Sinau Bareng Dadi Pelaku Surga

Pernahkah kalian dengar kosakata ini: pelaku surga? Saya mendengarnya kali pertama dari Mbah Nun, malam ini. Saya yakin semua hadirin dan jamaah di Lapangan Desa Sajen Trucuk Klaten juga baru kali ini mendengarnya.

Mbah Nun menyebut dua kata itu tatkala memulai Sinau Bareng malam ini dengan membaca ayat ke-20 surat al-Hasyr: La yastawi ashabun nari wa ashabul jannah. Ashabul jannati humul faizun. Biasanya terjemahnya: tidaklah sama ahli/orang yang masuk neraka dengan ahli/orang yang masuk surga. Mbah Nun beda memilih terjemahnya: Tidaklah sama pelaku neraka dengan pelaku surga. Pelaku surga adalah orang-orang yang beruntung.

Semua jamaah dan hadirin Mbah Nun harapkan bisa menjadi pelaku surga, tentu dengan jalan sinau dan terus sinau. Saya merasa ‘pelaku surga’ adalah istilah yang enak, tidak mengandung jari yang menunjuk ke orang lain hei kamu tidak masuk surga, lebih merengkuh sebanyak mungkin orang dari strata manapun, melepaskan diri dari judgment yang selama ini ada antara yang merasa alim kepada yang disangka tidak/kurang alim, bahwa semuanya bisa bersama-sama masuk surga.

Istilah itu juga memuat rasa bahwa surga bukan hanya nanti, tapi sekarang. Bahwa surga itu dikerjakan. Bukan ditunggu. Surga itu hidup dalam pekerjaan dan laku. Karenanya, kita perlu punya kesadaran bahwa ada pekerjaan-pekerjaan yang berbobot surga di dalam sehari-hari kita. Seneng-seneng sing Allah seneng adalah salah satu pekerjaan surga.

Ini catatan awal yang menurut saya penting. Pembaharuan keberislaman yang merupakan keharusan perlu dimulai dari menerobosi kebuntuan-kebuntuan istilahi yang telah mati dalam pemahaman maupun ilmu kita sehari-hari. Mbah Nun menyumbang penghidupan kembali istilah yang sudah karam itu. Sehingga, Islam hadir dalam rasa yang baru dan lebih hidup di hati kita, lebih menggerakkan kita, dalam cara yang lebih masuk ke hati.

Lapangan ini penuh jamaah dan masyarakat, dan mereka diajak menjadi pelaku-pelaku surga. Dari lapangan ini, tempat ribuan orang dari lapisan grassroot berkumpul buat Sinau Bareng, lahir tadabbur Mbah Nun atas ayat ke-20 surat al-Hasyr. Semuanya khusyuk, tapi juga senang. Dalam Sinau Bareng, khusyuk dan senang bukan berada dalam pertentangan, tetapi bersatu menjadi khasanah keislaman. (hm)