“Sayangnya, hukum alam dalam ilmu pasti masih belum mampu kita terapkan dalam wilayah kehidupan dan kebudayaan kita.”
“Sayangnya, hukum alam dalam ilmu pasti masih belum mampu kita terapkan dalam wilayah kehidupan dan kebudayaan kita.”

Jakarta. Satu dari sekian kota paling sibuk di Indonesia. Belum cukup kering retakan isu-isu politik, kini Jakarta — juga tempat-tempat lain — baru saja dihujani isu Ransomware yang cukup mengusik ketenangan para engineers Ibukota.

Imbasnya, hari kemarin tak sedikit kantor-kantor menutup akses internetnya. Tetapi, apapun kicauan dalam bulatan Jakarta, tak sedikit pun bisa ditunda panggilan batin para Jamaah Maiyah Kenduri Cinta untuk kembali melingkar dalam gelembung cahaya.

Meskipun karena satu dua hal Kenduri Cinta bulan ini digelar di hari Senin, 15 Mei 2017, bukan hari Jumat minggu kedua seperti biasa, tak sedikit pun berubah pemandangan di pelataran TIM, Jakarta. Pukul 20.00 WIB, sekitar seratus Jamaah Maiyah sudah mulai melingkar dan membacakan wirid Ta’ziz – Tadzlil – Tahlukah.

Angin berhembus sepoi-sepoi. Cuaca cerah Ibukota tadi malam semakin menambah kekhidmatan para jamaah Kenduri Cinta. Terasa sebagai magnet tersendiri, belum juga genap satu jam, sekitar tiga ratus jamaah sudah terlihat memadati area panggung Kenduri Cinta.

Panggung itu menjelma magnet berdaya tarik kuat. Belum juga genap satu jam, sekitar 300 jamaah sudah terlihat memadati area panggung Kenduri Cinta. Tampak mereka siap mengolah hati dan pikiran, sembari menyimak Takfiri Versus Tamkiry yang akan disinauni bareng. Jumlah itu terus bertambah mengisi jengkal ruang yang ada.

Mbah Nun hadir di tengah-tengah mereka. Kehadiran yang menambah daftar panjang kegiatan Beliau di bulan Mei ini sesudah perjalanan Sinau Bareng di Jawa Timur di dua minggu pertama bulan ini.

Mbah Nun berbicara tentang kebenaran. Bukan hanya kali ini saja tentunya. Mbah Nun mengingatkan kita akan kebenaran yang sejati, “Yang kita cari adalah kebenaran yang sejati.” Sementara manusia secara software dan hardware sangat lemah untuk mengakses kebenaran yang sejati. Sehingga yang terjadi adalah saling bertengkar satu sama lain. Karena semua merasa paling benar sendiri.

Kebenaran bisa dikategorikan menjadi tiga. Kebenaran sendiri, kebenaran bersama, dan kebenaran sejati. Kebenaran sejati inilah yang harus terus kita upayakan. Karenanya, kita pun harus dinamis, terus bergerak, dan mencari. Jangan mentang-mentang sudah menemukan kebenaran bersama, lalu berhenti mencari kebenaran sejati, sebab ini akan menghalangi kita menuju Yang Sejati.

Yang berlangsung kemudian adalah “Kebenaran bersama (demokrasi) menceraikan dirinya dari kebenaran sejati.” Dan ketika sudah merasa paling benar, kita pun akan sangat mudah dibentur-benturkan.

Manusia hari ini dididik menjadi manusia yang sombong. Alam semesta hanya dianggap sebagai alat, bukan makhluk Tuhan yang harus disinergikan. Padahal, jika berkaca pada Bhinneka Tunggal Ika, semua harus kita terima. Baik, buruk, semuanya harus kita terima. Untuk kemudian kita olah, agar bisa mencapai tatanan yang jauh lebih indah.

Seperti halnya listrik yang mampu mengolah sisi positif dan negatifnya. Hingga bisa menghasilkan cahaya-cahaya lampu yang memberikan penerangan. Dan sayangnya, hukum alam dalam ilmu pasti seperti ini yang masih belum mampu kita terapkan dalam wilayah kehidupan dan kebudayaan kita.

Kebersamaan diskusi, sentuhan rasa, pertalian emosi, dan paseduluran batin di Kenduri Cinta semalam berlangsung dalam aliran yang hangat dan erat. Bobby and friends, grup musik dari Jakarta pun turut mewarna suasana.

Melihat permasalahan yang kita hadapi selama ini, Mbah Nun mengingatkan jamaah akan janji Tuhan dalam kitab suci-Nya. Bahwa Dia tidak akan pernah membebani di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Kita pun tidak diperkenankan berharap pada yang selain-Nya. Karena pasti kita akan kecewa. Dalam Al-Quran pun sudah jelas. Faidza faraghta fanshob wa ilaa robbika farghab. Hanya pada Allahlah seharusnya kita berharap.

Majelis Ilmu Kenduri Cinta Mei 2017