Ruwahan, Menjaga dan Merawat Akar

Menjelang bulan Ramadlan menambah semangat dalam penyelenggaraan forum Maiyah rutinan SabaMaiya. SabaMaiya kali ini mencoba tempat baru yaitu Rumah KrinkKronk Mendolo Wonosobo. Letaknya di timur Wonosobo.  Menjadi sangat strategis untuk didatangi oleh para dulur-dulur SabaMaiya.

Diawali dengan tadarus surat Yasin oleh Ardiyansyah, dilanjut dengan penampilan musik Sinandhika akustik dengan membawakan beberapa nomor. Sholawat “Ya habibal Qolby” dilantunkan apik oleh grup rebana Sanggar Jagat Kahyangan (SJK). Pembacaan puisi karya Mbah Nun “Antara Tiga Kota” juga dibawakan menyelingi nomor lagu “Perempuan yang Sedang dalam Pelukan” oleh dulur SJK. 

Masih dari SJK menyambung dengan penampilan tari Kebo Giro. Sebuah gerakan tari yang kerap tampil pada pagelaran Tari Lengger di Wonosobo. Disambung dengan lakon gerak tari Gondosuli, menambah susana semakin gayeng. Lakon gerak tari ini ditadabburi sebagai mensimulasikan seorang pendekar yang sedang mencari jati diri serta tentang metode dalam menyikapi hidup. Karena hidup ini mengalir dan bergetar, maka bagaimana caranya agar kita mampu menyikapinya. 

Ketika masalah mendera, kita atasi dengan cara berjaga-jaga dan memasang kuda-kuda. Seperti yang diperagakan dalam gerakan lakon Gondosuli. Yang harus tetap siap serta ingat (eling) kepada Gusti Allah yang akan selalu menjamin setiap solusi bagi semua permasalahan. Kita hanya bisa fokus berusaha dan berikhtiar. 

Tepat pukul sepuluh, para penggiat SabaMaiya pun merapat ke panggung. Kang Ahmad memoderatori sesi kali ini dengan mempersilakan para penggiat sharing, dan berinteraksi dengan jamaah.

SabaMaiya malam itu sungguh penuh keberkahan. Terlihat dari wajah-wajah sedulur yang baru pertama kali ikut ngguyubi. Suasana menjadi khusyuk ketika sebelumnya sholawat Nariyah membumbung memenuhi rumah KringKronk. Selanjutnya Mas Zuhud mengawali sesi ini dengan membagikan oleh-oleh dan sharing pengalaman ketika mengikuti “Workshop Optimalisasi Organisme Maiyah” bulan lalu di Semarang.

Terkait tema, Kang Ahmad bercerita mengenai proses ruwahan di desa-desa. Kemudian memantik para jamaah untuk sharing tentang ruwahan. Tentang acara padusan atau mandi dengan mensucikan badan. Mensucikan diri menjelang ramadhan. Tetapi selama berjalan sampai sekarang, proses prosesi ruwahan kehilangan substansi dan esensinya sehingga tinggal Wah-nya saja.

Bermesraan dengan sedulur SabaMaiya, mas Joko Sidharta yang juga sebagai shohibul bait Rumah KrinKronk melantunkan beberapa nomor lagu Iwan Fals. Salah satunya nomor lagu “Kemesraan” yang diaransemen ulang dengan konsep akustik. Wajah-wajah sumringah pun terlihat ketika celetukan mas Joko Sidharta menyela penampilannya. Dengan menyelingi para jamaah yang masih berdatangan mengisi rumah KrinkKronk. 

Sedulur SJK pun unjuk gigi kembali dengan perform teater “Sugih Tanpo Bondho”. Suasana menjadi hening seketika terdengar tembang “Sugih Tanpo Bondho”. Jamaah pun ikut rengeng-rengeng. Tak hanya sampai di situ. Jamaah semakin dikagetkan ketika tembang “Sugih Tanpo Bondho itu dibawakan dengan versi reggae.

“Arti ruwah itu bermacam-macam. Seperti mengiringi, menyelamati (slametan) maupun ngopeni. Ngruwah sebenarnya bersuci atau prosesi yang disebut padusan atau mandi. Mandi adalah bersuci atau mensucikan dari jasmani maupun rohani. Yang pada dasarnya kita sucikan terlebih dahulu dari kesalahan-kesalahan. Agar nantinya ketika masuk pada gerbang Ramadlan, kita kita sudah benar-benar suci”, tutur mas Sofik singkat menyinggung tema.

Kang Farhan yang sering berkaitan dengan hal-hal klenik ikut urun rembug mengenai ngruwah. Ia bercerita pengalamannya ketika menyambangi kuburan dan tempat-tempat yang sering dimistiskan. Kang Farhan menggaris bawahi, “Sebenarnya klenik itu sesuatu yang belum kita pahami sehingga apapun yang belum kita pahami itu klenik. Dan saya sedang menjawab atas klenik-klenik yang ada di pikiran saya.”

“Perlu membedakan antara makam dan kuburan. Makam itu berisi orang, namun kuburan belum tentu berisi orang. Tapi bisa berisi pusaka, keris atau bisa berisi naskah. Itu merupakan bagian dari kebudayaan nenek moyang kita untuk menyimpan dan melindungi sesuatu yang penting. Dan untuk saat itu, menurut ukuran nenek moyang kita, tidak ada yang sanggup merawatnya. Sehingga itu menjadi simpanan dan deposit untuk anak cucu nantinya. Apakah kita menjadi anak cucu yang siap untuk menerima amanah keilmuan itu?”, tandas kang Farhan lagi.

