Gema Tuturut Munding

Catatan Majelis Maiyah MaSuISaNi Bali, 28 September 2018

Pada malam 28 September 2018, Umah Wisanggeni kembali menjadi tempat kebersamaan bagi semua makhluk yang berkenan singgah sementara, untuk menyelami kembali kedalaman diri di dalam menjalani proses pencarian akan kemurnian dan kesejatian hidup pada satuan nuansa kehidupan. Kebersamaan ini selalu tersaji dalam aura persaudaraan yang membentuk ruang kemesraan bernama MaSuISaNi, di mana pada malam ini telah memasuki periode ke-7. Oleh karena ruang sudah terbentuk, maka waktu akan menjadi satu kesatuan esesensi yang tak terpisahkan dan saling berkesinambungan dalam kemanunggalan wadah realitas dan peristiwa kehidupan. Dan seperti sebelumnya, pukul 20.30 WITA selalu menjadi penanda bagi kita untuk memulai sebuah ruang diskusi Maiyah.

Malam ini kita mengambil tema dari sebuah ungkapan budaya yaitu “Tuturut Munding”, sebagai bahan dasar yang akan diolah secara empiris dalam kesadaran diri manusia atas ungkapan tersebut. Tidak seperti sebelumnya, di mana kita dibawa ke dalam alam dimensi kesadaran ruhani diri manusia. Pada tema kali ini, kita lebih mengarah pada pemahaman kondisi kejiwaan seseorang dalam sebuah perjalanan kehidupan di antara proses dan dinamika interaksi sosial manusia.  

Dalam sebuah perspektif kultural, “Tuturut Munding” adalah salah satu hasil dari kekayaan intelektual sebuah kebudayaan tradisi tutur bahasa masyarakat Sunda, yang di dalam pemaknaanya memiliki nilai filosofi yang berasal dari interaksi pemahaman manusia dengan alam, kemudian tersaji menjadi diksi yang khas dalam sebuah perspektif seseorang atas estetika perilaku manusia. Ungkapan “Tuturut munding” itu sendiri merupakan sebuah perpaduan dari dua kata “Tuturut” yang bermakna Ikut-ikutan dan “Munding” yang bermakna Kerbau. Tetapi untuk memperoleh pemaknaanya, kita tidak bisa menafsirkan dengan memilah unsur-unsur yang membentuknya.

Dilihat dari sisi psikolinguistik dalam memahami sebuah ungkapan/idiom, kita tidak bisa melepaskan diri dari sejarah yang dialami oleh suatu kebudayaan masyarakat tersebut. Kita harus memiliki pengetahuan dan informasi yang mendasar dengan konstruksi cara berpikir di mana ungkapan tersebut berasal. Agar kita mendapat satu sudut pemahaman yang lebih objektif, baik dari segi historis maupun dari sisi literasi kulturalnya. Sehingga kita tidak terjebak dengan ambiguitas pemaknaan di luar konteks penggunaanya.

Dalam kebudayaan masyarakat Sunda, “Tuturut Munding” memiliki makna suka ikut-ikutan atau plagiat, di mana dalam perilaku orang tersebut tidak memiliki satu pendirian atas kesadaran dirinya sendiri. Dipandang dari sudut peranannya, ungkapan tersebut digunakan pada dimensi pemaknaan perilaku manusia dalam konteks yang Negatif. Bahwa sebuah perilaku dapat dikatakan “Tuturut Munding”, ketika seseorang melakukan sesuatu hal yang berdasar pada informasi dari luar dirinya, tanpa terlebih dahulu melakukan sebuah analisa, metode penelitian, serta hipotesa secara mendalam atas hal tersebut. 

Batasan dari ungkapan itu sendiri memiliki gradasi pada skala hasil dari perilaku seseorang. Pada satu sisi “Tuturut Munding” ditujukan ke dalam sebuah peristiwa, ketika seseorang “ikut-ikutan atau meniru” atas sesuatu hal yang berdampak kerugian bagi orang lain. Kemudian di sisi yang lain, meskipun “Tuturut Munding” tidak merugikan orang lain, perilaku tersebut tetap berdampak negatif pada kepribadian pelaku itu sendiri, karena seseorang yang melakukan hal tersebut tidak memiliki atensi pada dirinya sendiri atas apa yang dilakukanya.

Sebagai wadah literasi budaya, ruang diskusi Maiyah kali ini dihidupkan dengan rangkaian gagasan, argumen dan pemahaman yang berbeda-beda. Setiap dari kita dapat bebas untuk mengemukakan pendapat dan bereksplorasi dengan berbagai referensi keilmuan hingga berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri. Oleh karena kebenaran itu bersifat relatif, maka makna tema dalam Maiyah kali ini akan berkembang selaras dengan mengikuti bergeraknya kesadaran jiwa-jiwa yang menghidupinya. Pola interaksi kultural seperti ini kemudian menjadi warna tersendiri dalam sebuah proses dan upaya pembelajaran yang melatih kita untuk selalu berada pada titik keseimbangan baik personal maupun kolektifnya. 

