Letto hadir pada awal segmen membersamai Jamaah Mocopat Syafaat dengan sejumlah interkasi lagu, simulasi, dan paparan konseptual.
Letto hadir pada awal segmen membersamai Jamaah Mocopat Syafaat dengan sejumlah interkasi lagu, simulasi, dan paparan konseptual.

Ini malam Mocopat Syafaat untuk bulan September 2017. Semua jamaah, dengan dorongan masing-masing, sudah pada nglumpuk duduk manis di komplek TKIT Alhamdulillah Kasihan Bantul.

Kita rasakan di dalam diri mereka senantiasa ada kerinduan buat selalu datang ke Mocopat Syafaat. Magnet itu kuat tertanam. Apa sih yang mereka dapatkan dengan datang ke sini? Apa pula yang diberikan oleh beliau-beliau yang ada di panggung? Interaksi macam apa yang terbangun dan dicipta di antara para guru dan jamaah ini?

Jawabannya bisa bermacam-macam, apalagi kalau kita deret satu per satu setiap jamaah bicara. Setiap sajian dan persembahan, ekspresi dan jalinan ikatan, selalu menghadirkan sesuatu yang beda, baru, dan kaya. Malam ini saja pada segmen awal, Jamaah diajak menikmati musik kata-kata “lucu” oleh Jodhokemil. Habis itu langsung disambung oleh Mas-Mas Letto. Di sini Mas Sabrang tak cuma bernyanyi tapi juga mewedar sekaligus memandu sesi ini. Kesempatan diberikan kepada Jamaah buat melontarkan pertanyaan.

Para Jamaah adalah pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh hidup sehingga pertanyaannya juga mendalam. Ada yang mengajukan pertanyaan tentang ruang dan waktu. Ada yang berpikir dan bertanya: sebenarnya kita sedang bergerak maju atau mundur. Untuk merespons pertanyaan-pertanyaan teman-teman Jamaah, Om Sabrang menghadirkan beberapa simulasi. Dari sini, Ia menyampaikan paparan tentang bias dan batasan dalam menyerap informasi. Juga tentang proses kreativitas. “Manusia selalu menyimpan bias dalam dirinya, sehingga merasa telah mengetahui sesuatu adalah jebakan yang sangat berbahaya,” kata Mas Sabrang.

Mocopat Syafaat 17 September 2017