Kebon (46 dari 241)

Agenda Dajjal dan Burung Ababil

Foto: Adin (Dok. Progress).

Pergaulan atau kemiringan jarak atau plesetan cengkok atau juga jenis vibrasi antar nada melahirkan sejumlah kemungkinan yang membuat masyarakat salah sangka: “O itu lagu India”, “O, itu yang nyanyi Pasti Afro-American”, “O, kalau itu gelombang cengkok Turki, kalau ini Mesir”. “Jangan bernyanyi Barat atau mengaji Arab dengan cara keluarnya suara Sinden Jawa”. Padahal qua-nada, sebenarnya berbagai kemungkinan itu tidak langsung bisa dinisbahkan menjadi Barat, Arab atau Jawa.

Mbak Novia Kolopaking menyebut suaranya Yuli Astuti vokalis KiaiKanjeng dengan “keriting”. Tenggorokannya seperti ada hamparan batu-batu yang membuat laju suaranya naik turun secara ndrindhing sedemikian rupa — sebagaimana bakat khusus para pelantun lagu Melayu atau Dangdut. Kalau detail, sebenarnya ada perbedaan atau jarak lekak-lekuk antara Melayu dengan Dangdut. Orang tidak banyak memperhatikan. Bahkan kaum awam tidak bisa membedakan antara “suaranya enak” dengan “kemampuan berlagunya bagus”.

Anda perhatikan itu semua pada musik dunia, yang ranahnya dari misalnya Amerika Serikat, yang mainstream-nya “dikuasai” oleh para penyanyi Afro-American. Belum pernah diteliti oleh ahli manapun apa yang sebenarnya terjadi dengan “takdir Allah” yang menyangkut tekstur tenggorokan dan struktur saraf manusia yang bermacam-macam. Salah satu output-nya adalah “cengkok” yang dalam bahasa modern hanya dikenal dengan kata “vibration” atau vibrasi.

Cengkok atau jenis getaran penyanyi Afro-American sangat berbeda dengan penyanyi Dangdut, dan belum tentu mereka saling mampu menirukan. Pluralisme ciptaan Allah sampai sedetail itu. Adzan atau Qiro`ah dengan cengkok Turki sangat berbeda dengan Muadzdzin atau Qori` asal Mojokerto atau Jombang. Biarpun mereka sama-sama melantunkan satu jenis dari ragam genre Qiro`ah, Bayati misalnya, tetapi hasilnya sangat berbeda secara antropologis. Belum ada penelitian, tulisan atau buku tentang itu. Karena bisa jadi para ilmuwan, pengamat atau kritikus, tidak punya alat untuk mengeksplorasi dimensi-simensi suara manusia sampai ke detail-detail seperti itu. Barangsiapa mengalami ketakjuban menemukan detail pluralisme kemakhlukan ciptaan Allah dari wilayah manusia bersuara di berbagai belahan dunia, Allah sudah memandunya dengan ucapan “Robbana ma kholaqta hadza bathila”. Ya Tuhan tidak sia-sia Engkau menciptakan semua itu. Tetapi ayat itu duluan sampai ke telinga murid-murid Madrasah atau jamaah Pengajian, tanpa ada pelatihan dan pembiasaan untuk menelitinya.

Tanpa penelitian yang menghasilkan pengetahuan dan ketakjuban atas kehidupan, tak ada landasannya kita mengucapkan “Robbana ma kholaqta hadza bathila”, sehingga hampa juga tatkala meneruskan “SubhanaKa faqina ‘adzabannar”. Maha Suci Engkau, dan lindungilah kami semua dari neraka. Terbukti neraka tidak hanya mendaftari orang berdosa dalam urusan aqidah dan akhlaq, tapi juga orang-orang yang hidupnya berentang kemalasan dan sok tahu di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia musik Indonesia, bahkan dunia tilawatil Qur`an tidak tahu dan tidak pernah merasa perlu tahu banyak hal yang sebenarnya mereka sebaiknya tahu. Nia Kurniawati ikut KiaiKanjeng hampir 30 tahun, ia bershalawat bahkan mengaji Qur`an keliling dunia, termasuk pentas di London di hadapan Perdana Menteri Inggris dan para pejabat tinggi lainnya, tapi juga sampai ke pelosok-pelosok yang paling pelosok dari desa-desa tanah air, yang tidak satu grup musik pun pernah menyentuhnya.

