Kebon (45)

Bhinneka Gagal Ika

Foto: Adin (Dok. Progress).

Bukan masalah besar untuk mengiringi lagu-lagu shalawat dengan gitar tunggal, apalagi piano, atau combo-band diatonis standar, apalagi lagu-lagu shalawat standar seperti “Shalawat Badar” atau “Thala’al Badru”. Banyak sekali kelompok-kelompok musik di berbagai negara, kelompok koor atau paduan suara di mana-mana saja yang sudah membawakannya.

Bahkan di era awal kiprahnya KiaiKanjeng menggarap musik-musik shalawat dan mensosialisasikan kembali nomor-nomor seperti “Sidnan Nabi”, “Alfa Salam”, “Ya Allah ya ‘Adhim”, apalagi “Shalli wa Sallim” yang sudah hampir 100 persen Kaum Muslimin di desa dan kota manapun mengenalnya, apalagi sudah diterjemahkan menjadi “Eman-eman”.

Yang tidak mudah adalah mengawinkan Barat apalagi Arab dengan Jawa. Shalawat “Da’uni” bisa diblueskan. “Asyku Batstsi” bisa dibawakan secara rock. Bahkan “Takbir Akbar” bisa memuat berbagai kemungkinan genre. Atau “One More Night” Maroon-5 bahkan “Summer Time” yang kondang itu bisa nyamleng dengan gamelan. “Shalawat Madura” tanpa gundukan atau potongan sela-sela dalam aransemen bisa langsung nyambung ke “Nothing Compares to You” Senead O’Connor. Pada hakikatnya semua lagu di dunia tidak ada yang spesifik dan murni secara utuh, karena semua lagu lahir dari hanya 12 nada solmisasi. Selalu ada overlapping atau sedikit kesamaan notasi antar berbagai lagu di dunia, sehingga hukum hak cipta membatasi kesamaan itu kalau sampai mencapai 8 bar, maka disebut plagiat atau pencurian.

KiaiKanjeng tidak mengalami kesulitan apapun, karena notasinya diatonis biasa. Apalagi hampir semua personel KiaiKanjeng relatif menguasai banyak jenis alat musik, tradisional Jawa maupun modern. Jijit di drum, tapi kapan saja harus sentuh keyboard, saron atau demung atau gitar, tak ada masalah. Juga Sp Joko. Bayu pegang Bonang tapi siap juga ngedrum, memetik gitar, atau bass guitar. Jokam, Giyanto, dan Sariyanto memang lebih spesialis di Saron Bonang. Blothong spesialis biola, tapi dia Sarjana musik dan mengerti semua lalu lintas berbagai jenis alat musik. Tetapi jiwa musik, kenakalan dan keliaran, atau “anarkisme” musik, memang membutuhkan Nevi Budianto.

Dengan bekal kemampuan memainkan alat yang rata-rata komprehensif, serta dengan manajeman kerjasama kreatif di mana setiap orang adalah Jenderal sekaligus setiap orang adalah prajurit, dengan etos mental dan akhlak untuk menjaga keseimbangan kerjasama, merawat keikhlasan dalam kebersamaan — KiaiKanjeng melahirkan fenomena-fenomena musikalitas inovatif tingkat dunia.

Tetapi KiaiKanjeng adalah makhluk underground, kelompok kreator bawah tanah. Meskipun alat Demung Nevi diabadikan di Museum Conservatorio di Napoli. Meskipun publik 6 Provinsi Mesir “pingsan-pingsan” menyaksikan nuansa Ummi Kultsum dibunyikan dengan Gamelan, sampai-sampai di Gedung “No Smoking” itu KiaiKanjeng bukan hanya boleh merokok, tetapi bahkan dimintai rokok kretek oleh para petugasnya. Sampai-sampai listrik pertunjukan KiaiKanjeng di “Goumhurya” itu mandadak padam di tengah-tengah musik mengalun, karena petugasnya teriak-teriak dan loncat-loncat karena kaget dan senang mendengarkan Ummi Kultsum legenda negerinya dibawakan dengan alat-alat aneh entah dari makhluk mana itu. Meskipun personel-personel grup musik Ummi Kultsum pimpinan Dr. Yasser Muawwad “tidak bisa ngejar” secara musikal ketika “jam session” bermain campur dengan KiaiKanjeng. Meskipun Walikota Teramo Italia dan PM Inggris Gordon Brown menyatakan “Seharusnya masyarakat dunia ditata dan dikelola seperti KiaiKanjeng me-manage alat-alat dengan bunyinya, mengkerjasamakan seluruh potensi ummat manusia, mengkomprehensikan dan mengharmonikannya”. Tetapi di Indonesia sendiri tidak ada apresiasi apapun, dari kalangan musik apalagi dari Pemerintah dan pengurus kebudayaan Indonesia.

KiaiKanjeng bukan anak tiri dunia musik dan Indonesia di zaman ini: KiaiKanjeng memang bukan anak mereka. Sebab anak-anak kemerdekaan, anak-anak kebudayaan dan peradaban Indonesia sesudah 1945 adalah anak-anak yang mengekor dunia, hampir di segala bidang dari manajemen politik, perekonomian hingga sosial budaya dan peradaban kesenian, menjadi buntut bangsa lain, tidak percaya kepada dirinya sendiri, bahkan melecehkan kekayaan bangsanya sendiri. Dan KiaiKanjeng bukan pelaku regenerasi tak percaya diri semacam itu.

Indonesia adalah hamparan eksklusivisme berderet-deret dan bertebaran sebagai kepingan-kepingan di seluruh kepulauan Nusantara. Indonesia di era modern adalah negara yang gagal mengelola perbedaan, kecuali mengatasinya dengan otoritarianisme radikal, pembubaran, pembunuhan atau de-eksistensi konstitusional. Bahasa yang mereka pakai sangat radikal: makar, sempalan, ekstremis, teroris, anti. Diperkokoh oleh aktivis-aktivis Islam yang berpikir flat dan linier dan sama radikal dan otoriternya: haram, bid’ah, syirik, thaghut, kafir.

Indonesia adalah bangsa yang tidak pernah punya pemimpin di negaranya. Tidak pernah ada kepemimpinan dengan kematangan nilai-nilai kehidupan, kearifan dalam kebersamaan, kecanggihan dalam kedamaian, komprehensif-dialektis dalam menangani keragaman. Bahkan sekadar profesional di bidangnya pun tidak. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang bermain-main dalam memilih pemimpin, bahkan memain-mainkan nilai-nilai kehidupan, meremehkan ketergantungan dan kebutuhan manusia terhadap harmoni. Bangsa Indonesia melahirkan buzzer-buzzer perusak kehidupan, pengkhianat sejarah dan pembunuh nilai-nilai dasar kemanusiaan. Bangsa yang pemerintahnya selalu sombong dan omong besar tentang persatuan dan kesatuan, padahal tidak punya ilmu dan wibawa untuk mempersatukan. Selalu omong kosong tentang Bhinneka Tunggal Ika, padahal praktiknya selalu adalah Bhinneka Gagal Ika.

Lainnya