Bareng-bareng Ngrembuk Gambang

Pada Jumat-Sabtu (16-17/03/2018) Jannatul Maiyah Gambang Syafaat dan simpul Maiyah di Jawa Tengah mengadakan acara bertajuk “Rembuk Gambang”. Acara ini diadakan untuk mengencangkan tali-tali simpul Maiyah yang tersebar di sekeliling Gambang Syafaat. Semua jamaah berkumpul, berembuk, urun gagasan untuk menentukan jalan Jannatul Maiyah Gambang Syafaat ke depannya.

Kang Hajir memulai acara dengan menjelaskan bahwa ada bagian-bagian di Gambang Syafaat yang harus dikoordinir setiap bagian kerjanya. Pembagian kerja ini tidak didasari pada perintah atau penunjukan langsung. Jamaah dipersilakan suka rela mengisi bagian kerja yang sesuai dengan minat atau keahliannya. Menurut Kang Ali Fathan, cara ini dilakukan dengan niat fardlu kifayah. Semua bergerak dengan kesadaran kewajiban masing-masing. Bukan karena ada yang memerintah dan yang diperintah. Harus ikhlas. Sebab, kata Kang Ali, bagaimana Gambang Syafaat berjalan itu prinsipnya “dari kita, untuk semua, oleh semua.”

Selama delapan belas tahun berjalan, Gambang Syafaat diisi oleh manusia yang memiliki keahlian yang beragam. Keahlian ini ke depannya tidak hanya untuk dimiliki sendiri. Namun, bagaimana caranya agar jamaah-jamaah yang memiliki keahlian di bidang masing-masing bisa menyalurkannya ke jamaah lain. “Gambang Syafaat yang bertugas menampung dan menjembatani kemungkinan jamaah yang ingin infaq ilmu,” kata Kang Hajir.

Agar proses infaq ilmu berjalan dengan baik dan terorganisir dengan rapi, Kang Monti mengusulkan agar Gambang Syafaat membuat litbang (penelitian dan pengembangan) untuk mengatur proses infaq ilmu. Pendataan para jamaah yang memiliki keahlian tertentu harus dilakukan untuk memudahkan kita melakukan kegiatan transfer ilmu antar jamaah. Kang Ali menambahkan litbang itu bisa terbagi dalam bagian: buletin/portal, pasar, lokakarya, wirausaha, pendidikan praktis, kesenian dan kebudayaan.

Ekonomi Maiyah

Saat mengisi di Gambang Syafaat pada 25 Februari lalu, Mbah Nun mengatakan, ”Sepuluh tahun dari sekarang Indonesia akan memimpin perekonomian global. Ning dudu gonmu!”. Merujuk pada pernyataan ini, “Rembuk Gambang” mengerucut pada bab ekonomi Maiyah. Yang lainnya untuk sementara “disisihkan” dahulu. Sebab, ekonomi Maiyah ini yang paling pas untuk menyambut pernyataan Mbah Nun. Temanya masih anget untuk dirembuk. Selain itu, para jamaah Maiyah Gambang Syafaat dan simpul lainnya paling siap menggarap bagian ini.

Jamaah Maiyah Gambang Syafaat yang tersebar di pelbagai kota diusahakan bisa menjadi jembatan dari kebuntuan ekosistem perekoniman yang tidak sehat. Menurut Kang Ali, salah satu cara melawan pasar yang tidak sehat, kita harus membuat pasar sendiri. Ide ini pun lalu memunculkan pertanyaan dari para jamaah, bagaimana caranya kita menciptakan pasar sendiri?

Kang Jion menceritakan pengalamannya yang bisa memberi gambaran bagaimana jamaah bisa menjadi jembatan dari hubungan tengkulak dan petani yang tidak adil. Dan, bagaimana bisa menciptakan pasar sendiri agar pasar-pasar tidak melulu dikuasai para tengkulak licik.

Kang Jion menceritakan dirinya di Maiyah Gugur Gunung sudah melakukan itu. Ceritanya diawali oleh Kang Patmo (Sekjen Maiyah Gugur Gunung) yang orang tuanya menjadi petani salak. Harga salak di pasar sekilo delapan ribu. Sedangkan para tengkulak membeli salak dari para petani seribu lima ratus. Keadaan ini menyebabkan petani salak sangat dirugikan. Kang Patmo dan Kang Jion lalu bersepakat lewat jejaring Maiyah Gugur Gunung memutuskan mengkulak salak dari para petani salak. Lalu mereka berdua membantu menjualnya kembali. Proses jualnya pun melibatkan masyarakat umum dan jamaah Maiyah lain.

