan minta mbok muncul terang-terangan saja, “adu arep” kata orang Jawa atau “muwajjahah” kata orang Arab.

Tapi sepanjang saya tinggal di kamar itu, si roh orang bunuh diri itu tidak pernah nongol, dengan cara apapun. Saya menduga dia pekewuh kepada saya. Dia mungkin tahu saya sedang dirundung banyak masalah dan sedang bersedih hati jauh dari anak istri di Patangpuluhan Yogya, padahal si roh orang bunuh diri itu tahu bahwa dia tidak bisa menolong saya, bahkan tidak tahu bagaimana menghibur saya.

Maka dia absen. Saya pun memaklumi. Sebab saya pun tidak akan bisa menolong dia. Urusannya dengan Malaikat Munkar Nakir saja mungkin belum beres-beres amat, apalagi nanti berhadapan dengan Baginda Roqib ‘Atid. Saya sendiri pun belum tentu beres nanti urusan dengan para pegawainya Allah itu. Maka saya sangat rajin shalawatan karena bergantung nasib kepada Panjenenganipun Kanjeng Nabi Muhammad Saw, satu-satunya pihak yang syafaatnya berpeluang menolong saya di hadapan pengadilan Allah Swt.

Sesungguhnya, secara ilmu kesehatan sejauh kita pahami dari pengalaman sekolah dan mempelajari ilmu-ilmu modern, hidup saya di Belanda pada 1984-1985 sama sekali tidak sehat. Tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Tidak bisa disebut gelandangan sepenuhnya secara teoritis, tetapi praktis sehari-hari saya memang menggelandang.

Sambil ulang alik Amsterda-Berlin Jerman, sesekali Amsterdam, Utrecht, Nijmegen, saya meneruskan hidup dan tinggal di Belanda tanpa bekal legalitas maupun penghidupan. Ada sih job-job sporadis: baca puisi di Gallery-gallery atau Lembaga-lembaga kesenian atau kampus, dapat honor sekadarnya untuk menyambung hidup. Kalau malam saya begadang di Leidsplein atau Kudam, setelah lewat tengah malam biasanya terus bergeser ke Central Statsioon ketemu sesama gelandangan para Refugees dari beberapa Negara Afrika. Makan malam sebungkus MacDonald atau Kentucky Fried Chicken, sebab mahal tak terjangkau kalau cari nasi Soto atau makanan Padang. Saya banyak ditolong dan ditampung menginap oleh saudara dan sahabat yang tulus ikhlas dari Indonesia bernama Siswa Santosa yang sekarang menjadi aktivis “Mafaza” Maiyah Eropa.

Sementara saya numpang di flat teman dari Amerika, Charles McGeehan, yang sangat bersemangat terhadap dunia puisi dan mengagumi Indonesia. Dia yang mengejar saya terus minta puisi saya untuk ia terjemahkan ke Bahasa Inggris. Kamar Charless di sebuah bangunan apartemen sebenarnya juga “gelandangan”. Tidak ada pemanas. Tidak punya kompor. Jangankan Kasur atau hiasan-hiasan. Kalau tidak karena pertolongan, kekuasaan, dan kasih sayang Allah, tidak mungkin saya bertahan hidup dengan tiap hari suhu di bawah 0-derajat, tinggal tidak menentu, makan kalau pas bisa beli. Tetapi saya punya prestasi: karena tidak ada air hangat, saya mungkin pernah tidak mandi selama sebulan. Sehebat-hebat prestasi para tokoh di tanah air, saya tidak yakin pernah menjalani rekor tidak mandi sampai sebulan.

Lainnya