Sedekah Bumi Desa Padang

Manusia harus menghormati “kakaknya” yaitu alam semesta.
Manusia harus menghormati “kakaknya” yaitu alam semesta.

Dua malam lalu, Cak Nun dan KiaiKanjeng Sinau Bareng dan berjumpa masyarakat dan mahasiswa UPN Veteran Surabaya. Dari sisi utara pulau Jawa, bergeser ke pantai selatan. Tadi malam, Cak Nun dan KiaiKanjeng bersua masyarakat Tulungagung. Keduanya berlangsung hingga pukul dua dinihari. Dan malam ini, dari selatan Jawa kembali lagi ke utara, yakni di Kabupaten Bojonegoro.

Antusiasme masyarakat Desa Padang, Kecamatan Trucuk malam ini untuk Sinau Bareng Cak Nun sangat tinggi. Ketika bapak-bapak KiaiKanjeng tiba menjelang pukul sembilan di Lapangan Bendung Gerak lokasi Sinau Bareng di tepi Sungai Bengawan Solo ini, belasan ribu masyarakat telah memadati lapangan.

Sinau Bareng malam ini diselenggarakan dalam rangka Sedekah Bumi Desa Padang. Terkait tema ini, Cak Nun mengantarkan ilmu berpijak dari Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata. Pagar berpikir diberikan dengan membangun kesadaran asal muasal atau sangkan paran manusia. Diurut sejak diciptakan Nur Muhammad, Malaikat, Iblis, alam semesta, baru kemudian manusia. Bahwa dari urutan penciptaan itu, manusia adalah adik dari alam. Manusia Jawa menyadari alam sebagai kakak yang harus dihormati dan dihargai. Ini sangat perlu karena sebagai manusia Jawa hari ini dihadapkan pada tantangan kenyataan peradaban barat yang memandang alam sebagai objek yang seenaknya bisa dikuasai dan dieksploitasi bahkan dirusak.

Satu kunci ilmu lagi yang diberikan Cak Nun adalah untuk membuka pintu kesadaran hidup abadi.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image