Kita harus belajar maqamat, belajar kontekstualisasi diri di depan orang lain, dan jangan hanya pandai ekspresi-ekspresi diri atau eksistensi diri.
Kita harus belajar maqamat, belajar kontekstualisasi diri di depan orang lain, dan jangan hanya pandai ekspresi-ekspresi diri atau eksistensi diri.

Bangsa kita sedang mengalami masalah cukup serius tapi tak tampak oleh mata, karena menyangkut cara berpikir, persepsi akan posisi atau penempatan, dan keseimbangan antar banyak hal dalam pikiran kita.

Maka belajar kembali adalah keniscayaan. Sinau Bareng malam ini adalah nyicil memenuhi “kewajiban” sejarah ini di tengah mungkin tak semua orang sadar akan situasi itu. Sinau Bareng yang bertajuk “Satuhati, Waspodo!” ini diselenggarakan oleh Honda bekerja sama dengan Relegi Malang dan Politeknik Negeri Malang dan digelar di lapangan Kampus Polinema. Di tempat ini hampir setiap tahun sejak 2012, Mbah Nun dan KiaiKanjeng datang ke sini. Tahun ini saja sudah dua kali.

Problem yang dikemukakan Mbah Nun di awal ternyata berkaitan ke banyak hal. Salah satunya adalah kewaspadaan. Bagi Mbah Nun, waspada itu ada beberapa jenis: mata, pikiran, hati, ilmu, dan lain-lain. Kita selama ini tidak waspada. Telinga kita tidak punya kepekaan dan kemampuan mendengar. Ibaratnya, orang yang tahu mesin berbeda dengan orang yang tak tau mesin. Yang tahu mesin dengan mendengarkan suara mesin saja sudah tahu ada kesalahan di mana pada mesin itu.

Itu salah satu saja yang dicontohkan Mbah Nun. Contoh kasus lain adalah kini kita makin tidak bisa menempatkan diri di depan orang lain atau orang banyak. Mbah Nun memberikan contoh dan tawaran menarik, kalau kita bilang “Saya Indonesia, Saya Pancasila” itu berisiko seakan-akan yang bukan saya bukan Indonesia dan bukan Pancasila. Kalimat itu tidak salah, tetapi kurang pas maqamat atau penempatannya. Alternatifnya, Mbah Nun menyarakan: “Kita Indonesia, Kita Pancasila”. Ini satu contoh kontektual saja. Maka, para jamaah diajak belajar maqamat atau belajar kontekstualisasi diri di depan orang lain, dan jangan hanya pandai ekspresi-ekspresi diri atau eksistensi diri.

Pada bagian awal saja, Mbah Nun telah membawa jamaah, yang sebagian besar adalah mahasiswa dan generasi muda, menelusuri detail titik-titik problem yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, khususnya berkaitan dengan situasi politik di Jakarta. Dari soal ketidakwaspadaan, salah penempatan kebenaran diri, kesadaran memahami majma’al bahroin, hingga kecenderungan kita untuk suka menjadi ‘tuhan’ dan ‘mentuhankan’ siapa saja yang kita suka.

Sinau Bareng Satuhati Waspodo!