Yuli hampir 20 tahun bersama KiaiKanjeng berkeliling sama dengan Nia, dengan tetap mengasuh pengajian anak-anak di Menturo Jombang, melaksanakan amanah wasiah Bu Chalimah. Suaminya Kepala Dusun, sehingga Yuli Nia dan siapapun saja personel KiaiKanjeng sama sekali bukan artis, bukan pelaku nilai, agama dan kebudayaan yang tinggal di tataran mewah kaum elit negeri ini. Mereka wong deso meskipun tidak semena-mena bisa kita sebut ndeso. Mereka penduduk kampung jauh, meskipun jangan tanpa hujjah mengategorikan mereka kampungan.

Justru kelemahan Yuli atau Nia atau semua vokalis KiaiKanjeng adalah bahwa mereka itu vokalis KiaiKanjeng, kaum Ghuraba`, orang-orang yang tinggal di daerah pengasingan pengetahuan musik, seni dan budaya para cerdik pandai di peta Indonesia modern. Mereka tidak berlaga di tata surya yang sama dengan Rita Sugiarto, Ike Nurjanah, bahkan juga tidak di benua Ida Laila. Meskipun Imam Fatawi kalau bernyanyi dangdut dan Melayu tidak bisa ditirukan oleh Doni atau Alay, tetapi Imam hanya vokalis suatu kelompok yang tersembunyi di pojok ruangan sejarah. Bahkan almarhum Zainul Arifin, yang fadlilah suaranya sangat khas dan sangat mudah populer, yang kemampuan musikalitasnya merangkum tradisi dan modernitas, yang khasanah Shalawatnya melebihi semua KiaiKanjeng yang lain, kelemahannya adalah dia vokalis KiaiKanjeng. Meskipun sebagai Qari`, Zainul maupun Nia menguasai berbagai kemungkinan di benua musikalitas ragam genre Qiro’ah: Bayyati, Shaba, Hijaz, Nahawan, Ross, Jiharkah, dan Syika — tetapi mereka hanya vokalis KiaiKanjeng. Mereka bukan penduduk kotaraya mainstream. Mereka “orang udik” sampai hari ini.

Yuli dan Nia tampil dalam forum di “Neil Teve” (broadcast sungai Nil) di Cairo bersama Syekh Al-Azhar, Rektor Universitas sangat tua dan terhormat. Bersama dua Marja’ Maiyah: Cak Ahmad Fuad Effendy dan Syekh Nursamad Kamba. Sesi itu bagian dari perjalanan panjang KiaiKanjeng di enam Provinsi Mesir dengan dialog berbahasa Arab fushhah dan gamelan Ummi Kultsum yang dikenang publik Mesir hingga hari ini. Gubernur Ismailia menampar mukanya sendiri dalam pidato sesudah pentas KiaiKanjeng: “Besok semua Kepala-Kepala Bagian Provinsi berkumpul di ruangan kantor saya. Kita dipermalukan malam ini. Ada tamu entah dari belahan bumi sebelah mana ini hadir menyampaikan pidato dan dialog dengan Bahasa Arab fushhah, yang kebanyakan rakyat dan kita semua sudah meninggalkannya karena mandek di Bahasa Arab ‘amiyah. Kita malu kepada tamu-tamu kita ini. Orang yang bahkan tidak pernah bersekolah di Negeri Arab, menunjukkan kemampuan bahasa Arab melebihi kita. Ditambah lagi lagu-lagu penyanyi Ummi Kultsum kebanggaan Mesir dan semua bangsa-bangsa Arab, dibawakan dengan alat-alat musik yang seperti datang dari planet di luar Bumi”.

Andaikan tidak ada kiprah dan agenda Dajjal yang disebut “Arab Spring” yang meghancurkan Afganistan, Irak, Libya, Suriah dan Yaman serta kemudian “burung-burung Ababil” yang ditaburkan dari langit amarah Allah kepada kelaliman manusia yang bernama Corona Virus Disease alias Covid-19: KiaiKanjeng sudah berkeliling di Afrika Utara, sampai Tunisia, Aljazair, meskipun Allah membawa mereka juga untuk pentas di Maroko.

Lainnya