Kebon (44)

Penggali Kubur dan Shalawat Ketelingsut

Dok. Progress

Bagaimana penjelasan sejarahnya bahwa Dinasti, Perdikan dan KiaiKanjeng itu “bathang”? Bukan faktor dalam perkembangan zaman?

Mungkin bagi kami sendiri, atau maksimal bagi Masyarakat Maiyah, KiaiKanjeng itu “something”. Dari nomor musik “Rampak Osing”, “Sluku-sluku Bathok” hingga reportoar teater “Tikungan Iblis” dan “Nabi Darurat” adalah sesuatu yang merupakan monumen-monumen nilai di rentang sejarah “Sinau Bareng” kehidupan mereka.

Di pembuatan album “Kado Muhammad” dan awal-awal Maiyah, kesadaran kesenian KiaiKanjeng adalah “mengeksplorasi konsep musik-puisi”, contohnya “Besi dan Gelombang”, “Ke Mana Anak-anak Itu” dan “Rayap-rayap”. Kesadaran kebudayaannya adalah “Mengingat yang dilupakan orang, memungut yang dibuang orang, dan menghidupkan yang dikuburkan orang”. Indonesia merdeka 1945 untuk membangun Negara Kesatuan dengan juga membuang banyak hal-hal prinsip dan kekayaan-kekayaan nilai bangsanya sendiri, menguburkan hal-hal dari sejarah masa silamnya karena digantikan dengan hasil “kulakan” dari Barat.

Di antara anak-anak muda Dipowinatan memang ada seorang tokoh “legendaris” yang memang sukanya menggali kuburan-kuburan, tetapi bukan sembarang kuburan, dia memilih makam-makan orang yang kaya raya ketika hidup. Waktu mati dan dikubur, mereka berpakaian mewah, sering dengan mengenakan perhiasan-perhiasan mahal, bahkan gigi-gigi emas, atau alat-alat profesinya, misalnya peralatan kedokteran.

Juga si penggali kuburan ini melakukannya tidak karena ideologi Maiyah, tidak karena alasan kemanusiaan, kebudayaan atau nilai apapun. Ia menggali kuburan semata-mata untuk mengambil benda-benda mahal yang dikenakan oleh jenazah atau di sekitarnya. Jadi semata-mata berangkat dari alasan materiil dan materialistik. Pasti bukan karena ingin kaya dan punya banyak harta, melainkan untuk memperpanjang daya tahan untuk hidup. Supaya bisa makan atau sesekali bisa makan agak sedikit lebih enak.

Di era 1980-an itu para Sosiolog membagi strata ekonomi masyarakat menjadi tiga level. Ialah kelompok masyarakat yang sehari-harinya bertanya “Apa besok makan?”. Level di atasnya: “Besok makan apa?”. Di atasnya lagi “Besok makan di mana?” dan yang tertinggi menghadapi pilihan-pilihan “Besok makan siapa?”

Adapun prinsip “Mengingat yang dilupakan orang, memungut yang dibuang orang, dan menghidupkan yang dikuburkan orang”, dicontohkan oleh Jijit Azied Dewa: “Dulu masyarakat kalau shalawatan sembunyi-sembunyi, ndelik-ndelik, karena dianggap jadul oleh isu perkembangan modern. Tembang-tembang Pepujian hanya dilantunkan di Mushalla-mushalla kecil, terasing di pojok-pojok kampung, karena khazanah budaya modern merendahkan golongan kaum tertinggal yang mereka sebut “Kaum Sarungan”.

KiaiKanjeng blakasuta menampilkan khasanah-khasanah yang dibuang oleh perkembangan zaman itu ke atas panggung nasional. Tembang klasik seperti “Tombo Ati”, “Eling-eling Sira Menungsa”, “Jaman Wis Akhir” dll menjadi bagian yang berharga dari blantika musik nasional. Di televisi Indosiar pada suatu tayangan, saya bergantian melantunkan refrain “Jaman Wis Akhir” dengan Chrisye, Iwan Fals dan Gito Rollies. Setelah itu tembang dan shalawat mendapatkan tempat terhormat dan bergengsi, melahirkan sejumlah nama yang meningkatkan frekuensi kesenian tembang dan shalawat. Sampai ada tahun-tahun televisi dan media-media sangat penuh sesak oleh hidupnya kembali tembang dan shalawat, sehingga KiaiKanjeng ketelingsut entah di mana. Sehingga para pengamat, kritikus, penulis atau wartawan menulis dunia shalawat dan tembang tanpa ada KiaiKanjeng dan saya di deretan kalimat-kalimatnya.

Haddad Alwi seorang Habib kelahiran komunitas Arab di Pasar Kliwon Solo adalah salah satu tokoh populer shalawatan di panggung nasional. Sampai hari ini tak seorang pun tahu dengan tidak merasa tidak tahu atau apalagi tahu bahwa ia sebaiknya tahu bahwa pertama kali Hadad Alwi naik panggung dan melantunkan Shalawat adalah di panggung Radio Andalusia Malang di dalam pementasan KiaiKanjeng. Haddad datang ke Malang diantarkan oleh sejumlah Habib dan Ustadz, menemui saya dan KiaiKanjeng, kemudian saya ajak naik panggung Andalusia itu.

Berikutnya di Jakarta dan kota mana saja kapan saya diundang berceramah atau semacam pengajian tanpa KiaiKanjeng, saya ajak Haddad, Sudrun, Zainul dan Islamiyanto untuk saya kasih waktu untuk melantunkan shalawat di sela-sela di tengah ceramah. Haddad kemudian rutin menyertai pemanggungan KiaiKanjeng sampai sekitar 2,5 tahun. Haddad kemudian disorot oleh spotlight panggung-panggung nasional sebagai tokoh shalawat, dengan KiaiKanjeng ketelingsut di belakang panggung di sebuah pojok merokok baaass-buuuss dan tertawa-tawa cekikikan di antara mereka.

Haddad beberapa kali hadir di Maiyah Padhanmgbulan Menturo Jombang, disayang oleh jamaah, dikasih bidadari oleh Allah Swt, kemudian tampil dengan rekaman album sendiri yang mandiri tanpa KiaiKanjeng. Haddad diiringi di studio oleh Habib Abdullah Al-Habsyi yang pada dekade sebelumnya mengorbitkan pelantun qashidah Juwairiyah terutama dengan lagu dahsyatnya “Muhammad”.

KiaiKanjeng sampai hari ini tetap ngerempel di pojok kecil remang-remang di ruangan sejarah shalawat. Personel-personel KiaiKanjeng tetap anak Dipowinatan yang asyik dan selalu sangat meriah kegembiraannya. Plesetan dari hari ke hari, sampai dihajar oleh Tuhan di Mekah, karena ketika menjalankan Sa’i, Nevi tergoda untuk merespons setan Yoyok: apa plesetannya kata “Miqot”, dan Nevi tidak bisa menahan diri mengucapkan “Mi Kocok”. Akibatnya ketika bermiqat untuk umroh yang kedua, ketika mangangkat kaki berwudlu, kaki kirinya terkilir sangat parah, sehingga tidak bisa berjalan dan harus pakai penyangga difasilitasi oleh Mbak Novia Kolopaking, sampai balik ke tanah air beberapa bulan memakai “krek” itu. Kelak si Yoyok yang mensetani Nevi, dihajar juga oleh Tuhan, dan “krek”-nya Nevi beralih dipakai oleh Yoyok.

Lainnya