Interaksi Pak Tanto Mendut dengan Maiyah

Kali ini Pak Tanto Mendut ajak anak asuhnya “Centini Gunung” dan “Sendal Jepit” hadir mempersembahkan sajian di Mocopat Syafaat.
Kali ini Pak Tanto Mendut ajak anak asuhnya “Centini Gunung” dan “Sendal Jepit” hadir mempersembahkan sajian di Mocopat Syafaat.

Sosok Pak Tanto Mendut tentu tak asing bagi Jamaah Maiyah. Ia seniman sangat merdeka, struktur logikanya suka aneh dan mengejutkan atau kerap bikin lucu, tapi ia bukan seniman an sich. Ia menggerakkan masyarakat desa di kaki lima gunung di Magelang untuk berkarya, berkesenian, hidup berjiwa seni untuk memuliakan alam, dan ia lakukan semua itu tanpa pamrih.

Komunitas Lima Gunung adalah komunitas besar yang Ia ikut mengasuh, nuwani, dan mendorongnya terus-menerus untuk mencintai kehidupan melalui seni. Rutin mereka mengadakan festival kesenian. Sudah sejak lama Pak Tanto bersentuhan dengan Cak Nun dan Maiyah. Komunitas Lima Gunung pun beberapa kali diajak hadir dan tampil di Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta, dan saat Ihtifal Maiyah di Jombang.

Saat Cak Nun membabar konsep Tadabbur dan Silmi, Pak Tanto merasa sangat cocok dan klop. Bahasa yang pas, Ia semacam mendapat eureka dengan dua terminologi itu. Dan ia merasa itu saja sudah cukup buat menjalani hidup, termasuk dalam berkesenian.

Tak hanya merintis, menjaga dan nguri-nguri, Pak Tanto juga melatih kader-kader baru atau mencari bentuk-bentuk baru. Malam ini persembahan “Centini Gunung” dan “Sandal Jepit” yang banyak anak-anak muda adalah generasi baru yang diasuh Pak Tanto. Malam ini mereka diajak Pak Tanto ke Mocopat Syafaat. Mereka hadirkan puisi, gerak, tari, musik, dan narasi-narasi yang dipungut dari realitas keseharian maupun realitas media sosial.

Jamaah dan para pemain Timnas U-19 menikmati penampilan mereka. Dan ketika sudah mau selesai, Cak Nun tak ingin mereka segera mengakhiri. Cak Nun ajak mereka tetap berdiri dan sebuah workshop kecil dipandukan buat mereka: olah ekspresi wajah, kemudian perlahan ditambah gerak tangan, lalu kaki dan seluruh tubuh.

Lalu perlahan dilibatkan irama musik. Kemudian masuklah lirik Gundul-Gundul Pacul, Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran hingga akhirnya jadilah gerak dan lagu yang asyik. Tidak hanya sampai di situ, Cak Nun lantas membubuhkan pesan sederhana mengenai tempo, yakni tentang ngegas dan ngerem gerakan. Selaras dengan pentingnya ilmu ngegas dan ngerem dalam hidup.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image