CakNun.com

Cukuplah Cinta Mbah Nun kepada Kami sebagai Pereda

Dua tahun yang lalu, di Gambang Syafaat tepatnya pada edisi 25 Oktober 2019 Mbah Nun menyampaikan, “Harus kamu timbang manfaat dan mundorotnya, jika kamu menderita karena Maiyah, atau karena hal-hal yang kamu dapat dari Maiyah maka hentikan saja.”

Hal tersebut disampaikan oleh Mbah Nun setelah ada salah seorang jamaah bertanya kepada Mbah Nun, dia takut apa yang dia sampaikan dari apa yang dia dapat di Maiyahan kepada masyarakat itu bisa membuat citra Mbah Nun buruk dan citranya buruk. Pada saat itu Mbah Nun menjawab bahwa bagi Mbah Nun hal itu tidak masalah, tetapi jika itu membuat Anda menderita maka hentikan saja.

Kemudian Syaikh Kamba yang saat itu berada di samping Mbah Nun menyampaikan sebuah cerita tentang Nabi Ibrahim. Ia yang saat itu disuruh Allah untuk memanggil umat dari penjuru dunia untuk datang beribadah di Ka’bah. Ibrahim berkata, “Suaraku melewati tebing-tebing saja tidak terdengar”. Kemudian Allah berkata, “Panggilah, Aku yang akan menyampaikan ke seluruh dunia”.

Apa yang kita pelajari di Maiyahan kita yakini sebagai kebenaran. Kebenaran yang kita yakini tersebut memang belum tentu sejalan dengan pendapat umum, bahkan mungkin sering bertentangan. Tetapi sebagaimana kisah Ibrahim di atas maka kita selayaknya menyampaikan saja. Sampai atau pun tidak sampai pesan itu adalah urusan Allah.

Demikian pula etos merawat forum Maiyah Gambang Syafaat yang kini telah berusia 22 tahun. Sama sebagaimana disampaikan oleh Mbah Nun di Gambang Sayafaat, bahwa hidup ini bagaikan pohon. Gambang Syafaat ini bagaikan pohon. Tugas kita hanya merawatnya, menyirami, memupuk, dengan kesungguhan. Hasil atau buah dari tanaman itu adalah hak Allah. Kita tidak perlu berkecil hati jika mungkin kurang berhasil dan tidak boleh berbangga berlebih jika panen berlebih.

Di banyak kesempatan dengan berbagai analogi dan dalil Mbah Nun selalu menyampaikan tentang berfokus dan sungguh-sungguh pada proses dan tidak perlu memikirkan hasil karena hasil adalah hak Allah. Apa yang disampaikan Mbah Nun tersebut seolah adalah pematah dari tesis Muhtar Lubis tentang ciri manusia Indonesia. Bahwa manusia Indonesia itu memiliki mental menerabas, laku ingin cepat sampai tujuan dengan menghalalkan segala cara.

Kesungguh-sungguhan adalah sifat Rasulullah yang pertama. Siddiq, sungguh-sungguh, kemudian karena sungguh-sungguh maka kita dipercaya (amanah), kalau kita dipercaya kita punya kompetensi untuk menyampaikan (tabligh), dan akhir dari disiplin kita maka kita akan menjadi fathanah. Begitulah jalan maiyah.

Kesunguhan itu pulalah yang menginspirasi kami dalam memomentumi Gambang Syafaat 22 tahun. Forum ini telah menjadi rumah dengan banyak pintu yang semua terbuka. Melalui pintu-pintunya siapa saja boleh masuk sesuai dengan karateristik dan kecenderungannya. Juga boleh ikut merawat rumah itu. Memasuki rumah itu adalah jalan menuju Allah.

Tema “Seribu pintu satu rumahnya” kami pilih menjadi tema milad kali ini karena begitulah Maiyah yang kami pahami.Seribu pintu satu rumahnya bisa diartikan bahwa untuk menuju kepada Allah itu bisa melalui banyak pintu. Bisa pula diartikan bahwa kita harus memiliki pemikiran yang menyeluruh. Bukan sebaliknya satu pintu seribu ruangnya sehingga masuk dengan satu cara untuk di bagi-bagi lagi, dipecah-pecah lagi sebagaimana pendidikan kita, musik, dan lain-lain.

Pada momentum Milad ini pula, kami menyusun buku dengan judul yang sama dengan tema. Buku itu berisi tentang pengalaman persentuhan pengiat Maiyah tentang Gambang Syafaat.

Hal terpokok dari Allah adalah kasih sayang, begitu berulang disampaikan oleh Mbah Nun. Jika Allah menunjukkan kekuatannya, kebesarannya, kekuatannya tiada lain karena alasan kasih sayang itu. Di Maiyah, di Gambang Syafaat merambat kasih sayang Allah itu dengan kesadaran.

Jika sebagaimana yang kami sampaikan di atas, “Jika kamu menderita, berhenti saja.” Maka kami dengan segera menjawab, kami tidak menderita Mbah Nun. Mungkin memang dalam perjalanannya tetaplah ada sedikit-sedikit luka, tapi sungguh itu amat sangat tidaklah seberapa. Cukuplah Cinta Mbah Nun kepada kami sebagai Pereda.

Lainnya