Kang Jion mengkulak salak dari petani sekilo seharga dua ribu dan menjualnya sekilo lima ribu. “Tak undaki rego 500 rupiah wae, aku ning kono disambut koyo rojo. Disogati panganan sing reno-reno rupane,” Kang Jion menceritakan pengalamannya saat kulakan salak. Kebetulan sehari sebelum Kang Jion hadir di Rembug Gambang, beliau baru saja kulakan salak di Muntilan.

Apa yang dilakukan Kang Jion dan sedulur Maiyah Gugur Gunung bisa memberi gambaran kita bagaimana peran nyata jamaah Maiyah di tengah proses jual beli yang tidak adil. Jamaah Maiyah harus hadir di tengah proses ketidakadilan itu dan membantu petani agar tidak menjadi santapan para tengkulak licik. Kita harus percaya, sebagaimana yang pernah dinyanyikan Efek Rumah Kaca, “pasar bisa diciptakan”.

Kang Ali juga turut menceritakan salah satu produk yang bernama “Arisan Kacung.” Produk ini diciptakan oleh Semak (Sedulur Maiyah Kudus). Penjelasan teknisnya dari “arisan kacung” sebagaimana yang diceritakan Kang Ali kurang lebih seperti ini: sepuluh orang berkumpul dan iuran setiap orang seratus ribu. Jumlah uang terkumpul berarti satu juta. Sebagaimana arisan, sepuluh nama yang iuran itu dikocok dan yang keluar namanya maka ia harus membelanjakan kebutuhan orang sembilan tadi. Seumpama iuran dilakukan bulan Maret, uangnya diberikan pada bulan April. Orang yang keluar namanya akan menjadi kacung untuk sembilan orang yang lain. Dan sisa uangnya akan menjadi uang “dana abadi” jamaah.

Pukul setengah dua dini hari. Mas Sabrang akhirnya menepati rencananya untuk menyambangi jamaah Maiyah yang sedang ngrembuk Gambang. Tidak ada prolog panjang yang diucapkan Mas Sabrang mengingat waktu beliau sangat terbatas. Kang Ali langsung menceritakan ulang kepada Mas Sabrang apa saja yang sudah dirembuk sedulur-sedulur Maiyah.

Saat mendengar cerita bab “arisan kacung”, Mas Sabrang menanggapi, ”Apik kuwi, iku podo karo awake dewe gak entuk sapi tapi gak kelangan susune.” Beliau mengatakan tidak mau buru-buru bicara soal ekonomi Maiyah karena persoalan ini masih dalam proses pematangan konsep. Namun, beliau memuji langkah-langkah para jamaah yang sudah melakukan terobosan di bidang ekonomi Maiyah dan tidak akan menghalangi langkah jamaah.

Maiyah bukan organisasi tapi pola kerjanya terorganisir. Kang Ali mengatakan, jamaah Gambang Syafaat dari sekarang kerjanya sudah harus struktural. Artinya pola pembagian kerja dan siapa yang mengerjakan harus jelas. Sedangkan Mas Sabrang menambahkan, ”Struktural bukan urusan atasan-bawahan. Pembagian kerja ini metodologi untuk bergerak.” Di Maiyah, kita tidak buru-buru untuk bergerak. “Lebih baik pelan tapi pasti, daripada cepat tapi kepeleset di tengah jalan,” kata Mas Sabrang.

“Rembuk Gambang” pada kali ini telah mematangkan ide yang belum matang, mengonsep yang belum dikonsep, mengoordinir yang belum terkoordinir. Rancangan Jannatul Maiyah Gambang Syafaat beserta simpul-simpul Maiyah di sekitar Gambang Sayfaat telah memetakan apa yang harus dilakukan dan apa yang akan dilakukan.

Gambang Syafaat sudah merencanakan wadah infaq ilmu, entah itu ilmu desain, tulis-menulis, fotografi, dan video. Lalu di lini lain, jamaah Gambang Syafaat bersiap memasang kuda-kuda untuk menyiapkan diri, membangun pasar sendiri, dan membangun ekonomi Maiyah.

“Rembuk Gambang” merumuskan langkah-langkah ini dalam rangka mewujudkan apa yang sering dikatakan Mbah Nun. Kita harus berdaulat pada diri sendiri, berdaulat di tanah sendiri. Menjadi ahli di bidangnya masing-masing. (Muhammad Yunan Setiawan)

Pada Jumat-Sabtu (16-17/03/2018) Jannatul Maiyah Gambang Syafaat dan simpul Maiyah di Jawa Tengah mengadakan acara bertajuk “Rembuk Gambang”. Acara ini diadakan untuk mengencangkan tali-tali simpul Maiyah yang tersebar di sekeliling Gambang Syafaat. Semua jamaah berkumpul, berembuk, urun gagasan…