Media Sosial sebagai Panggung Sandiwara

Gambang Syafaat edisi 25 November 2020
Gambang Syafaat November 2020

Sebulan terakhir, lalu lintas informasi di media sosial sangat masif. Informasi yang berbentuk kata, gambar atau video, baik valid maupun hoax . Ada beberapa informasi yang bahkan sempat menyebabkan kekacauan di tengah masyarakat. Dampak dari mudahnya seseorang menyampaikan informasi tanpa melalui proses filter. Ini menunjukkan jika di era digital, siapapun bisa menjadi narasumber atas permasalahan apapun.

Forum silaturahmi Maiyah Gambang Syafaat edisi 25 November 2020 mengusung tema ‘Banter-banteran Bengok’ .  Dalam Bahasa Jawa, terlebih di Semarang, banter artinya cepat atau keras bergantung konteks. Bengok maknanya berteriak atau berbicara dengan keras. Tema ini bisa diartikan secara sederhana dengan ‘keras-kerasan berteriak’. Berteriak yang bagaimana? Banter yang seperti apa?

Gus Aniq memberi tanggapan pertama terhadap tema. Di dunia realita, bengok direpresentasikan melalui mulut. Kalau di media sosial sekarang diwakili oleh jempol. Ada semacam pergeseran sebab-akibat mengenai bisik-bisik atau ngrasani . Dulu, bisik-bisik tidak didengar orang lain. Hanya dua orang dan sekitarnya yang mengetahui. Berbeda dengan sekarang. Ketika orang yang berbisik-bisik mengenai satu bahasan tertentu melalui media sosial, dapat langsung menyebar diketahui banyak orang.

Keterjebakan seseorang dalam keramaian di dalam media sosial dapat menjadi penyebab bagi dia semakin menjauh dari Tuhan. Bagaimana bisa? Banyak teori fisika berangkat dari algoritma siang, menyebabkan munculnya komponen-komponen berbasis siang. Nusantara memiliki kebiasaan berbeda, di mana orang nusantara menganut fisika berbasis malam. Orang nusantara percaya jika kita dapat lebih mendengar titah-titah Tuhan melalui keheningan. Keheningan yang dimaksud tidak hanya secara fisik.

Khasanah nusantara sudah memiliki pandangan jauh terhadap masa depan. Peradaban nusantara terlebih Jawa, lebih mengedepankan membangun jati diri. Biasanya ada kebiasaan tapa, ngenik, wirid atau dzikir. Tujuannya untuk mengenal diri sendiri dan tugas diri sebagai apa. Sehingga pertanyaan abadi manusia yang tidak akan pernah berakhir, ‘siapa aku?’

Seseorang yang telah mengenal jati diri, dia tidak akan mudah heboh atas realitas di media sosial karena berada di luar dirinya. Sejatinya luar itu bangunan dari pengabaian diri di dalam. Hampir setiap detik ada informasi baru di media sosial. Jika dikejar, dimasukkan semua ke dalam diri, seseorang akan jenuh karena tidak ada ujungnya.

Mas Daniel mengatakan bahwa keriuhan hari ini berawal dari kejumawaan. Orang sekarang lupa dengan kata-kata leluhur, ‘semakin berisi, semakin merunduk’. Kebenaran yang terlihat absolut menjadi peluang keriuhan. Ruang-ruang kecil seperti Maiyah dapat menghadirkan kesadaran bahwa manusia makhluk kecil dari rangkaian alam semesta. Tempat diskusi publik perlu semakin digelombangkan kehadirannya. Agar membuat kita saling terpana, menghargai dan menghormati satu sama lain.

Pak Nurdin membuka prolog dengan bernostalgia mengenang masa lalu. Beliau bercerita pengalaman awal pertama kali bertemu Mbah Nun dan mengikuti maiyahan.  Di Maiyah beliau menemukan banyak hal. Salah satunya, semua orang di Maiyah bisa berposisi menjadi apapun. Satu waktu mungkin menjadi guru/narasumber, di lain waktu menjadi santri. Beliau mengungkapkan jika bengok zaman sekarang bisa melalui mulut secara langsung dan lewat perantara jari-jari.

Ada perbedaan besar antara media masa lalu dan di era digital. Smart phone seperti pisau bermata dua. Dapat menjadi alat menuju neraka dan  surga, bergantung penggunaannya. Ghibah dan fitnah menjadi hal yang paling banyak dijumpai di media sosial. Banyak berita yang sering dibumbui untuk menambah daya tarik pembaca tanpa memikirkan akibat jangka panjang ke belakang.

Gambang Syafaat November 2020

Penyebaran berita-berita hoax yang massif menjadi ciri-ciri post modern culture . Sebagai lanjutan dari industrial culture . Ciri khas dari industrial culture ini adalah berdirinya industri-indutstri dalam jumlah besar.

Terkait berita-berita yang beredar di media sosial, Pak Nurdin menyarankan agar tidak terlalu serius menanggapinya. Orang-orang yang terlibat dalam pemberitaan bagaikan aktor yang sedang pentas dan mencari panggung. Masing-masing membawakan karakter sendiri-sendiri dan bisa berganti peran sesuai alur ceritanya. Kita hanya perlu menganggapnya sebagai hiburan semata. Selalu waspada dan bertindak hati-hati dalam menggunakan media sosial, menjadi cara paling utama untuk menghindar dari keburukan yang ada di dalamnya.

Lainnya

Buku dan Merchandise