CakNun.com

Gambang Syafaat Milad Ke-24 Bersama KiaiKanjeng

Dok. Gambang Syafaat

25 Desember 2023, Komunitas Maiyah Gambang Syafaat Semarang genap berusia 24 tahun. Acara milad yang bertajuk “24 Tahun Merawat Asa” digelar di Masjid Agung Jawa Tengah, tepatnya di pelataran sisi barat dekat area replika Ka’bah. Alhamdulillah, perayaan usia yang setahun menjelang usia perak ini dibersamai oleh Pakde-Pakde KiaiKanjeng. Juga hadir turut membersamai adalah Mas Sabrang MDP dan Pakde Mustofa dari Lampung.

Acara dimulai sekitar pukul setengah delapan malam dan dibuka oleh penampilan hadroh RISMA MAJT (Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah) dan beberapa yang datang dari Demak. Selanjutnya, sesi satu diisi dengan dialog antara para penggiat Gambang Syafaat yang berbagi cerita dengan para jamaah yang hadir tentang bagaimana komunitas Gambang Syafaat berproses untuk menyiapkan acara ini.

Mas Duwi dan Mbak Ayunda sebagai perwakilan dari penggiat Gambang Syafaat. Mereka berdua adalah penggiat muda yang bersama-sama dengan penggiat lainnya melakukan berbagai persiapan, terhitung sejak sebulan sebelum terselenggaranya acara milad ini.

Sesi pertama ini benar-benar mewakili pemaknaan dari tema yang diusung, yaitu Merawat Asa. Kang Muhadjir Arrosyid sebagai sosok yang sudah banyak makan asam-garam dalam membersamai Gambang Syafaat hingga usia ke-24 tahun ini ikut serta dalam sesi pertama. Sebagai orang yang sudah lebih dahulu menjalani berbagai proses di Gambang Syafaat, Kang Hadir membagikan pengalaman dan harapan pemacu semangat secara khusus pada penggiat muda Gambang Syafaat, dan secara umum pada seluruh jamaah Maiyah yang hadir.

Sementara itu, Mas Duwi dan Mbak Ayunda berbagi cerita tentang bagaimana setiap tantangan harus dihadapi dalam menyiapkan acara kali ini. Sebagai penggiat muda, tentunya akan menambah kesegaran tersendiri di komunitas. Ide-ide kreatif, energi, waktu, dan pemikiran, demi mengupayakan kelancaran milad harus dikontribusikan. Biarpun begitu, sama sekali tak ada balutan keluh ataupun kesah yang terpancar dari wajah mereka. Segala suka duka dibagikan dan diceritakan dengan penuh rasa gembira. Dalam komunitas ini para penggiat belajar tidak hanya melakukan sebuah kebaikan, namun yang lebih penting dari itu yaitu bagaimana memiliki kemampuan untuk menikmati atas perbuatan kebaikan yang dilakukan.

Dok. Gambang Syafaat

Dialog semakin lengkap dengan kehadiran bapak-bapak yang sering menjadi pengisi agenda rutin Gambang Syafaat setiap bulannya, yaitu Pak Saratri, Pak Ilyas, dan Gus Aniq. Para narasumber mengungkapkan pembahasan dengan esensi yang senada. Asa yang telah menyala selama 24 tahun ini seolah-olah tak akan pernah mati. Percik-percik muda yang dipertemukan dengan doa dan harapan dari dewasanya pengalaman seakan-akan memperoleh pijar baru untuk senantiasa memancar lebih luas.

Pada akhir sesi ini, dilakukan pemotongan tumpeng oleh para penggiat, narasumber, dan perwakilan dari Pakde-pakde KiaiKanjeng. Mata acara ini merupakan sebuah simbolisasi bahwa Gambang Syafaat akan terus dirawat melalui kebersamaan yang dibentuk dari harapan banyak orang hingga mampu melalui tahun-tahun berikutnya lagi.

Milad Gambang Syafaat ke-24 ini juga disambangi oleh penggiat simpul-simpul Maiyah lain di sekitar Semarang, seperti Blora, Rembang, Demak, Salatiga, Purwokerto, Jepara, dan lain-lain. Mereka ingin turut menjadi saksi bahwa eksistensi Gambang Syafaat senantiasa menjadi poros dalam menebar inspirasi.

Pakde-pakde Kiai Kanjeng mulai naik panggung sekitar pukul sembilan malam. Alunan musik fenomenal mereka memancar dan terbinar pada wajah-wajah jamaah Maiyah yang memenuhi area panggung dan sekitar. Pada salah satu nomor yang dipentaskan KiaiKanjeng, Pakde Joko Kamto ikut membacakan dua puisi, satu puisi karya Mbah Nun, dan satu lagi puisi karya Cak Zakki yang ditulis khusus milad ke-24 Gambang Syafaat. Berikut ini karya Cak Zakki tersebut:

Lainnya