Tetapi dalam Maiyah kali ini, letak pokok bahasanya bukan terletak pada ungkapan “Tuturut Munding” dari segi akademis kognitifnya saja. Melainkan terletak pada eksistensi manusia sebagai subjek, dengan dinamika cara berpikir dan skala kesadaran pemahaman yang telah mengalami penurunan atas kepekaan dan kepercayaan dirinya sendiri. Perilaku “Tuturut Munding” itu sendiri hanyalah salah satu dampak dari disorientasi cara berpikir manusia dalam memandang sebuah perjalanan kehidupan, yang kemudian tanpa disadari berkembang menjadi sebuah kebiasaan dan sering kali mengeras menjadi prasangka dogmatis.

Indikasi dari disorientasi cara berpikir yang dapat kita lihat dalam perilaku manusia sekarang adalah mereka sudah kehilangan kontrol atas kesadaran dirinya sendiri. Adalah mudah untuk menjadi salah dan tersesat di dalam kepala kita sendiri. Sehingga kita menjadi manusia yang berkecenderungan hanya mengatakan kepada orang lain atas apa yang kita tahu, bukan berdasar apa yang mereka butuhkan dan hanya sedikit sekali mendengarkan di luar apa yang orang lain katakan. Oleh karena proses “introspeksi diri sendiri” yang tidak dikedepankan dalam kerangka menemukan pikiran-pikiran yang otentik. Kita menjadi lebih mudah dikendalikan dan mengikuti pemahaman yang berasal dari luar diri kita sendiri, yang lebih berorientasi kepada siapa yang benar, bukan kepada apa yang benar. 

Sebagaimana fenomena era sekarang ini, kita menyadari bahwa bukan hal mudah untuk menumbuhkan suatu kesadaran dalam diri, di tengah kondisi di mana kita kesulitan mencari sebuah keteladanan dan menentukan sosok panutan dalam menjalani dinamika kehidupan dengan kompleksitas yang semakin kritis. Secara tidak langsung, berpengaruh pada cara berpikir dan perilaku kita untuk mengikuti pola interaksi sosial dan arus pemahaman dominasi global, yang sering kali kita ditarik di dalam perdebatan sempit perihal substansi dengan sudut pandang yang linear atas kebenaran yang subjektif. Sehingga kita menjadi lupa akan pentingnya memahami “Nilai” dalam sebuah proses dan dialektika kehidupan. Kemudian kita secara tidak sadar sedang mengalir dan terjebak di dalam aliran kesadaran yang berasal dari luar diri kita sendiri.

Oleh karena itu, kita harus menyadari dan berusaha mengidentifikasi kelemahan diri sendiri, untuk menemukan hal-hal apa saja yang tidak mampu untuk kita lakukan. Sehingga di tengah ketidakmampuan, kita memperoleh pengetahuan mengenai keterbatasan atas diri kita sendiri. Berpijak dari pemikiran ini, bahwa jika kita sadar atas keterbatasan, maka kita akan memberi ruang bagi kesadaran untuk memperbesar kemungkinan dan mengetahui peluang-peluang atas apa yang kita mampu lakukan. Yang pada akhirnya, kita dapat berdaulat atas diri sendiri dalam mengembangkan potensi yang tertanam serta membentuk cara baru dalam mengapresiasi berbagai sisi kehidupan.

Dalam hal ini, sesungguhnya disorientasi cara berpikir manusia sekarang adalah terletak pada sikap mendewakan rasio secara berlebihan dalam mencari kepastian objektif. Pendewaan ini secara perlahan mereduksi kepekaan diri manusia atas adab, hati nurani, serta nilai-nilai mutlak dalam memandang estetika perilaku manusia yang dinamis dan kita menjadi manusia yang apatis atas kemampuan intuisi dalam memahami hakekat kehidupan yang luas. Sehingga kita menjadi manusia yang tidak mampu menemukan nilai-nilai ruhani di balik perilaku manusia yang beragam. Bahkan saat ini, gagasan mengenai eksistensi Tuhan sudah tidak lagi mampu berperan sebagai sumber primer dari semua aturan moral dan adab perilaku manusia, dan menolak keyakinan akan suatu hukum alam atas keterkaitan Tuhan dalam kesadaran ruhani sebagai pijakan paling inti dari kesadaran diri manusia. 

Hal yang penting dalam Maiyah kali ini adalah kita harus berani kembali menggali diri lebih dalam untuk memasuki dimensi yang lebih mendasar, hingga menemukan satu pijakan kesadaran ruhani untuk selalu berada pada titik keseimbangan dan kemurnian berpikir. Sehingga kita dapat selalu menyesuaikan dan menyelaraskan diri pada setiap sisi-sisi yang terjadi dalam dialektika kehidupan. Dan apapun yang keluar dari diri kita, merupakan satu pemahaman yang berasal dari keotentikan kesadaran diri kita sendiri. Yang pada akhirnya akan menciptakan sebuah nuansa keindahan dan keharmonisan hidup di antara kita dengan Ia, kita dengan semesta dan kita dengan Tuhan.   

Maka temukanlah dirimu di dalam dirimu, hingga dirimu menemukan kenikmatan untuk menikmati dirimu sebagai dirimu.

Buku Cak Nun