Kebon (180)

Sepakbola dan Lauhul Mahfudh

(Foto: Adin/Progress).

Saya alumnus begadang di Malioboro lima tahun. Berangkat dari Kadipaten bakda maghrib mengikuti kelas Malioboro, pulang sebelum Subuh. Kemudian melanjutkan studi di Patangpuluhan gaple sampai dini hari juga. Sebagian mereka ngeloyor pulang ke kost atau kampungnya, saya masuk kamar mengetik.

Pokoknya mengetik, entah apa yang ditulis. Dalang ora kurang lakon. Allah Maha Kaya, dan Ia Al-Hady. Asalkan kita online dengan-Nya, arus data dari langit tak ada batasnya. Tinggal bergantung pada organisasi intelektual di otak kita dan tata manajemen akal pikiran kita. Hati tenang legowo menjadi wadahnya. Allahu yahdi man yasya`, Tuhan mengilhami siapa saja yang dikehendaki-Nya. Kondisi jasmani patuh sampai batas tertentu kepada rohani.

العَقْلُ السَّلِيْمُ فيِ الجِسْم السَّلِيْمِ

Filosofi peradaban Barat mengatakan “Jiwa yang sehat berada dalam badan yang sehat”. Siapa bilang. Dalam pengalaman saya, itu terbalik. Badan yang sehat adalah produk dari jiwa yang sehat. Orang merampok, maling atau korupsi, rata-rata sehat badannya, tetapi rusak mental dan moralnya.

Saya siap disalahkan dan dikritik oleh Allah atas pendapat saya ini. Tetapi Allah mentakdirkan saya justru di usia-usia tua ini saya tidak pernah pilek, badan nggregesi atau demam, tidak pernah pusing kepala atau sakit perut. Tatkala pada tahun 2003 saya dibunuh orang, Tuhan mendemonstrasikan bahwa hanya Ia menentukan hidup mati setiap makhluk-Nya.

Pulang dari begadang di Malioboro, tiba di Kadipaten 17 saya langsung mengetik. Usai “dzikrul ghafilin” gaple dini hari di Patangpuluhan saya langsung mengetik. Saya tidak bisa tidak mewujudkan apa yang Allah aruskan ke dalam jiwa saya menjadi tulisan. Entah kalimat-kalimat lepas saja, entah artikel, puisi, esai atau apapun.

Pelatihan ilmu harus terus diasah, supaya Allah tidak tersinggung karena saya memubadzirkan atau menyia-nyiakan waktu, tahun, bulan, hari, jam, menit, detik: 

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ:
يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ،
بِيَدِي الأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.

Jangan sampai mesin ilmu saya macet, mogok atau mbrebet. Mencari, mengasah, melatih dan meworkshopi proses ilmu tidak ada pensiunnya.

لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَّاسُ كَالبَهَائِمِ

Seandainya tiada berilmu niscaya manusia itu seperti binatang.

Saya santri Gontor, meskipun akhirnya diusir dan ditangisi oleh Ahmad Tauhid putra Kiai Ahmad Sahal yang sepuh santun penuh kasih sayang. Ketika SD di Gontor saya ndobel sekolah di Madrasahnya Pak Carik dan Bu Zayyin. Saya dihajar tradisi kerajinan mencari ilmu. Saya didera tradisi sinau. Bahkan saya diizinkan belajar, membaca buku atau mengerjakan PR sambil nangkring di dahan pohon sebelah utara rumah Pak Carik.

اُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ

Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur.

Saya hafal Mahfudlat asal yang pendek-pendek seperti itu, kata-kata Mutiara inti kehidupan. Meskipun tidak mengerti Kitab Kuning dan tidak pernah menjadi pembelajar resmi ilmu-ilmu Islam ataupun ilmu-ilmu sekuler modern. Tetapi saya tidak pernah punya keberanian barang semenit pun untuk tidak rajin membaca kehidupan. Tekun mendengarkan keramaian dan kesunyian. Mempelajari pengetahuan yang tanpa batas tentang segala sesuatu yang juga tanpa batas. Menggali dan menghimpun ilmu tanpa ada tepinya tentang segala ciptaan Allah yang juga ilmu paling canggih manusia belum pernah sanggup mengukur untuk mengetahui tepinya.

Saya menulis atau mengetik di mana saja, kapan saja dan dalam keadaan ribut seperti apapun. Mesin ketik bisa dipangku kalau meja dipakai. Saya menulis skenario film “Raya” dengan Blackberry Bold di pesawat Yogya ke Makassar dan Makassar ke Surabaya. Kalau jam 10-11 malam Jawa Pos belum punya tulisan kolom, petugasnya datang ke Patangpuluhan meminta dan menunggu 20 menit hingga setengah jam. Atau pas saya begadang di Malioboro, diminta naik ke kantor Jawa Pos untuk darurat menulis esai yang belum tersedia sampai deadline batas waktunya sebelum cetak. Piala Dunia sepakbola sedang berlangsung dan saya disuruh tiga koran menulis Analisa pertandingan. Ada hari di mana saya menulis lima tulisan tentang sebuah pertandingan.

Karena sepakbola itu peristiwa multidimensional. Sepakbola dilakukan oleh para pemain dengan kadar kemampuan dan strategi yang digunakan. Oleh para pemain yang berbeda watak budayanya antara Jerman dengan Italia. Oleh para pemain yang sejarah pembelajaran sepakbolanya berbeda-beda, ada yang alumnus Ajax Amsterdam dll. Oleh para pemain yang latar belakang keluarganya berbeda-beda. Bola di lapangan pun bergilir dan menggambar garis-garis dan alur-alur liku-liku putar-putar ulang-alik yang gambar itu tak bisa dibikin sebelum permainan berlangsung. Ada peran non-manusia di lapangan sepakbola. Ada takdir, ada Malaikat, ada makhluk-makhluk lain, ada Lauhul Mahfudh. Ada keputusan Allah tentang spontanitas pergerakan kaki setiap pemain pada momentum dan posisi yang berbeda-beda. Jangan dipikir ilmu manusia bisa merangkum seluruh dimensi kejadian sepakbola. Jangan dipikir akal pikiran manusia bisa merumuskan presisi per detik dan permenit setiap detail kejadian di lapangan.

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ
وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan maupun di lapangan sepakbola. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, tidak ada bola bergulir ke arah mana dengan kekuatan seberapa melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak ada bola masuk ke gawang, tidak ada bola menyentuh tangan seorang pemain, tidak ada kaki mencurangi kaki pemain lawannya,dan tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).

Jadi satu pertandingan sepakbola pada hakikatnya bisa menjadi sumber dari 10-20 atau bahkan 100 tulisan, review, refleksi atau analisis.

Lainnya