Hidup Lebih Bernyawa

Genap 20 bulan sudah Tuhan memperkenankan saya menyelami bagian lain dari luas BumiNya, 20 bulan tinggal di Jerman. Sebelumnya pada tahun 2014 setelah beberapa waktu mengenal Maiyah dan banyak membaca buku-buku karya Mbah Nun keinginan untuk ke Luar Negeri itu sempat hilang. Bukan karena apa, tapi memang Indonesia dan segala budaya peninggalan leluhur Nusantara lebih menarik untuk diselami.

Apalagi pada tahun 2015 sempat dipertemukan dengan Kakak berdarah Sunda di Maiyah. Si Kakak ini punya “tiket ekslusif” masuk ke jenjang studi Master Perguruan tinggi mana pun di Negeri Kanguru, tanpa usaha yang berarti dan pasti bakal dapat kursi. Tidak habis pikir ternyata ia lepas kesempatan “emas” yang banyak dinantikan anak-anak muda di berbagai pelosok Indonesia itu. Ia pun memilih studi Master di dalam negeri.

Orang-Orang Maiyah itu sangat spesial. Bahkan ada yang menuliskan Dongeng Gila dari Negeri Maiyah. Tapi ini bukan dongeng. Mereka dengan kesadaran penuh menempuh sela-sela jalanan sunyi. Jalan sunyi dari hingar bingar kapitalisme dan materialisme duniawi. Hidup mereka sudah selesai dengan dunia. Mereka ruhanikan semua harta dan ilmunya dengan alasaan cinta untuk masa depan Negeri yang lebih baik. Namun cinta mereka bukanlah cinta biasa. Cinta mereka berasas segitiga. Antara Allah Swt, Kanjeng Nabi Muhammad saw dan para hamba.

Dalam 20 bulan berjalan, langkah demi langkah, waktu demi waktu hanya berisi syukur tiada tara. Terlahir di bumi Indonesia, berbangsa Jawa dan beragama Islam. Saya tidak bisa membayangkan jika dulu Tuhan menakdirkan saya sebagai orang Jerman. Apakah saya akan menemukan Islam? Apakah saya akan menemukan eksistensi Tuhan? Apakah saya percaya akan surga dan neraka? Apakah saya akan menemukan tugas, tujuan dan makna hidup saya? Apakah saya akan tahu dari mana saya berasal? Akan ke manakah saya pergi? Berapa lama saya hidup? Apa yang terjadi setelah kematian?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu akan selalu menghantui setiap jiwa yang berpikir. Pencarian makna kehidupan pun banyak ditempuh, meskipun orang harus mempelajari semua agama. Mengarungi perjalanan panjang pindah dari negeri Arab, India, ataupun Vatikan untuk menemukan jawabannya. Namun tetap, sejatinya perjalanan itu ada di dalam hati manusia.

Nikmat Iman

Betapa nikmatnya dibesarkan di negeri yang sila pertama dasar negaranya berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Di mana kesadaran akan adanya Tuhan berperan paling vital dalam kehidupan. Jika manusia percaya adanya Tuhan, tentu ia akan sangat berhati-hati dalam setiap gerak-gerik lakunya. Bahkan bisa jadi tidak perlukan petugas pencatat kesalahan ataupun dosa, pengadilan, hakim dan sebagainya. Sebab manusianya memiliki iman, percaya bahwa Tuhan melihat dan akan membalas semua tindakannya semasa numpang hidup yang sebentar di Bumi.

Beberapa waktu lalu Mbah Nun menuliskan dalam Daur:

Kamu masih mantap untuk tidak percaya kepada Akhirat? Sudah finalkah persangkaanmu bahwa sesudah mati dikubur hidupmu selesai tanpa ada semesteran berikutnya? Kamu kan modern, mosok nggak tahu artinya The Judgment day? Kenapa kamu menjalani hidup dan membangun Negara dengan anggapan bahwa Akhirat tidak ada? Bahwa kamu bisa membolos dari scenario Qadla dan Qadar? Pernah kamu membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Munkar, Nakir, Raqib, Atid dan terutama Malaikat Malik, sesudah sepanjang hidupmu di dunia kamu menganggap mereka tidak ada.” –Daur II-298Wahai Do

Kita bukanlah bangsa yang terbelakang. Hanya saja rasa “Minder, Rendah, Tertinggal dari Negara Barat” terlalu besar bercokol dalam hati kita yang kemudian menyempurna dengan warisan pendidikan yang sengaja dibentuk agar bangsa ini nggak “maju-maju”. Dalam ranah global dunia, tenaga kerja, mahasiswa dan orang-orang Indonesia di manapun berada selalu dinilai ramah oleh orang luar.

Selagi Tuhan sebagai mula dan akhir dan kita bisa menilai dengan kasat mata mana bangsa yang maju dan terbelakang. Jangan hanya perhatikan kemajuan teknologinya, perhatikan pula moral dan sisi sosial psikologis masyarakatnya. Sebab sehebat apapun perkembangan teknologinya selama banyak moral bertentangan dengan aturan Tuhan, tinggal kita tunggu waktu saja sampai titik terendahnya. Apakah manusia mampu menyaingi Mahakarya Tuhan?

Maka pesan Leluhur Jawa di masa lalu ialah elingo sangkan paranmu. Ingat dari mana dirimu berasal. Jangan melupakan Sejarah. Sejarah dirimu juga bangsamu. Jika kau buka ke belakang sejarah bangsamu maka ketinggian peradaban itu akan terlihat dengan cemerlang. Bagaimana leluhur kita memperlakukan tanah, berlaku pada air, menghormati orang tua, guru agama, membuat berbagai ramuan, ilmu titen dalam segala medan,  menciptakan cita rasa masakan nusantara yang tiada bandingannya. Manusia hidup dengan tenteram tanpa merusak alam, saling gotong royong bukan budaya instan seperti sekarang yang hanya mementingkan uang. Kerakusan, kapitalisme global yang sedang berada di panggung dunia hari ini berapa lama lagi akan bertahan?

20 bulan terdampar, 20 bulan pula berinteraksi dengan warga Jerman. Segala keteraturan hidup sudah ada di sini, dari teknologi dari mobil terbaru, kompor listrik, robot pembersih debu, dan banyak lainnya. Semua orang sudah hidup nyaman, bahkan mereka membantu para pengungsi dari Timur Tengah agar bisa sejahtera di Jerman. Segala tunjangan kehidupan tercukupi, jika demikian yang terjadi kita bisa melihat bagaimana daya juang masyarakatnya?

Kesimpulan saya sependek ini: orang-orang yang berjuang di Tanah air itu memiliki daya juang lebih tinggi, hidup yang lebih bernyawa, hidup yang lebih hidup. Karena kesempatan nafas, ruang dan waktunya benar-benar digunakan secara maksimal untuk berjuang bagi kemaslahatan masyarakat di sekitarnya.

Baden Wurttemberg, Jerman
30 Desember 2017

Genap 20 bulan sudah Tuhan memperkenankan saya menyelami bagian lain dari luas BumiNya, 20 bulan tinggal di Jerman. Sebelumnya pada tahun 2014 setelah…