Mencari Ageman di Ambengan

Catatan Majelis Maiyah Dusun Ambengan, 15 Desember 2018

Sudah 40 edisi Ambengan hadir ber-Sinau Bareng di sebuah dusun. Berbekal ke-istiqomahan, Ambengan selalu mengusahakan kepada semua Jamaah untuk mecari ageman yang sejati. Benar-benar bisa dijadikan sangu untuk mati. Karena, Mbah Nun pernah mengingatkan, bahwa kita jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati.

Sehingga, dari satu edisi ke edisi yang lain, pegiat selalu menyiapkan segala kebutuhan agar Ambengan menjadi salah satu tempat sinau, sinau dan terus sinau. Bukan menjadikannya sebuah kuil pengultusan, monumen kehebatan, atau meluapkan hasrat keduniawian. Juga bukan untuk mengusahakan seorang manusia dengan segudang piala, tapi bersama-sama menjadi manusia yang tidak akan dimurka.

Tagar #MaDes mengisi sebagian ruang media maya malam itu. Kutipan-kutipan dicuitkan dan di-retweet oleh sebagian jamaah media maya. Mas Angger, moderator bedah tema, juga memulai Ambengan kali ini. Age[man]. Laki-laki berambut gondrong itu mempersilahkan Pak Salam, Pak Sulis, dan Mas Jefri untuk memantik menuju pembahasan. Ketiganya, bergantian mencoba membabar ageman dari berbagai sudut pandang.

Pak Salam, usia 50-an, seorang Jamil (Jaulah Milenium-begitu sebagian pegiat memesrainya), menitiktekankan bahwa ageman adalah ssuatu yang harus dimiliki setiap manuasia untuk memproteksi dirinya dari gangguan dari luar. Ia menceritakan tokoh-tokoh Jawa hingga kondisi masa kini. Ia ingin mencontohkan dan mengajak serta para jamaah mencari ageman-nya. Agar selamat menjadi seorang manusia. Mengenakan peci Merah Putih Maiyah, beliau berusaha nguri-uri budaya Jawa, terutama keluhuran-keluhuran budi manusianya.

Begitu juga dengan Pak Sulis, beliau mencermati ageman dari dua bahasa. Pertama Jawa, kedua Inggris. Dengan keseriusannya, beliau sangat mengharapkan seluruh jamaah yang hadir untuk memiliki ageman yang bisa membawanya menuju kebahagiaan.

Malam ini, Ambengan dihadiri oleh Komunitas Rumah Musik Babe, dari Purbolinggo, Lampung Timur. Personelnya masih dalam usia sangat muda, kelahiran abad 21. Generasi Z. Mereka menyuguhkan 4 lagu dan 1 lagu kolaborasi Deen Assalam bersama sesepuh Maiyah, Pakde Mus, yang mengiringi dengan keyboad. Disambut tepuk tangan sepanjang mereka membawakan lagu.

Memasuki pukul setengah 11, Mas Angger mengakhiri sesi bedah tema dan mempersilakan kepada Cak Sul untuk kemudian membersamai jamaah. Malam itu, selain jamaah rutin, hadir jamaah yang baru pertama kali hadir. Dari Tanjung Bintang Lampung Selatan dan Seputih Raman Lampung Tengah. Yang mengejutkan, Jamaah dari Seputih Raman ini, sebelumnya berasal dari desa Diwek, Jombang. Dan sebelum boyong ke Lampung sering mengikuti maiyahan Padhangmbulan di Mentoro, Jombang.

“Kami mendapat informasi telpon dari sedulur Jombang bahwa di Lampung ada Maiyah Ambengan. Berbekal petunjuk telpon itu kami datang dan alhamdulillah malam ini bisa ketemu tempatnya,” tutur Mas Raka yang menjadi karom (kepala rombongan).

Sejak awal kehadirannya, jamaah dari Seputih Raman ini memang telah menyita perhatian. Mereka datang dengan satu mobil dan puluhan sepeda motor. Bahkan rombongan ini menyertakan juga para ibu dan anak-anak Malik (Maiyah Cilik). Sementara yang muda-muda berpenampilan gondrong dan berpakaian sekenanya khas gentho-gentho.

Kemudian bermaksud menyatakan adanya kesamaan gelombang dan frekuensi dengan Maiyah. Dikatakan mas Raka, bahwa di Seputih Raman–berjarak 60-an kilometer dari lokasi Maiyah Ambengan, mereka sudah memiliki jam’iyah rutinan bernama Kembang Seruncing.