Kemudian, Kang Farhan menuturkan mengenai konsep dalam bermaiyah. “Metode yang paling penting di Maiyah yang dibangun oleh Mbah Nun yaitu metode tadabbur. Metode yang terpacu untuk berbuat baik.” Uraian demi uraikan disampaikan yang juga menceritakan seputar konsep yang dibangun oleh kebudayaan Jawa. Yang salah satu contoh yaitu konsep lingga yoni. Konsep ini bermuatan nilai ketuhanan yang merasuk pada manusia bersifat rohani dan jasmani. 

“Cara merawat mata air misalnya. Dengan ritus sesaji atau tumpeng yang di dalamnya berisi beberapa ubo rampe. Atau elemen-elemen tertentu. Dan diadakan ritual setahun sekali atau bulan tertentu. Maka, orang akan melestarikan elemen-elemen yang diperlukan sehingga otomatis akan tetap lestari”, imbuh kang Farhan secara gamblang.

Waktu berjalan hingga akhirnya berganti hari. Hadirin ikut merespons, ikut sinau bareng. Lewat tengah malam itu, Gus Jay menyampaikan pandangannya, “Sebenarnya kata ngruwah dan kata arwah itu satu. Kalau istilah dalam bahasa Arab pada tahun hijriah itu Sya’ban. Tapi kenapa ketika pada bulan Sya’ban berganti menjadi ruwah?”

“Dalam tradisi ruwah, ada acara seperti nyadran dan berbagai istilah yang di dalamnya intinya mengirim doa kepada leluhur. Yang sebenarnya sebagai persiapan rohani untuk memasuki bulan puasa. Pada mulanya, lagu “E dayohe teko” merupakan terjemahan lokalitas yang sangat indah dari kecerdasan para leluhur kita. Jika dicari dalam keilmuan, itu merupakan penafsiran dari “Man fariha bidukhuli ramadlan harramallahu jasaduhu ‘alannironi”. Barangsiapa merasa bahagia menyambut datangnya bulan ramadlan dan menjalankan ibadah puasa, maka diharamkan jasadnya atas api neraka.”

Masih menurut Gus Jay, bahwa salah satu amalan menyambut bulan ramadhan adalah dengan nyadran. Mendasar secara rohani. Kita disuruh mengingat para leluhur. Yang semua ini ada dasarnya secara ilmiah. Namun  oleh orang sekarang ini dikit-dikit disebut bid’ah, klenik, syirik. Padahal semua berdasarkan hadits. Hanya saja para leluhur tidak kakean (kebanyakan) ndalil, tetapi dengan bahasa keluwesan.

Ternyata di dalam konsep Jawa kita tidak pernah meninggalkan unsur jasad dengan ruhani. Psikis harus nyambung karena kita terlahir dari orang tua yang menyambung rantai nasab. Dan para leluhur kita adalah akar. Sementara kita bagian pohon. Yaitu daun dan buah. Sedangkan pohon, daun dan buah, apapun tidak akan pernah tumbuh dengan baik ketika akarnya pun tidak di jaga dan diopeni.

Maka dalam istilah Jawa kita perlu mengenal, lajer, gleger, jejer. Lajer adalah akar gleger adalah kita ini dibentuk secara gen atau sosok jasadiyah fisik.  Sedangkan jejer adalah mata rantai atau bisa diibaratkan “buah tak jauh dari pohonnya”, dan pada puncaknya nasihat paling indah adalah Kematian.

Nomor “Terlalu Manis” terlantun oleh Sinandhika Akustik. Dengan berkolaborasi dengan mas Joko Sidharta menjeda sesi diskusi. Berbagai respons pun beragam dari jamaah seputar tema malam itu, dari merespons ngruwah, ngrumat arwah, tradisi ngruwah yang hanya wah-nya saja, sampai menyinggung masalah mata rantai nasab.

Sebelum respons-respons itu ditanggapi, kang Ahmad mempersilakan teman-teman SJK untuk menambah kehangatan suasana dan menambah kemesraan. Dengan membacakan puisi dengan ending ‘bedhes’.

Ngruwah atau ngrumat arwah bukan pada profesi dan posisi. Tetapi pada kebaikan-kebaikan yang ditinggalkan. Nah, kira-kira leluhur kita mengetahui apa tidak ketika kita melakukan suatu keburukan? Kita tidak berbicara profesi maupun posisi namun lebih berbicara pada nilai. Karena itu kita perlu untuk selalu mengingat leluhur. Sebab ketika kita berbuat buruk, kita tidak berani. Karena leluhur kita merupakan orang-orang yang baik.

Seringkali di Maiyah menyebut kita ini ditandur pelem tapi tukule jambu. Memang menjadi sesuatu yang aneh. Karena itu jika kita tidak atau belum bisa melakukan kebaikan seperti leluhur, paling tidak kita tidak melakukan keburukan. Sehingga tidak membuat isin atau malu para simbah-simbah kita.  

‘’Fungsi dari berziarah mendatangi kuburan ada tiga hal. Pertama adalah iling atau mengingat kematian. Kedua adalah mengirim doa. Dan ketiga adalah ngalap berkah (tabbarukan). Dan berangkat dari hal ini puncaknya adalah malu ketika kita tidak ‘peka’ dengan suatu hal’,’ pungkas Gus Jay.

Pukul 02.30 SabaMaiya ditutup dengan dipungkasi do’a oleh Gus Jay, dilanjutkan dengan bersalam-salaman dengan diselingi tembang Lir-Ilir. Sedulur-sedulur pulang membawa oleh-oleh pendaran cahaya yang ditiupkan oleh malaikat-malaikat-Nya. Tak lupa mereka juga menabung rindu untuk bisa hadir kembali di SabaMaiya edisi berikutnya. (Khusni)