“Ora iso menilai orang teko sandange. Antara serius dan guyonan menyatu, ikulah kenikmatan. Di dalam ber-Maiyah kita semua dipersatukan dengan dan karena cinta. Kita salurkan sholawatan ke dalam hati kita,” ajak Cak Sul besholawat sebelum narasumber lain membagi dan mengelaborasi kemesraan malam itu.

Sebuah shalawat Assalamualaik dibawakan Jamus Kalimosodo sebagai pembuka hati untuk mendapatkan cahaya-cahaya kehidupan. Jamaah berpeci, bertopi, berblangkon, berudeng-udeng, ikut serta melantunkan itu. Setelahnya, Cak Sul mengajak serta Pakde Mus, Pak Camat Metro Kibang, Mas Dwi Riyanto, dan Mas Maryono. Masing-masing narasumber memberikan kemesraannya kepada jamaah yang sedari tadi menikmati lemet, bakwan, dan kopi. Cak Sul berperan memandu dan mengatur lalu lintas itu.

Pak Camat Metro Kibang, Edi Hernowo yang selalu hadir setiap Ambengan, pada gilirannya berbicara, “Hanya di sini saya seorang camat biasa dipisuhi, tapi gak papa, malah saya bahagia. Saya kalau gak dateng ke sini sekali saja, banyak yang disesali. Saya sangat senang hadir di sini, banyak manfaatnya. Saya pesen: ajak teman-teman kesini.” Ucap pak camat dengan penuh tawa dan bersambut tepuk tangan semua jamaah.

Selanjutnya, Mas Dwi Riyanto, mantan aktivis HMI menambahkan, “Pakaian (ageman) atau libasun, di dalam Al-Qur`an surat Al-A’raf itu mencerminkan akhlak, atau alat yang membedakan manusia dengan hewan.

Di sesi diskusi, mas Raka, jamaah yang dari Seputih Raman tadi, bertanya tentang perbedaan ageman dan gegaman.

Kemudian, Pakde Mus mengungkapkan bahwa gamelan Jamus itu juga gaman, sama seperti KiaiKanjeng, pemukulnya itu kiai. “Mengapa? Karena seluruh waktu dan hidupnya dicurahkan digunakan untuk keindahan-keindahan. Diatur dalam suatu nada, yang semuanya tadinya terusik, menjadi ayem, sejuk, penuh jiwa persaudaraan. Jadi, ageman itu, ruh kita, siji dirumat, agar bisa kembali ke Allah Swt.”

Pak Arif, dari Polsek Metro Kibang memberikan pesan agar jamaah lebih cerdas dan hati-hati di arus media digital ini. “Kita harus meminimalisir berita-berita hoaks yang bertebaran di media yang ada di HP kita masing-masing,” tutupnya.

Cak Sul juga merespons bahwa setiap jamaah harus bisa memageri diri dari informasi-informasi yang digoreng oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. “Kita bersyukur punya kesadaran memagari diri dari perusakan kaum Ya’juj Ma’juj, tau gak? Ya’juj Ma’juj itu suatu periode sejarah manusia perusak yang memorak-porandakan peradaban. Nah, ageman ini berusaha disinauni sebagai pelindung keadaan itu,” jelas Cak Sul.

Seorang anak muda bernama Icad dari Bandar Lampung, dan baru pertama hadir ke Ambengan menyatakan, tergerak ikut Maiyahan dari sumber googling dan membaca buku-buku mbah Nun. Sedangkan mas Handoyo, dari Tanjung Bintang mengatakan selama ini mengikuti Maiyahan melalui YouYube. “Saya jamaah YouTuber mbah Nun,” papar mas Handoyo.

Tak berselang setelah semua narasumber menyambung rasa seluruh jamaah dengan kemesraan-kemesraannya, Pak Salam melantunkan sebuah Kidung Rumekso Ing Wingi milik Kanjeng Sunan Kalijogo. Semua meresapi dan mengendapkan kidung ke dalam hati:

Ono kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing Lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe olo
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirto
Maling adoh tan ono ngarah ing mami
Guno duduk pan sirno
Sakehing loro pan samyo bali
Sakeh ngomo pan sami mirudo
Welas asih pandulune
Sakehing brojo luput
Kadi kapuk tibaning wesi

Agar kelembutan malam ini, dapat menjaga perahu Indonesia tidak akan retak, dan menjaga kelembutan hati kita, sebuah nomor karya Mbah Nun yang dipopulerkan Franki Sahilatua, Perahu Retak disuguhkan Jamus. Kemudian dilanjut Mahalul Qiyam meng-‘komai’ Ambengan edisi ke-40 untuk menuju Ambengan-Ambengan selanjutnya.

Buku Cak Nun